DETAK WAKTU DI RUMAH KITA




Kita telah membaca detak waktu
Yang  terlukis di dinding rumah
Rumah kita bersama
Lukisan  darah dan air mata
Perjuangan dan pengorbanan
Kita telah belajar setiap jengkal sejarah
Tentang  anak-anak manusia
Berhati tulus berakhlak ksatria
Yang tiada henti mendaras sumpah
Satu Nusa, Satu bangsa, Satu bahasa
Membakar semangat
Mengokohkan jiwa
Mengikat  rasa anak-anak Indonesia

Kita telah membaca sejarah heroik
Tentang  anak bangsa yang gugur
Tulang belulang berserakan
Tubuh tercabik  peluru penjajah
Tetapi mereka terus berteriak: Merdeka!
Tanpa  kata: Kau Cina!
Tanpa kata: Kau Kafir!
Tanpa kata: Kau Pendatang!
Tanpa kata: Kau Jawa!
Tanpa kata: Kau luar Jawa!
Kecuali kata: Indonesia!

Kita telah  menyusuri  sejarah
Waktu yang terus berputar
Kita belajar dari setiap orde
Tentang kekurangan
Yang harus disempurnakan bersama
Dan kelebihan yang mesti diteruskan
Kita telah sampai di sebuah usia
Dengan kata Tanya menggelayut
Sudah matangkah kita berbangsa
Dan  mantap berseru penuh gelora
Aku  cinta satu nusa, satu bangsa, satu bahasa
Indopnesia!

Maafkan kalau aku harus jujur
Ketika kau  penuh dengki
Berteriak lantang
Yang bukan muslim itu kafir
Ketika kau bilang negeri ini
Tak pantas dipimpin non muslim
Ketika kau bilang  pendatang
Tak pantas  bertahta di negeri ini
Ketika  kau tebar  api pertentangan
Dan engkau sulut rasa permusuhan
Di negeri  satu rahim: Indonesia!


Ayo  bangkit
Kita lawan  pecundang negara
Yang  berakhlak  kerdil
Berwajah pemangsa
Sesama anak satu bangsa
Kita tegakkan  warisan pejuang
Untuk Indonesia yang esa
Mari kita rakit  semua rasa
Menjadi satu selera bersama
Indonesia untuk selamanya.***


Denpasar, 30 Mei 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN