KEMATIAN






Cerpen: Agust GT
Hasil gambar untuk KEMATIAN

 










Aku menyaksikan kehidupan leluhurku dari waktu ke waktu. Leluhur yang hidup seribu tahun lalu. Aku menyaksikan leluhurku tidak mati. Hidup seribu tahun bahkan sejuta tahun. Lalu aku menyaksikan hamparan tanah yang dipenuhi dengan jutaan manusia. Tak ada lagi sejengkal pun yang tersisa, tanpa didiami manusia. 

Orang-orang pun berdesakan, tak lagi pergi ke mana-mana karena semua tanah di dunia tempat tinggalnya sudah dipenuhi oleh manusia. Tak ada jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Tak ada komunikasi antar manusia. Tak ada bangunan megah. Aku melihat tak ada sekolah yang mendidik manusia untuk cerdas. Yang ada hanya kehidupan. Dan manusia yang hidup itu lekat dengan peradanbannya sendiri. 

Mereka tak perlu menempa besi untuk menjadi senjata membunuh sesamanya. Tak menciptakan senjata modern dan bom nuklir untuk saling menghancurkan. Aku menyaksikan manusia hidup dengan peradananya sendiri tetapi membenci pembunuhan dan segala macam fitnah yang saling merendahkan harga diri sesamanya. Manusia-manusia dengan peradabannya yang tahu menghargai kehidupan, mencintai kehidupan dan tidak saling meracuni.

Aku menyaksikan kehidupan yang tanpa agama. Juga tanpa kata-kata doa yang terucap dari bibirnya. Tak ada satupun rumah ibadah. Sebab yang ada hanya kehidupan dengan peradaban penuh cinta dan kasih sayang. Dan dengan cinta serta kasih sayang itu, dunia menjadi begitu damai, tanpa perang, tanpa permusuhan, tanpa ada bom bunuh diri. Dunia yang dipenuhi manusia itu setiap waktu dan kesempatan mengumandangkan cinta dan kasih sayang. Meneriakkan persaudaraan. Memperlihatkan watak kemanusiaan yang sangat menghormati kehidupan.

Aku menjadi orang asing di kehidupan mereka itu. Aku terbengong-bengong. Kusaksikan sangat berbeda dengan kehidupan di dunia nyataku. Dunia dengan peradaban tinggi. Dipenuhi oleh manusia-manusia yang cerdas terdidik dan terpelajar. Dipenuhi dengan penemuan-penemuan teknologi yang menghantar manusia lebih mudah menjalani kehidupannya. Dipenuhi dengan bangunan megah dan jalan raya yang mulus menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.

Di dunia nyataku tanah masih luas. Dan orang-orang saling merampas tanah hasil ciptaan Tuhan. Bila perlu dengan perang dan pembunuhan. Tak perduli saudara atau orang lain. Perebutan harta membawa pertumpahan darah. Di jalanan berseliweran kendaraan mulai dari paling murah sampai berharga paling mahal. Dan di udara dijejali dengan kapal terbang yang hilir mudik sepanjang waktu. Di laut berserakan kapal dan perahu. Seolah-olah, meskipun tanah dan laut serta udara masih luas tetapi terasa menjadi sangat sempit.

Duniaku dibopengi demi meraup jutaan ton emas dan minyak. Bumiku yang dilubangi demi memperoleh keuntungan secara ekonomis. Bangunan-bangunan megah memenuhi wajah kota bahkan desa. Itu hanya milik sekelompok orang. Mesjid ada dimana-mana dan mengumandangkan nama Tuhan Sang Maha Pencipta. Gereja pun ada di mana-mana memegahkan nama Tuhan Sang Sumber Kehidupan. Rumah ibadah agama apapun ada di muka bumi dan dari situ dialirkan ajaran kebaikan dan kebenaran. Tetapi di dunia nyataku pula darah sesama sudah tak punya harga. Nyawa sesama bisa dijadikan setara sampah. Harga manusia bisa disejajarkan dengan harga segenggam emas. 

Demi uang siapapun bisa membunuh sesamanya bahkan orangtua kandungnya. Demi agama orang bisa perang saudara dan saling memusnahkan. Demi sejengkal tanah orang bisa saling menombak dan mati sia-sia. Pertengkaran atas nama Tuhan menjadi sarapan setiap saat. Pembunuhan demi Tuhan ada di mana-mana. Kemunafikan menjadi bumbu tak sedap bagi dunia. Segala bentuk kejahatan ada di muka bumi. Dan banyak orang tak memiliki kemauan untuk hidup damai. Mereka ingin wajah dunia yang kejam. Lalu ada yang tertawa terpingkal-pingkal melihat dunia yang dilumuri darah segar. Darah sesama anak manusia ciptaan Tuhan yang satu dan sama.

Tiba-tiba aku terkejut saat pundakku ditepuki seorang tua. Aku menatapnya. Dan ia tersenyum. Semua giginya telah rontok. Tetapi wajahnya bersinar. Ia bahagia.
" Apa yang kau risaukan?"
" Kehidupan kami di dunia"
" Oh ya, kami melihatnya dari dunia kehidupan kami. Dunia itu pernah kami diami. Tetapi di jaman kami penuh dengan kedamaian."
" Jadi nenek melihat dunia kami setiap hari?"
" Bukan hanya setiap hari tetapi setiap saat. Tetapi dunia kalian tidak berubah. Dia ciptaan yang utuh dan abadi."

Aku menatap nenek tua itu. Terasa heran. Dia bilang duniaku tidak berubah dan tetap utuh dan abadi. Apakah nenek tua ini tak melihat dengan cermat kenyataan yang sebenarnya?
" Kau pasti mau menyanggah apa yang kukatakan padamu?"
" Betul nenek"


" Duniamu tak pernah berubah. Tetap utuh dari dulu sampai sekarang. Dia tetap abadi."


" Tetapi sudah banyak perubahan yang terjadi. Mulai dari kebaikan dan keburukan, kasih dan kejahatan."
" Tapi bukan dunia yang berubah. Yang berubah itu manusia yang mendiami muka bumi. Manusia yang baik menghargai muka bumi. Manusia yang culas mengeruk muka bumi untuk memenuhi kepuasannya. Untuk itu manusia pun saling merampas hak dan kesempatan. Dengan berbagai cara, salah satunya dengan membunuh. Ingat bumimu utuh tetapi manusia yang berubah.
" Mestinya kalian bisa membagikan kehidupan di dunia kalian ini kepada kehidupan di dunia nyata kami."
" Itu tidak mungkin kami lakukan. Kami sudah mati. Dan tak akan hidup lagi di dunia nyata. Kami hidup di dunia kami sendiri. Penuh damai, kasih sayang, saling mencintai. Tanpa perang lagi."

Lalu nenek tua itu menatapku dengan saksama. Mengulumkan senyumnya. Dengan sinar mata yang tulus dan suci ia berkata lagi.
" Kamu akan mengalaminya setelah kematian."


Lalu aku tersadar dari mimpi. Ah, mengapa aku bisa bermimpi seperti ini? Persetan dengan mimpiku ini. Yang harus kulakukan sekarang ini adalah menempatkan diri pada bagian dunia nyata ini dengan baik. Dan tak berhenti sedetikpun untuk menebarkan kebaikan dan memerangi keburukan. Kelak, ketika aku mati, aku mendapat bagian di kehidupan mereka yang penuh damai. Dunia yang kekal abadi. Dunia kematian.***

Denpasar, 30 Mei 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN