CERPEN - 7
Cinta Hitam Putih
Cerpen: Agust G Thuru
Pertemuan
kami di Pantai Tebhobero, sebuah pantai di desa Sebowuli, desa yang dulunya
menyatu dengan desa Inerie sungguh mengesankan. Ketika itu aku adalah guru
muda sebuah SMP di kota Kecamatan Aimere. Dan Romana adalah siswi
sebuah sekolah pendidikan guru di kota Ende. Ia cantik bahkan tercantik
di desa itu.
Kecantikan
Romana menjadi buah bibir. Para muda sebayaku pasti menjadikan Romana sebagai
bahan gossip dimana dua atau tiga orang berkumpul. Bahan gossip atas
kecantikannya. Romana lahir dari rahim perempuan desa yang menikah dengan
laki-laki keturunan Watu dan Bali.Paduan darah lintas suku yang membentuk
Romana menjadi gadis jelita. Aku mengenal Romana ketika ia masih sekolah
dasar. Ketika itu ia biasa-biasa saja. Setelah enam tahun aku meninggalkan
kampung karena harus sekolah di kota aku bertemu kembali dengan
Romana. Ia telah tumbuh menjadi gadis yang menawan.
Ketika
itu aku berjalan menyusuri pantai dari Aimere ke Malapedho. Biasanya pada
akhir pekan aku selalu pulang ke kampung Maghilewa menikmati sunyi lereng
gunung. Menikmati segarnya butir-butir air di Waetena. Dan di Tebhobero,
pantai berbatu cadas penuh lukisan alamiah kulihat Romana duduk
pada rindang sebatang pohon pandan laut. Kedua bola matanya menatap debur
ombak yang liar menjilati batu-batu hitam. Dan ia terkejut ketika tiba-tiba aku
sudah berdiri di hadapannya.
“ Hai,
Romana, apa kabar?” Aku menyapanya. Dan ia menatapku sambil melontarkan senyum
manis.
“
Ai, kak Tinus, apa kabar kak?”
“
Seperti yang engkau lihat”
“
Hmm, tambah ganteng saja kakakku ini”
“
Engkau juga semakin cantik”
“
Tidak ada uang receh kak untuk membayar pujian”
Kami
tertawa lepas. Begitu bebas lepas sampai burung pipit di atas
rindang pandan terbang simpang siur.
Kami
duduk sangat berdekatan pada sebuah batu pantai. Menghadap laut seolah mau
menghitung berapa jumlah batu-batu hitam pekat berukuran kecil maupun
besar menjulang angkuh di pantai itu. Dan ada satu bongkahan batu
paling besar berbentuk sosok perempuan yang sedang menghadap ke daratan.
“
Itu batu legenda namanya Watu Bhoko.” Kataku pada Romana.
“
Oh ya, aku pernah mendengar nama batu ini. Tapi mengapa diberi nama Watu
Bhoko?”
“
Batu itu berkaitan dengan kisah tragis seorang perempuan cantik bernama Bhoko.
Ia korban dari ketamakan mahluk laut atau yang disebut Nitu Mau.”
Lalu
kami tenggelam dalam nukilan kisah tentang Watu Bhoko. Aku yang mengisahkan dan
Romana menjadi pendengar. Konon ada seorang perempuan bernama Bhoko. Ia
perempuan yang sangat cantik. Ia sudah bersuami bernama Maja.
Suatu pagi saat air laut surut yang disebut Wula Be, perempuan dan
laki-laki kampung turun ke pantai mencari siput atau mengail ikan.
Bhoko dan suaminya Maja pun termasuk yang turun ke pantai. Bhoko sibuk
mencari siput pada celah-celah bebatuan. Tak sadar tusuk kondenya
jatuh ke celah batu. Ia berusaha mengambilnya. Ketika jari-jarinya sudah
menggenggam tusuk konde Bhoko tak bisa mengeluarkan tangannya.
Tetapi ketika ia melepas tusuk konde Bhoko bisa mengeluarkan
tangannya.
Sampai
air laut pasang Bhoko masih terus berusaha mengeluarkan tusuk konde emas dari
celah batu. Orang-orang pun sudah menepi ke pinggir pantai. Bhoko pun berjanji
kepada mahluk laut, jika ia melepaskan tusuk konde dibawa pulang ke
kampung maka tiga hari lagi ia akan datang mempersembahkan dirinya kepada
mahluk laut. Dan Bhoko pun berhasil membawa pulang tusuk kondenya. Tetapi
tiga hari kemudian Bhoko ingkar janji. Terjadilah gelombang dasyat dan air laut
naik sampai ke kampung. Semua tanaman rusak oleh ganasnya gelombang yang
dasyat seperti tsunami. Orang-orang kampung pun mendesak Bhoko agar ia
segera menyerahkan diri ke mahluk laut yang jahat itu.
Penghuni
kampung pun sibuk menyiapkan makanan persembahan. Lalu pada hari
ketika warga kampung mengantar Bhoko ke pantai Tebhobero.
Maja suaminya pun ikut mengantar dengan hati sedih. Maja tak henti-hentinya
menangisi perpisahan dengan istrinya Bhoko. Dan di pantai Tebhobero itu
semuanya berakhir. Bhoko mempersembahkan dirinya, melangkah ke tengah
laut hingga ujung rambutnya hilang ditelah laut. Terjadi
sebuah gelombang dasyat yang mengubah Bhoko menjadi batu. Lalu satu
hempasan ombak memuntahkan kepingan-kepingan emas di pantai serta sebuah
hiasan emas bernama Meko. Keluarga Bhoko pun memungut pemberian itu sebagai
mahar pengganti Bhoko. Maja semakin sedih, menangis pedih dan akhirnya
berubah menjadi batu. Kini orang menamai kedua batu itu dengan nama
Watu Bhoko dan Watu Maja.
“
Pasti bukan kisah nyata ya kak Tinus.” Suara Romana terdengar
bening antara desiran ombak pantai.
“
Ini cuma legenda. Tetapi maknanya, setiap perkawinan pasti selalu ada halangan,
ada cobaan, ada godaan. Yang kuat akan berhasil membawa perkawinan
langgeng meskipun mungkin penuh pengkhianatan.”
“
Semoga bukan aku yang mengalaminya.” Romana tersenyum menatapku. Air laut
pun pasang hingga menjilati telapak kaki Romana yang mulus.
Ini
sepenggal kisah yang masih kuingat dan telah terjadi sepuluh tahun silam. Kisah
selanjutnya adalah aku dan Romana lalu mengikat sumpah dan janji
sebagai suami istri di Gereja Santo Fransiskus Asisi dan Santa Clara
Aimere. Dua tahun kemudian putra sulungku lahir. Tahun ketiga keluargaku seolah
mendapat berkat. Aku menjadi salah satu dari 100 guru NTT yang
mendapat bea siswa melanjutkan studi di luar Flores. Boleh pilih di Jawa atau
Bali. Terserah mau memilih perguruan tinggi mana dan di kota mana.
“
Kak harus memanfaatkan kesempatan ini. Jangan sia-siakan. Jalan hidup seseorang
tak ada yang tahu. Tetapi aku yakin semakin tinggi pendidikan, semakin
terbuka peluang untuk jauh lebih maju dan lebih mudah menggapai impian.” Ini
kata-kata Romana mengomentari kesempatan yang aku dapatkan.
“
Tapi waktu empat atau lima tahun kuliah di Jawa bukan waktu yang
singkat.”
“
Kalau mau maju harus ada pengorbanan.” Romana menatapku. Dua bola matanya
pasrah. Ia memberiku kekuatan untuk berani mengambil keputusan. Dan akupun
berangkat ke tanah Bali, ke kota tujuan Denpasar.
Jauh
dari istri, hidup di sebuah kota yang jauh lebih modern membuatku terlena.
Setahun di Denpasar aku masih mengirim surat kepada Romana hampir
setiap bulan. Tetapi tahun-tahun berikutnya aku jarang menulis
surat bahkan berakhir dengan tidak sama sekali. Aku benar-benar
lupa bahwa di Aimere ada Romana yang sendiri membesarkan
anakku Titiancinta. Romana masih terus rajin menulis surat
untukku di Denpasar. Ketika itu tak ada handphone, email atau facebook seperti
masa sekarang.
Usai
meraih gelar sarjana aku memutuskan tak pulang lagi ke Aimere. Aku pun
bekerja sebagai jurnalis pada sebuah media lokal yang terbit
Denpasar. Dan aku jatuh di pelukan seorang janda kaya raya. Hidup satu
rumah tanpa ikatan perkawinan. Semua kebutuhan hidup terpenuhi. Apapun yang aku
inginkan dapat terpenuhi. Bahkan untuk mencari kepuasan di luar rumah aku
tak mengalami kesulitan apapun. Hidupku sudah sangat berubah. Aku tak pernah
sadar lagi bahwa aku memiliki istri dari pernikahan
sakramental dan seorang anak titipan Tuhan.
Tahun
ke sepuluh aku menerima surat dari Romana. Surat bernada kecewa, marah,
benci dan dendam. Surat terakhir yang membangun jurang menganga antara
aku dan Romana. Isi surat yang menyayat hati tetapi tak mampu meluluhkan hatiku
yang sudah berubah seperti sebongkah batu. Kak, kutulis surat ini untuk yang
terakhir kalinya karena setelah itu, aku punya pilihan hidup sama seperti yang
kau lakukan. Surat ini sekedar mengingatkan pertemuan kita di Pantai Tebhobero,
tentang kisah perempuan bernama Bhoko dan suaminya Maja yang setia dalam
peristiwa penuh kehilangan. Sekedar mengingatkan bahwa janji perkawinan
kita di gereja akhirnya kau khianati dan kini setelah sepuluh tahun akulah yang
mengkhianati. Sekedar mengingatkan bahwa Titiancinta sudah berusia
tujuh tahun dan ia sudah tahu bahwa ayahnya berselingkuh dan kini ia tahu
pula bahwa ibunya pun berselingkuh.
Sekedar
mengingatkan bahwa orang-orang di kampung ini memandang kita
sebagai mahluk yang paling hina. Kau beruntung kak, karena kau jauh tetapi aku
di sini, aku seperti berjalan telanjang dan seribu mata melototi
tubuh dan jiwaku yang kusam. Sekedar kau tahu bahwa Titiancinta harus
menerima seorang adik dari rahim ibunya yang tidak ditanam oleh ayahnya
yang pernah mengumbar janji manis di depan altar. Ah kak, janjimu indah
semanis hati, kini berbalik menodai kata hati. Aku telah kehilangan kata-kata
untuk meneruskan surat ini. Hatiku luka, jiwaku merana. Penyesalan sudah tak
ada gunanya. Berkeluh kesah pun sudah tak ada manfaat. Sebab ketika aku
mengecam kau sebagai laki-laki jahat tak berhati dan pengkhianat cinta
sejati ternyata akupun tak bisa mengendalikan naluri kewanitaanku. Aku
membutuhkannya meski aku tahu, akhirnya aku sama saja denganmu,
sama-sama mengkhianati perkawinan suci.Selamat berpisah kak. Berdoalah
selalu, suatu saat kita kembali ke jalanNya agar boleh bertemu di surga.
Surat
terakhir Romana sungguh menggugat, sungguh menyadarkanku. Betapa kejamnya aku.
Betapa mudahnya aku jatuh dalam godaan setan. Aku membatin, Romana
kau tidak salah. Kau bukan pengkhianat. Aku tahu kau perempuan baik. Jika
kau melakukan perzinahan itu karena kodratmu sebagai manusia yang membutuhkan
sentuhan kebutuhan dimana tak seorangpun mampu memahaminya. Tetapi apa
yang kulakukan adalah kekejaman, pengkhianatan yang mungkin tak termaafkan.
Tiba-tiba aku rindu Romana, rindu Titiancinta. Air mataku berderai. Ingin
kupeluk mereka berdua, berlutut di hadapannya dan mencium telapak
kaki keduanya seraya memohon maaf atas dosa yang kuperbuat.
Sejak
surat terakhir itu Romana tak lagi menulis surat untukku. Sampai
dunia berubah begitu cepat. Sampai dunia dikuasai dalam
genggaman kemajuan teknologi informasi. Dan dari seorang sahabat di
Aimere aku mendapat nomor kontak Romana. Malam ini limabelas tahun
perkawinan kami yang disia-siakan.
“
Halo, apa kabar?” Suaraku serak. Dan dari seberang terdengar suara
jawaban. Oh, suara yang sangat kukenal.
“
Dengan siapa ini?”
“
Aku…aku”
“
Aku siapa?”
“
Aku…Tinus”
Sejenak
senyap. Malamku dalam rangkulan hening. Kudengar isakan tangis. Kudengar
sesenggukan. Kudengar ia mendesah, menarik nafas dan memuntahkan dendam.
“
Untuk apa kak menelponku. Semuanya sudah berakhir. Semuanya sudah hancur.
Kesetiaanku pun hancur. Sudahlah kak, kita jalani hidup masing-masing.”
“
Tidak ada jalan lain?”
“
Jalan lain apa lagi? Bejana cinta yang kita bentuk bersama telah pecah
berantakan. Untuk apa lagi?”
“
Kalau kita membentuknya kembali?”
“
Kak pikir gampang mengubah pengkhianatan menjadi ketulusan. Kak kira gampang
menghapus noda-noda hitam menjadi putih seputih salju?”
“
Bisa, kalau kita saling memaafkan.”
“
Ah, terserah kau saja kak. Aku sudah mati rasa cinta. Sudah tak tersisa lagi.”
“
Yah, kita memulai lagi. Menabur benih dan sama-sama menjaganya.”
“
Terserah kamu saja”. Suara Romana agak meninggi. Lalu ia mematikan handphone.
Terasa malam ini semakin kelabu. Sejuta tombak menikamku dari berbagai arah.
Suatu
malam aku mengutarakan niatku kepada Tante Lilin teman selingkuhanku di
Denpasar.Bahwa sudah saatnya aku memperbaiki cara hidup. Meluruskan
jalan yang bengkok dan kembali ke jalanNya, jalan hidup sebagai seorang
murid yang pernah diurapi dengan air dan Roh Kudus. Tante Lilin pun tak keberatan.
Toh hubungan kami sudah tak harmonis sejak tiga tahun terakhir.
Aku
memutuskan untuk pulang ke Aimere. Memulai lembaran baru. Kembali ke kehidupan
yang sebenarnya. Meskipun mungkin Romana sulit menerimaku. Aku tak
perduli. Niatku bulat, aku harus pulang dan memulai jalan hidup yang wajar
sebagai murid Tuhan. Maka aku memutuskan menelpon Romana.
“
Hai Romana”
“
Apa lagi yang kak harapkan dariku?”
“
Pemberian maafmu?”
“
Aku sudah memaafkanmu kak”
“
Aku tahu, tetapi ada satu hal yang perlu kau tahu. Besok aku pulang.”
“
Ke mana?”
“
Aimere”
“
Untuk apa?”
“
Untuk membangun kembali istana cinta yang runtuh. Kita berempat akan sama-sama
membangun kembali menjadi istana cinta yang megah.”
“
Berempat?”
“
Yah, berempat. Aku, engkau dan dua anak kita”
“ Kak
memaafkan aku?”
“
Tak usah dipersoalkan. Semuanya telah mencapai klimaks.”
Dan
malam ini aku benar-benar berdiri di depan Romana. Ia masih cantik
seperti dulu. Di samping kanannya Titiancinta. Dan di samping kirinya
Mayangrahmawati. Anak-anak titipan Tuhan.
“
Akhirnya kau pulang juga kak. Sayang, kak pulang setelah
kesetiaanku dinodai bercak-bercak hitam.”
“
Romana, aku lebih hitam darimu. Kini aku sadar bahwa cinta pertama itu
sulit untuk dikhianati. Aku tahu kita berdua pernah ditoreh bercak noda
hitam. Tapi aku percaya dengan saling memaafkan, yang hitam akan menjadi jauh
lebih putih, seputih salju.”
Seolah
kehabisan kata-kata. Kami tenggelam dalam haru. Kami berpelukan. Kami
berciuman. Kutahu kini seluruh noda hitam telah terhapuskan. Mulai detik
ini kami lebih senang menoreh titik-titik putih dalam lembaran
hidup. Agar di akhir perjalanan ada kisah indah yang pantas
diwariskan kepada dua anak kami. Dan ketika sampai waktu gong kematian ditabuh,
langkah kami bisa berjalan mulus menuju ke keabadian. Sebab kami telah kembali
menempatkan keluhuran sakramen perkawinan sebagai pilar utama cinta yang masih
terus disempurnakan. Tak ada yang mustahil warna hitam bisa menjadi putih kalau
ada sikap saling memaafkan. Dan itu yang telah kami lakukan. Sungguh, Tuhan itu
baik, kasih setiaNya kekal selama-lamanya.***
Denpasar,
30 November 2015
Setelah
pulang misa pembukaan Yubileum Tahun Kerakiman Ilahi.
*)
Catatan: Cerpen ini murni fiksi. Jika ada kesamaan tempat, nama dan jalan
ceritera itu hanya kebetulan. Tujuan cerpen ini adalah: Sebagai renungan bahwa
dalam perkawinan katolik selalu ada sikap saling memaafkan.
Komentar
Posting Komentar