CERPEN - 9
Dua Dunia Satu Cinta
Cerpen: Agust G Thuru
Ini hari keempat puluh kepergian Rugeyah, perempuan yang
telah mengisi hidupku selama tigapuluh tahun. Perempuan yang telah
melahirkan seorang anak laki-laki dan perempuan. Perempuan yang
teguh pada imannya sampai akhir hayatnya. Perempuan yang membuatku terpesona.
Perempuan yang menulis sejuta kata bahwa dua jiwa bisa bersatu
dalam satu cinta yang tak tergoyahkan oleh kekuatan apapun. Meski iman
kami berbeda.
Dan di puasaranya ini aku menabur seribu kembang
indah. Pusara di pemakaman muslim tepi pantai Aimere. Pusara tanpa
salib tetapi batu nisan untuk menandakan bahwa Rugeyah adalah
seorang muslimah yang taat dan setia pada imannya. Inilah istana indah bagi
Rugeyah setelah tigapuluh tahun kami mengayuh bahtera rumah tangga.
Di pusaranya ini aku seolah-olah terbang melayang ke
masa tigapuluh tahun. Pada pertemuan pertama di Kota Ende. Di sebuah
taman dimana terdapat patung pejuang Ende Mari Longa. Ketika itu aku baru
saja mengundurkan diri dari status sebagai Frater setelah menjalankan
tahun orientasi pastoral di sebuah paroki di pulau Sumba. Waktu itu
pantai Ende dibalut senja. Laut biru ditaburi lampu para nelayan. Dan gadis
berjilbab itu duduk di bawah sebuah bangku yang dipayungi rindang pohon
sukun.
“ Hai, boleh aku duduk di sini?” Aku menatapnya.
“ Oh, silahkan kak.” Suaranya lembut. Sorot matanya
bening. Dan senyumnya sungguh memesona.
“ Oh ya kita belum berkenalan. Aku Marten.” Kataku sambil
menyodorkan tangan mengajak bersalaman.
“ Rugeyah.” Ujarnya.
Kami ngobrol untuk banyak hal. Tentang pohon sukun
yang memayungi tempat kami duduk. Rugeyah mengaku sering duduk di
tempat yang penuh catatan sejarah ini. Di bawah pohon Sukun ini
proklamator Indonesia Bung Karno sering duduk merenung dan menggali
butir-butir pancasila. Dia tokoh besar.
“ Dia idolaku kak. Dia tokoh yang luar biasa. Dia
nasionalis. Aku mengaguminya.”
“ Kita sama-sama pengagum Bung Karno. Bersyukur kita
punya tokoh besar Bung Karno yang menggali nilai-nilai kemanusiaan dan
menjadikannya dasar pijak negara kita.”
“ Iya kak, kita bersyukur ada Pancasila. Ia mengikat
kita menjadi satu kekuatan dalam keragaman.” Kulihat Rugeyah
tersenyum. Wajahnya cerah. Ia cantik dalam balutan busana muslim.
Rugeyah mengisahkan dirinya baru saja menyelesaikan
pendidikan di Institut Agama Islam Negeri Surabaya. Keluarganya tinggal
di Pulau Ende. Di kota Ende ia mengajar di sebuah Madrasah
Aliyah.
“ Baru tiga bulan kak, aku menjadi guru.”
“ Profesi yang mulia.”
“ Iya kak, meskipun hanya guru honorer. Yah, siapa tahu
suatu saat diangkat menjadi guru negeri.Oh ya, kalau kakak, sekolah
dimana?”
“ Aku di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.”
“ Oh, calon pastor ya?”
“ Sudah mundur dik. Tidak ada panggilan. Yah,
banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih.”
“ Jadi awam juga kan bisa mengabdi. Asal tulus.Oh ya,
kakak asal mana?”
“ Maghilewa di Kecamatan Aimere Kabupaten Ngada.”
“ Maghilewa? Itu kampung nenekku yang perempuan.”
Aku terperanjat. Bagaimana mungkin nenek perempuan
Rugeyah dari Maghilewa. Lalu aku ingat kisah hilangnya seorang anak
gadis di pantai Waesugi puluhan tahun silam. Menurut kisah para nelayan pulau
Ende menculik seorang anak gadis lalu dibawa pulang ke Ende. Ia
dijadikan istri. Ia gadis yang cantik sehingga membuat seorang
nelayan jatuh cinta.
“ Kisahnya puluhan tahun silam, nenekku yang laki-laki
menculik nenek perempuan dari pantai Waesugi. Dan mereka menikah dan
lahirlah ibuku.”
“ Aku pernah mendengar kisah penculikan itu.”
“ Kedua nenekku masih hidup. Dan mereka mewariskan kisah
itu kepada kami. Agar kami selalu mengenang dari mana asal leluhur
kami. Suatu saat aku ingin ke Maghilewa bertemu dengan keluarga di
kampung itu.”
“ Kisah yang mengharukan.”
“ Mereka nenek-nenekku yang nekat.” Rugeyah
tertawa.
Tak ada terbayang sedikitpun bahwa setelah
pertemuan itu akan ada pertemuan lain. Aku kembali ke kampung Maghilewa.
Lalu setahun kemudian diangkat sebagai pegawai negeri dan mengabdi
sebagai guru agama di sebuah sekolah negeri di Kota Aimere. Suatu hari
seorang perempuan berjilbab datang ke sekolah itu. Ia ditempatkan sebagai guru
agama islam di sekolah tersebut. Dan dia adalah Rugeyah.
“ Kak, akhirnya kita bertemu lagi.Oh ya, niatku untuk ke
kampung leuhurku tercapai juga. Aku sudah ke Maghilewa seberlum ke
Aimere ini. Pertemuan kami penuh sukacita.”
“ Engkau luar biasa dik.”
“ Yang lebih luar biasa adalah Tuhan. Ia menciptakan
orang-orang di Maghilewa yang tak pernah menyoalkan apa agama
seseorang. Yang mereka lihat adalah aku ini keturunan mereka.Aku terharu kak.”
Setiap sore kami suka mengunjungi pantai Aimere
untuk menyaksikan matahari terbenam. Kadang-kadang kami ke Pantai Wae Sugi
menyaksikan debur ombak yang menjilati bebatuan tepi pantai. Memandang
laut sambil mengobrol banyak hal. Tentang pekerjaan dan
tentang masa depan. Hingga pada suatu sore di pantai Wae Sugi
kami bicara cinta.
“ Aku mencintaimu Rugeyah.”
“ Sama kak, tapi apakah mungkin? Engkau katolik dan guru
agama katolik. Aku muslimah dan guru agama islam. Apakah mungkin dipersatukan
dalam ikatan perkawinan?”
“ Mengapa tidak bisa? Cinta itu tanpa sekat, tanpa
batas-batas yang menjauhkan.”
Aku yakin perkawinan beda agama bisa dilakukan. Maka
kujelaskan pada Rugeyah bahwa ia tidak perlu pindah agama atau aku
juga tidak perlu menjadi islam hanya karena supaya bisa menikah.Di
Gereja katolik perkawinan beda agama memang bukanlah perkawinan ideal
sebab perkawinan katolik adalah sebuah sakramen, ikatan yang kudus.
Tetapi jika ada dispensasi dari ordinaris wilayah yakni Uskup maka
perkawinan katolik dapat dilaksanakan.
“ Apakah mungkin Bapa Uskup memberi dispensasi?”
“ Kalau engkau menyetujui sejumlah
persyaratan dispensasi bisa diberikan Uskup.”
“ Apa kak persyaratannya?”
“ Semua anak dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik.
Lalu pihakmu harus menerima dengan tulus hati dan engkau juga perlu
tahu sifat-sifat hakiki perkawinan katolik.”
“ Jika itu syaratnya, aku siap kak. Mari kita buktikan
bahwa cinta yang tulus mengalahkan segala perbedaan dan mengubah
perbedaan menjadi kesamaan.”
Kami pun benar-benar menikah di Gereja. Rugeyah maju ke
depan altar dengan balutan busana muslim sedang aku dengan balutan
pakaian adat Bajawa. Kami menjadi pasangan yang membangun keadaban
baru menyatukan dua jiwa dalam satu cinta.
Tak terasa di pusara Rugeyah aku seolah sedang menyusuri lagi setiap tapak jalan yang pernah kami lalui. Aku benar-benar tenggelam dalam kisah cinta sepanjang tiga puluh tahun tanpa sedikitpun titik hitam. Meski sadar yang saling mencintai adalah tetap manusia lemah.
“ Ayah, sudah malam, ayo pulang”. Suara
putriku membuyarkan lamunanku.
“ Oh ya, aku lupa malam ini ada tahlilan empatpuluh
malam mama.”
Sejenak aku memandang batu nisan bertuliskan nama
Siti Rugeyah Gae. Terimakasih Rugeyah. Kita telah membuktikan kepada
dunia bahwa cinta itu kuat sekalipun kita berbeda iman. Kita pun berhasil
membuktikan kepada dunia bahwa kita telah menikmati cinta tulus selama
tigapuluh tahun. Kita pun telah membuktikan kepada dunia bahwa
cinta bisa membuat iman masing-masing semakin mengakar. Kita telah melakukannya
dengan sempurna.Terimakasih Tuhan.***
Denpasar, Malam Natal 24 Desember 2015
Komentar
Posting Komentar