CERPEN - 1
Ayahku
Cerpen:
Agust G. Thuru

instagram.com/pascalcampionart/
Seandainya
ayah memiliki selembar hati putih mungkin perasaan dengkiku padanya tidak
seperti yang kualami sekarang.Seandainya mata hati ayah tidak buta pasti ia
akan melihat penderitaan mama yang harus membesarkan delapan anak sendirian.
Seandainya ayah tidak tergila-gila dengan perempuan lain, di saat sakit-sakitan
begini ia tidak perlu terbuang.Tapi semua terjadi. Entah siapa yang angkuh,
ayah atau mama? Tapi bagiku ibu adalah malekat. Ia penyelemat. Sedang
ayah?
Kini
ayah terkapar di sebuah rumah sakit. Mengapa di saat ia jatuh dan
ditinggalkan perempuan yang pernah merebutnya dari mama, ia kembali ke pelukan
mama. Dan mengapa mama menerimanya? Aku tak habis pikir bagaimana
jalan pikiran mama. Aku heran pada mama yang dengan tangan terentang
menerima kehadiran ayah. Aku geram melihat tingkah mama yang membawa ayah
ke sebuah rumah sakit elit di kota Denpasar. Aku heran mama tak
memasalahkan bahwa ia akan mengeluarkan biaya untuk merawat laki-laki yang
pernah mengkhianatinya.
Semakin
aku memikirkan sikap mama dan kehadiran kembali ayah, hidupku
seperti terlempar ke masa sepuluh tahun lalu. Ketika aku berusia
limabelas tahun dan duduk di SMA kelas dua. Adikku nomor delapan baru
berusia dua bulan. Ayah yang ketika itu sukses berbisnis di
pariwisata meninggalkan rumah setelah bertengkar hebat dengan mama.
Aku berpikir itu pertengakaran biasa sebagai bumbu dalam hidup rumah
tangga. Tapi ternyata setelah pertengkaran itu ayah tak pernah pulang lagi.
Saat
ayah dan mama bertengkar aku dan adik-adik masuk ke dalam kamar.
Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan yang hanya dua kamar saja, satu untuk
ayah dan mama serta adikku usia dua bulan dan satunya lagi untuk aku dan
enam adikku. Tapi aku bisa mendengar apa yang ayah dan mama
pertengkarkan.
“
Sadar pak, sadar pada janji perkawinan kita. Perkawinan katolik itu tak
terceraikan.”
“
Kalau kita sudah tak saling cocok apa harus bertahan terus dalam badai
ini?”
“
Demi delapan anak kita. Yah, kita harus bertahan.” Kata-kata mama.
“
Sudahlah, kau urus anak-anakmu. Aku bosan bersamamu.” Kata-kata ayah yang
kudengar terakhir kali.
Setelah
itu rumah kami tak ada lagi pertengkaran. Kulihat mama pasrah. Mama
seperti merelahkan kepergian ayah. Mama tampak sedih tetapi ia seperti Bunda
Maria yang menyimpan segala perkara dalam hati. Mama seperti tak
kuatir akan hari esok tanpa ayah pada hal aku tahu mama hanya bekerja di
sebuah sekolah swasta sebagai tenaga honorer di bagian
tata usaha. Tapi yang selalu kubangga dari mama adalah ia ulet. Ia tak
pernah mengeluh di hadapan kami anak-anaknya.
“
Ria, sekarang ayahmu pergi. Kita berjuang untuk hidup dan masa depan
kita. Kita harus tetap hidup nak, yah harus tetap hidup.” Kulihat bola
mata mama berkaca-kaca.
“
Mengapa ayah pergi mama? Mengapa ayah tega meninggalkan kita?
Sudah tak punya hatikah ayah?”
“
Sudah nak, jangan mengeluh. Sekarang kita harus mengumpulkan kekuatan.
Lalu menebalkan iman. Kita harus yakin bahwa dengan iman sebesar biji
sesawi kita bisa memindahkan sebuah gunung ke tengah samudera.”
Mama
benar-benar orang yang sangat optimis. Ia menatap masa depan dan ia tahu
bagaimana bisa menggapainya. Ia tak punya apa-apa tetapi memiliki
satu berkas iman. Kata mama, dengan iman itulah semua perkara
sesulit apapun pasti bisa diatasi. Terbukti hari ke hari hidup
keluarga kami berubah. Mama merintis sebuah usaha warung. Untung
mama aktif di lingkungan dan giat di arisan ibu-ibu. Mama juga aktif di
WKRI. Lalu dengan dorongan ibu-ibu lingkungan mama memberanikan
diri membuka rumah makan.
“
Bu Vene, coba mulai buka warung makan kecil-kecilan. Bu Vene ahli memasak, itu
potensi. Manfaatkan potensi tersebut.” Kata Bu Leny suatu
waktu.
“
Tapi aku tak punya modal.” Jawab mamaku waktu itu.
“
Kalau modal ibu-ibu lingkungan sudah sepakat nanti bu Vene yang dapat
pertama kali.”
“
Aduh ibu-ibu, terimakasih.”
Dan
mama mulai merintis warung makan. Agar fokus pada usaha
baru itu mama mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai tata usaha di
sekolah. Mama memang jago memasak. Setiap ada keluarga katolik yang punya
hajat pasti mama yang diminta untuk bertanggungjawab di seksi memasak.
Hanya dalam waktu enam bulan usaha mama sudah maju. Lalu dengan
bantuan seorang ibu lingkungan yang mempunyai ruko tak terpakai
mama memperluas rumah makan. Mama memberi nama rumah makan
“Dedelan”. Itu kependekan dari Demi delapan Anak. Dengan usaha
itulah kami bisa sekolah dengan tenang.
Tak
terasa aku dapat menyelesaikan sekolah di SMA dan
lulus dengan nilai tertinggi sehingga boleh memilih perguruan
tinggi negeri di mana saja di seluruh Indonesia. Juga boleh memilih
fakultas yang diinginkan. Aku sampaikan pada mama bahwa aku
tertarik menjadi guru. Mama pun sangat mendukung.
“
Aku pingin jadi guru, mengajar anak-anak masa depan bangsa
agar mereka berkarakter. Supaya mereka tidak seperti ayah.”
“
Ah, jangan begitu Ria. Jadilah guru yang tulus dan bukan karena mau
membalas dendam atas perbuatan ayahmu.”
“
Aku bercanda mama.” Kataku.
“
Yah sudah. Kalau soal biaya, jagan takut. Usaha warung kita makin maju. Kita
pantas bersyukur. Tuhan itu baik. Ia tak pernah meninggalkan umatNya.”
“
Aku percaya mama. Tapi, aku harus berpisah dengan mama dan adik-adik. Aku
harus ke Undiksha Singaraja.”
“
Tak apa sayang. Toh setiap Sabtu bisa ke Denpasar. Ingat, jauh dari
mama, jaga iman, rajin berdoa dan merayakan ekaristi tiap minggu.” Pesan
mama.
“
Itu pasti mama, pasti.”
Ketika
aku di semester enam usaha ibu makin maju. Ibu membuka cabang
di kota Singaraja. Ibu mengontrak sebuah ruko berlantai dua. Lantai satu
untuk warung dan lantai dua untuk tempat tinggal dua karyawati. Aku pun
pindah tinggal bersama dua karyawati mama. Selain kuliah aku membantu
juga di rumah makan. Aku sangat menghormati karyawati mama. Mereka
orang-orang yang diutus Tuhan untuk mengubah keluarga kami. Mereka para
malekat yang datang memberikan penghiburan dan pengharapan. Kadang-kadang
sebulan sekali ibu ke Singaraja dan menginap. Adik-adikku bisa ditinggal
karena adikku yang nomor dua sampai nomor empat sudah SMA dan SMP. Yang
bungsu biasanya selalu bersama mama karena ia belum sekolah. Mama juga
berhasil membeli sebuah rumah sederhana di Batu Bulan. Semua itu adalah
kasih karunia Tuhan.
Mama
dan aku serta adik-adik sangat menyadari bahwa apa yang mama peroleh adalah
kasih Tuhan. Maka berbagi kepada yang membutuhkan selalu kami
lakukan. Berdoa penuh syukur setiap malam selalu kami lakukan. Aku pun
bersama dua karyawati mama selalu berdoa setiap malam. Kami yakin
doa adalah berbicara dengan Tuhan. Doa bukan saja meminta tetapi
bersyukur atas kasih Tuhan. Setiap malam mama pasti menelpon.
“
Ria, sudah berdoa?”
“
Sudah mama.”
“
Ingat nak, jangan lupa doa. Sebab doa itu spirit, semangat kita. Doa itu
makanan utama kita.”
“
Siap mama sayang.” Jawabku melalui telepon.
Sungguh
besar karya Tuhan. Sebab aku lulus sarjana tepat pada waktunya.
Adik-adikku pun lancar dalam menempuh pendidikan. Aku merasa Tuhan
menurunkan hujan rahmat kepada keluargaku. Sebab setelah itu adikku
Albert bisa menyelesaikan kuliah. Kini kami harus membawa
empat adik untuk menggapai masa depan mereka. Dan sampai pada suatu
siang. Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang pria bertubuh
kurus turun dari mobil dan berjalan tertatih-tatih. Ia
berdiri di depan pintu.
“
Vene aku minta maaf.” Suaranya gemetar dan lemah nyaris tak
kedengaran.
“
Nando, kaukah Nando?”
“
Maafkan aku Vene.” Ia rebah di kaki mama dan mencium telapak kaki
mama. Mama membantunya berdiri dan memapahnya ke dalam.
Entah
mengapa aku muak melihat ayah. Melihat ia datang di saat kami
sedang menikmati kebahagiaan tanpa kehadirannya.
“
Buat apa ayah kembali? Setelah ayah puas menelantarkan kami lalu
ayah kembali? Setelah ayah sakit dan hampir mau mati?”, kata-kataku pedas. Mama
memandangku.
“
Ria, jangan bicara seperti itu. Seperti apapun ia ayahmu.”
“
Tapi dia jahat.”
“
Sudahlah, nanti kita selesaikan kalau ada waktu. Sekarang kita bawa ayah
ke rumah sakit.” Ujar mama.
Di
rumah sakit inilah sekarang ayah terbaring. Aku tidak tahu apakah ayah
sadar bahwa kelakuannya selama ini telah melukai sembila orang dekatnya.
Mama mendekatku lalu memeluk. Lalu mama membisikkan kata-kata di
telingaku.
“
Barangsiapa yang melakukan kebaikan kepada orang yang hina, itu kamu lakukan
untukKu. Itu kata-kata Yesus. Kau ingat kan?”
“
Iyah mama, aku ingat.”
“
Nah, memaafkan itu indah. Memaafkan itu menyembuhkan luka batin. Memaafkan itu
membawa damai. Memaafkan itu….”.
Belum
selesai mama bicara aku sudah berlari ke ranjang bapa. Aku
menggenggam telapak tangannya. Aku menciumnya. Aku mengelus rambutnya.
Dan kulihat air mata turun dari kelopak mata ayah. Aku menghapusnya
dengan tanganku. Lalu mencum pipinya.
“
Ayah, maafkan aku.”
“
Ayah yang harus minta maaf nak.”
“
Ayah harus sembuh, harus sembuh. Kami akan berdoa supaya ayah
sembuh.”
Seketika
luka batinku sembuh. Seketika cintaku pada ayah tumbuh. Dan aku
berdoa supaya ayah sembuh. Lalu kami boleh merajut lagi cinta yang
hilang beberapa tahun ini. Memang sulit untuk memaafkan orang yang
telah melukai batin kita. Tetapi jika kita bercermin pada pribadi Yesus
yang memaafkan dengan sabdaNya “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka
tidak tahu apa yang mereka perbuat”, tak ada alasan bagiku untuk
memaafkan ayah. Ayah, seperti apapun engkau, aku mencintaimu.***
Denpasar
Hari Minggu Panggilan,17 April 2016
*Nama-nama
dalam cerpen ini fiktif. Kesamaan hanya kebetulan.
Komentar
Posting Komentar