NAMAMU DI LERENG GUNUNG
Aku pulang dalam bait-bait kenangan
Ke lereng gunung
Ke kaki bukit menjulang
Menyapa desau dedaunan hijau
Menghirup semerbak bunga cengkeh
Membaca sejarah di tanah liat
Bahwa di sini kalian bertarung
Dengan kesunyian
Menjadi pemenang
Dan kesederhanaan
Namamu terlukis
Di lekak lekuk bumi Maghilewa
Wajahmu tertahta di langit desa
Dan seribu hati telah mewariskan namamu
Untuk tetap tertulis di lembar hati anak cucunya
Sebuah nama: Hengky Ria
Kubaca jejak-jejak pengabdianmu
Pada pelepah nyiur melambai
Dan di setiap atap ilalang Sa’o Adha
Namamu masih tertulis
Ketika para penghuni mendendang kisah
Tentang ketulusanmu
Melabuhkan kehidupan di sini
Di desa berselimut gelap malam
Namamu masih tertulis: Nikolaus Tuda
Kubaca jalan ketulusanmu
Pada hening desa
Tanpa deru mesin kota
Potongan-potongan angin bukit
Membalut keseharianmu
Jejakmu pada tapak jalan kerikil
Ke bukit dan ke pantai
Ke mata air Wae Tena
Dan ke ladang belakang kampung
Jejak pengabdianmu: Leonardus Nono
Kubaca tetes keringat cintamu
Ah….ini rindu bersua
Meski tahu kalian telah pergi
Tidur damai di Waebetu
Mengasoh abadi di kampung Langa
Menyatu pada bumi Watujaji
Kalian pendekar perkasa
Meretas kebodohan
Anak-anak lereng gunung
Selamanya namamu hidup
Tiada pernah mati.***
Denpasar, 2 Mei 2016
Komentar
Posting Komentar