CERPEN - 6
Perpisahan Cinta
Cerpen: Agust G Thuru
Sumur
tua di Wae Sugi kini tinggal kenangan. Sumur sedalam duapuluh meter itu
pernah memberikan air kehidupan kepada orang-orang yang bermukim di
Malapedho. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih tetapi juga untuk
mandi dan memberi minum ternak kuda. Sumur itu telah ditimbun oleh tuan
tanah puluhan tahun lalu. Sejak kampung itu mendapat berkat air leding dari
Waebhobho kehadiran sumur itu tak dimanfaatkan lagi.
Dan
suatu hari di November 2015 aku duduk pada bekas beton bibir sumur itu. Aku tak
tahu apa sebab orang menamakan sumur itu Wae Sugi. Mungkin karena seorang
tua bernama Sugi yang menemukan sumber air dan memrakarsai penggalian
sumur itu secara manual. Lalu untuk mengenang jasanya orang memberi nama
sumur itu Wae Sugi. Entahlah, aku sendiri tak pernah mendengar tutur lisan
tentang sejarah sumur itu.
Yang
paling penting dari sumur Wae Sugi itu adalah aku mendapat
segenggam waktu mengkhayal sesuatu yang tidak terjadi dan seolah-olah itu
terjadi dan menjadi sepenggal kenangan. Seolah menjadi sebuah episode dari
perjalanan hidupku yang bagai melata di atas onak duri. Menjadi seolah-olah
sejarah hidup yang kutulis pada kertas hitam kusam. Sejarah hidup dan
cinta yang berawal dari sumur ini. Itu tigapuluh tahun silam. Ketika muda
mudi pada senja hari sama-sama mandi di sumur itu. Dan pada suatu
senja gadis berambut panjang itu menimba air dan membasuh tubuhnya. Dia
gadis yang menggetarkan.
“
Sepertinya nona bukan orang Malapedho?” Tanyaku.
“
Iyah kak. Aku dari pulau seberang. Tugas di sini sebagai bidan desa.”
“
Oh, sudah lama di Malapedho?”
“
Baru tiga bulan. Kakak orang mana?”
“
Aku orang Malapedho ini.”
“
Maaf, soalnya aku baru lihat sekarang.”
“
Oh, aku kuliah di Denpasar Bali.”
“
Ohhh pantasan. Sekarang libur kak?”
“
Sudah selesai.”
Lalu
ia menimba lagi air dalam sumur. Dan membasuh tubuhnya. Mandi di tempat yang
terbuka tetap berlaku aturan sopan santun harus selalu berbalut sarung.
Namun aku bisa menangkap kemolekannya. Senyumnya sungguh menawan.
Selesai mandi ia berkemas untuk meninggalkan sumur itu.
Ketika ia hendak melangkah pergi aku menyapanya.
“
Maaf ibu bidan kita belum berkenalan.”
“
Oh ya, sampai lupa. Namaku Nona.”
“
Gusti” Dan kami bersalaman. Bergenggaman tangan. Terasa hangat. Penuh akrab
dalam hiasan senyum yang bermekaran.
Inilah
pertemuan pertamaku dengan Nona, gadisyang mengaku dari pulau seberang yang
mengabdi di kampungku sebagai ibu bidan. Pertemuan yang berlanjut dengan
pertemuan-pertemuan berikutnya. Pertemuan yang melahirkan benih-benih cinta.
Pertemuan yang mengantar kami berdua untuk tak segan-segan mengungkap kata
cinta. Pertemuan yang mengantar kami pada pertunanganan yang dihadiri
oleh para petinggi daerah. Dan pertemuan yang mengantar kami ke depan altar
gereja untuk saling mengikrarkan cinta dalam perkawinan sakramental.
“
Apa yang dipersatukan oleh Allah tak boleh diceraikan oleh manusia kecuali oleh
kematian.” Pesan Pastor yang menikahkan kami.
“
Kami pasti akan mengingatnya terus Pastor. Kami mau coba setia dalam janji suci
ini.” Kataku.
“
Ingat perkawinan adalah pertemuan dua manusia yang datang dari dunianya
masing-masing. Kalian harus mampu menjadikan dunia yang berbeda itu menjadi
satu dunia yang sama-sama memberikan kenyamanan pada kalian.” Pesan
Pastor.
Ternyata
kami tidak dapat menyatukan dunia kami masing-masing yang berbeda
itu menjadi satu dunia yang memberi kenyamanan. Sebab setelah lima tahun
pernikahan kami nyaris tak pernah bebas dari pertengkaran. Kata-kata kasar
mengalir dari bibir Nona maupun bibirku. Tak ada lagi pendarasan puisi cinta.
Rumah kami seperti liang batu yang gulita.
“
Aku menyesal pernah bertemu denganmu dan menikahimu. Seandainya aku tahu
kau seperti ini…”
“
Akupun demikian, menyesal pernah bertemu denganmu. Kau laki-laki yang tak punya
harga apa-apa lagi di mataku.” Suara Nona benar-benar menusuk jiwa.
Kami
akhirnya menjadi sangat terbiasa dengan kata cacian, hinaan dan cercaan.
Kami pun menjadi tak malu lagi bertengkar di depan orang lain. Bertengkar di
rumah, di jalan atau di depan gereja. Dimana api kemarahan memuncak, di
situ kata-kata melesat dari mulut seperti nyala api yang
menghanguskan. Dan demi membela Nona saudara laki-lakinya nyaris membunuhku.
Sampai akhirnya harus berurusan dengan polisi. Ini tentu bukan suasana
hidup yang aku dambakan. Maka suatu malam aku menyampaikan keluh kesahku pada
pastor.
“
Pastor, rasanya perkawinanku bukan firdaus tetapi ladang penuh onak
dan duri, penuh ulat bulu yang membuat tubuh kami tak nyaman.”
“
Kalian harus bertahan dalam suka dan duka, untung dan malang.”
“
Sebagai manusia aku tak mampu.”
“
Berusahalah untuk berdamai.” Ujar Pastor.
Suasana
rumah yang bagai neraka membuatku jarang pulang. Aku pun seperti kehilangan
pijakan. Bahkan aku merasa kehilangan diri sendiri. Akhirnya aku mengambil
keputusan. Meninggalkan Malapedho. Meninggalkan Nona. Meninggalkan
Putri anakku yang sulung dan Putra anakku yang kedua. Berat rasanya
meninggalkan dua anak yang tak berdosa itu. Tetapi aku tahu
kehadiranku di rumah sudah tak dibutuhkan.
“
Nona, aku pergi.”
“
Bagus, pergilah segera. Muak aku melihatmu di rumah ini.”
“
Begitu dalamnya rasa bencimu padaku?”
“
Ternyata kau tahu juga. Sudah, tunggu apa lagi, segera angkat kaki dari sini.”
Beberapa
saat aku menatap wajah kedua anakku. Memeluk mereka dan mengecup mereka. Lalu
melangkah pergi. Aku terpaksa harus membuat sebuah keputusan. Mungkin
dengan itu bara api rumah tangga tak lagi melahap dan
membakar tubuh dan jiwa kami masing-masing.Aku memutuskan ke Denpasar.
Perjalanan melalui jalan darat ke Labuan Bajo. Lalu menyeberang ke Bima dengan
kapal Ferry. Aku benar-benar galau. Rinduku pada Putri dan Putra adalah rindu
seorang ayah kepada anak-anaknya. Aku menjadi tubuh yang pergi membawa
beban berat dan jiwa yang melayang penuh luka.
Di
atas Ferry aku menangkap wajah seorang perempuan. Kedua bola
matanya sembab penuh air mata.
“
Maaf ibu sepertinya ada masalah.” Ia menatapku. Lalu bulir-bulir
air mata berguguran.
“
Ada masalah apa ibu?”
“
Aku diusir suami. Kini aku tidak tahu mau kemana. Aku telah kehilangan
harapan.” Aku tersentak. Ia senasib denganku.
“
Kita senasib. Kita menjadi orang-orang yang kehilangan harapan.”
Dan
sepanjang pelayaran kami menjadi teman ngobrol. Kami menjadi teman
curhat. Kami menjadi teman perjalanan menyusuri tanah Sumbawa lalu
menyeberang dengan Ferry ke tanah Lombok. Kami menjadi
teman duduk dalam perjalanan menyusuri tanah Lombok dan saat
menyeberang dengan kapal Ferry menuju Padangbay. Dan kami pun menjadi
teman satu kamar ketika hidup harus dimulai di kota Denpasar.
Tanpa rasa bahwa aku telah meninggalkan istri dan dua anak dan Noni
meninggalkan suami dan dua anak. Kami hidup layaknya suami dan istri
tanpa ikatan perkawinan. Hidup tanpa ikatan perkawinan selama bertahun-tahun.
Sepuluh tahun berkubang dalam hidup yang penuh beban. Bukan beban memikul
salib tanggung jawab tetapi salib dosa.
Sampai
di ujung malam menjelang tahun baru. Sejuta air mataku dan air mata Noni telah
menyuburkan lagi iman kami yang layu. Setelah kami sama-sama sadar betapa
jalan yang kami tempuh bukan jalan yang membahagiakan dan memberi jaminan
kebahagiaan. Setelah kami berdua sama-sama meresapkan makna pesan Paus
Fransiskus tentang keluarga.Tidak ada keluarga yang sempurna.Kita tidak
punya orang tua yang sempurna,kita tidak sempurna,tidak menikah dengan orang yg
sempurna,kita juga tidak memiliki anak yang sempurna.
Kita
memiliki keluhan tentang satu sama lain.Kita kecewa dengan satu sama lain.Oleh
karena itu,tidak ada pernikahan yang sehatatau keluarga yang sehat tanpa olah
pengampunan. Pengampunan adalahpenting untuk kesehatan emosional kitadan
kelangsungan hidup spiritual.Tanpa pengampunankeluarga menjadisebuah teater
konflik dan benteng keluhan.Tanpa pengampunankeluarga menjadi sakit.
Pengampunan
adalahsterilisasi jiwa,penjernihan pikiran dan pembebasan hati.Siapa punyang
tidak memaafkantidak memiliki ketenangan jiwa dan persekutuan dengan Allah.Rasa
sakit adalahracun yang meracuni dan membunuh.Mempertahankan luka hati
adalahtindakan merusak diri sendiri. Ini adalah Autofagi.Dia yang tidak
memaafkanmemuakkan fisik, emosional dan spiritual.
Itulah
sebabnyakeluarga harus menjaditempat kehidupan dan bukan tempat kematian,
sebuah tempat penyembuhan, bukan tempat penuh dengan penyakit, sebuah panggung
pengampunan danbukan panggung rasa bersalah.Pengampunanmembawa
sukacitasedangkan kesedihanmembuat hati luka.Dan pengampunanmembawa
penyembuhan,sedangkan rasa sakitmenyebabkan penyakit.
“
Noni, kita harus menyudahi jalan sesat ini.”
“
Iyah kak. Kita harus memutuskan jalan berdebu penuh onak duri ini. Mari
kita kembali
melangkah di jalan yang sesungguhnya telah dibangun untuk kita masing-masing.”
melangkah di jalan yang sesungguhnya telah dibangun untuk kita masing-masing.”
Esok
hari tepat 1 Januari 2016 tahun baru kami ke Bandara Ngurah Rai.
Dari sini kami memulai jalan hidup kami masing-masing. Noni telah memutuskan
kembali ke suami meskipun mungkin ia akan ditolak. Bagi Noni, cukup mendapat
maaf dan pengampunan dari suami dan anak-anak,itu sudah
membebaskannya dari belenggu. Dan aku kembali ke Malapedho berharap Nona dapat
melupakan masa lalu dan memulai merajut lagi hidup dalam cinta yang
lebih dewasa. Kuharap Nona mau memaafkan dan menerimaku lagi sebagai suami
meskipun tetap tidak sempurna dan menjadi ayah Putri dan Putra
dalam balutan cinta penuh maaf. Sebab apa yang dipersatukan Allah
tak boleh diceraikan oleh manusia kecuali kematian.***
Denpasar,
31 Desember 2015
*)
Cerpen ini fiksi, kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan saja.

Komentar
Posting Komentar