DALAM DIAM
Tuhan ajarlah aku
Untuk kerja dengan diam
Ajarlah aku mengatur lidah
Agar tak perlu lagi mencaci maki
Demi lapangan kerja
Sebab Engkau sudah tahu
Sia-sia aku protes
Karena sudah tak ada lagi
Yang mau mendengar
Jadikan aku pencipta kerja
Dan bukan pengemis kerja
Bangunkan semangatku
Untuk pantang menyerah
Demi kerja dan bukan mengemis kerjaan
Sebab dengan diam aku banyak tahu
Bagaimana aku menjadi hidup
Tanpa banyak teriakan
Ikatlah sayap-sayapku
Agar aku tetap di sini
Tak bisa terbang ke mana-mana
Juga ke gedung para dewan terhormat
Sebab percuma aku berteriak di sana
Karena meskipun mereka ada
Dan menggelar sidang paripurna
Telinga mereka sudah tuli semua
Rantai saja kedua kakiku
Agar aku tak bisa berlari
Dan tak bisa pergi ke mana-mana
Lalu dari sini aku mau teriak
Hingga langit bergetar
Agar yang jauh di rumah rakyat
Terbangun karena mimpi buruk
Masuk penjara karena korupsi
Tapi aku minta padaMu Tuhan
Jangan ikat jari-jariku
Sebab milikku hanya ujung jari
Untuk merangkai rasa gundahku
Siapa tahu suatu saat mereka terpana
Menangis lalu mengurung langkah
Agar tak sampai ke negeri para maling
Yang hatinya sudah berubah
Jadi bangsawan penuh kebuasan
Jangan kurangi gumpalan otakku
Sebab hanya itu hartaku
Biarkan aku tetap menjadi orang gila
Berbicara pada batu-batu di pantai
Dan karang-karang di gunung
Dan mengajak mereka
Menertawai maling-maling berdasi
Yang hatinya lebih membatu dari batu pantai
Dan jiwanya lebih karat dari batu karang
Ajarlah aku untuk diam
Tanpa membuka mulut
Tetapi terus bicara di ujung kalam
Dalam diam seribu suara
Sebab telah sampai waktunya
Berperang melawan kejahatan
Dengan senjata tanpa peluru
Tanpa perlu menarik pelatuknya.***
Denpasar, 1 Mei 2016
Komentar
Posting Komentar