PUISI DI GERBANG SENJA
Engkau lahir dari rahim suci
Perempuan tanpa gincu
Engkau beruntung dapat berenang
Pada lautan ketuban ibunda
Disongsong bumi
yang dibalut kemiskinan
Engkau terus tumbuh karena ada
cinta
Dan pengorbanan di ruang bumi
Dari hati yang iklas
Dan tangan yang perkasa
Engkau beruntung dapat
mengarungi waktu
Di rentang perjalanan dalam asupan kasih
Engkau disusui oleh pemilik
cinta
Dan disuapi pengabdi ciptaan
Tuhan
Ia yang membiarkan darahnya
Mengalir pada denyut jantungmu
Ia yang tiada henti
bersenandung
Ketika kau menangis di kelam
malam
Tanpa menggodamu dengan
setumpuk boneka
Dan engkau tertidur di
gendongannya
Engkau beruntung ada di sebuah waktu
Ketika tangannya yang legam
Menggenggam erat jemarimu yang
mungil
Menuntunmu di jalan setapak
Menyusuri bukit ilalang
Ketika usiamu harus sekolah
Mereka tahu menoreh sejarah
Karena engkau harus punya masa depan
Kehidupan setelah mereka pulang
Engkau dipatuknya dengan bahasa
bijak
Agar tak lelah mengejar impian
Berlari seperti kuda jantan di
tengah padang
Sambil mengibarkan bendera
kemenangan
Karena mereka mau engkau menjadi mosa laki*)
Yang menopang nama besar
Leluhur yang hidup
Dan mewariskan kehidupan serasi
Mereka telah mengantarmu ke
gerbang senja
Setelah itu engkau akan
menyaksikan
Mataharimu yang akan semakin
redup
Bulanmu akan semakin suram
Dan bintangmu akan segera padam
Lalu kau akan digugat
Kau menulis kata bijak apa saja
Di dinding-dinding bukit dan lereng-lereng gunung
Dan di bentangan pasir putih
seribu pantai
Atau kau sedang menebar kata-kata laknat
Yang menjelma menjadi mata
pedang dan tombak
Dan orang-orang berlaga
saling membantai?
Aku ingin senjaku seputih salju
Dan bait-bait yang mengalir
dari ujung pena
Adalah melodi kehidupan
Yang membuatmu tersenyum
Dan engkau dapat berkisah pada
waktunya
Bahwa aku pernah ada dan
membuatmu tertawa
Di tengah bumi kehidupan yang keras.***
Denpasar, 25 Mei 2016
Pada angka keramat “59”
Komentar
Posting Komentar