LAGU CINTA DI KOTA DEBU
Berdiri aku di rahimmu
Hamparan laut biru mematuk sukmaku
Ikan terbang bermain di udara lepas
Riak ombak di pantai Kota Uneng
Mengidungkan kebesaran
Sang pujangga bumi dan langit
Di dermaga Sadang Bui aku termangu
Jong bersandar menunggu waktu
Berlayar menyusur samudera
Negeri tercinta nusantara
Para nelayan membentang layar
Mengayuh sampan hingga pulau besar
Gemuruh ombak di bibir pantai
Menjilat tubuh legam
Anak-anak kampung Beru
Di hamparan pasir putih
Kutuliskan jejak
Hari ini aku bercumbu denganmu
Di Nangameting seribu lontar
Tegak mengusung langit
Lelaki kekar merangkak ke pucuknya
Menyadap nira kehidupan
Karena hidup harus diperjuangkan
Dengan seribu cara
Di petak-petak tanah gersang
Jambu mete ranum menggoda
Petani telanjang dada
Memanggul kerangjang
Dari anyaman daun lontar
Di lekak lekuk tanah kering
Du’a*) bergelang gading gajah
Berselubung sulaman Lensu Nujing*)
Menyiang rumput kebun singkong
Dicumbu terik matahari
Oh Maumere…
Di rahimmu kusimpan desah nafasku
Sepanjang waktu yang tetap abadi
Ketika aku terus berlari
Mengejar kata hati
Yang tersenyum menggoda
Dari kaki langit
Aku harus memelukmu
Meski bersimbah air mata.***
Kampung Beru Maumere, Pebruari 1976
mo’at = sapaan untuk laki-laki
Du’a=sapaan untuk perempuan
Lensu Nujing=sapu tangan tenun ikat Sikka
Maumere manise
Asap debu kemarau
Terbang di langit biru
Pohon reo meranggas
Ranting-ranting telanjang
Nyiur di kebun misi
Melambai menyapaku
Selama datang mo’at*)
Bercumbu kau dengan sabanaku
Tanah warisan leluhur
Asap debu kemarau
Terbang di langit biru
Pohon reo meranggas
Ranting-ranting telanjang
Nyiur di kebun misi
Melambai menyapaku
Selama datang mo’at*)
Bercumbu kau dengan sabanaku
Tanah warisan leluhur
Hamparan laut biru mematuk sukmaku
Ikan terbang bermain di udara lepas
Riak ombak di pantai Kota Uneng
Mengidungkan kebesaran
Sang pujangga bumi dan langit
Di dermaga Sadang Bui aku termangu
Jong bersandar menunggu waktu
Berlayar menyusur samudera
Negeri tercinta nusantara
Para nelayan membentang layar
Mengayuh sampan hingga pulau besar
Gemuruh ombak di bibir pantai
Menjilat tubuh legam
Anak-anak kampung Beru
Di hamparan pasir putih
Kutuliskan jejak
Hari ini aku bercumbu denganmu
Di Nangameting seribu lontar
Tegak mengusung langit
Lelaki kekar merangkak ke pucuknya
Menyadap nira kehidupan
Karena hidup harus diperjuangkan
Dengan seribu cara
Di petak-petak tanah gersang
Jambu mete ranum menggoda
Petani telanjang dada
Memanggul kerangjang
Dari anyaman daun lontar
Di lekak lekuk tanah kering
Du’a*) bergelang gading gajah
Berselubung sulaman Lensu Nujing*)
Menyiang rumput kebun singkong
Dicumbu terik matahari
Oh Maumere…
Di rahimmu kusimpan desah nafasku
Sepanjang waktu yang tetap abadi
Ketika aku terus berlari
Mengejar kata hati
Yang tersenyum menggoda
Dari kaki langit
Aku harus memelukmu
Meski bersimbah air mata.***
Kampung Beru Maumere, Pebruari 1976
mo’at = sapaan untuk laki-laki
Du’a=sapaan untuk perempuan
Lensu Nujing=sapu tangan tenun ikat Sikka
Komentar
Posting Komentar