CERPEN - 2
Anak Titipan Tuhan
Cerpen: Agust G Thuru
Cakokkcem jolygram
Aku
menatap foto yang tergantung di dinding kamar. Foto
lengkap dengan pakaian kebesaran sebagai seorang imam. Foto yang
tersimpan apik pada pigura berwarna kuning berukuran 60 centimeter kali
40 centimeter. Foto itu seolah tersenyum padaku setiap saat.
Biasanya aku memandangnya sejenak lalu berdoa, Tuhan beri ia kekuatan
dan kesetiaan untuk bekerja di ladang anggur sampai tiba saatnya Engkau
panggil ia kembali kepadaMu.
Entah
mengapa malamini aku secara khusus memandang potret anakku semata
wayang. Tak terasa malam ini ia sudah sepuluh tahun menyerahkan
hidupnya sebagai pelayan Tuhan. Sepuluh tahun juga ia berkarya di sebuah
negara di Afrika jauh dariku. Tapi aku bahagia karena baru
saja tadi sore ia menelpon. Ia mengabarkan dirinya baik-baik saja.
“
Mama, aku baik-baik saja. Orang-orang di Afrika sedang merayakan sepuluh
tahun imamatku. Mama berdoa untukku dan untuk umatku di sini”
“
Iya nak, pasti. Mama akan selalu mendoakanmu dan mendoakan umatmu.”
Dengan
mendengar suaranya di HP saja aku sudah bahagia. Katanya, ia baru
akan cuti lima tahun lagi. Rasanya menunggu lima tahun sangat lama. Itu
berarti sejak ia ditahbiskan ia baru cuti setelah limabelas tahun di
negeri orang. Rasanya semua penderitaan, tantangan, kesulitan-kesulitan di masa
lalu terkubur sudah. Meskipun selalu ada bekas, selalu
terkenang. Seluruh penderitaanku telah dibayar dengan harga mahal
oleh Sang Pencipta, sumber segala kemurahan, sumber segala kebahagiaan.
Malamini
aku seolah menyusuri kembali kisah-kisah yang menggetarkan. Menyusuri
kembali kisah-kisah yang nyaris membuat imanku hancur remuk redam.
Aku tidak tahu mengapa waktu itu aku berani melawan keinginan bapak. Aku
heran mengapa ketika itu aku bisa menantang bapak yang adalah tokoh
terhormat di desaku. Kisah itu terjadi tigapuluh lima tahun silam. Ketika
aku duduk di SMA kelas Tiga. Aku berteman dekat dengan Restu. Aku dan
Restu tidak seiman. Suatu malam ia mengajakku pesta ulang tahun seorang teman.
Kami meneguk minuman keras. Dan aku melayang-layang. Aku mabuk. Pagi harinya
aku sadar sudah berada di kamar kos Restu. Aku sadar, sesuatu telah terjadi
padaku. Sesuatu yang tak kuinginkan. Kulihat Restu yang masih terbaring di
sampingku.
“
Restu, apa yang kau lakukan terhadapku?, aku menangis.
“
Sudahlah Nina, kau tenang saja. Nanti kalau ada apa-apa, aku bertanggung
jawab”, itu janji Restu. Janji yang tak ditepati. Karena setelah
dua bulan kami ujian negara. Restu menghilang dari kehidupanku.
Aku
merasakan ada perubahan dalam diriku. Diam-diam aku memeriksakan diriku ke
dokter. Aku pergi sendiri ke dokter karena aku tak mau ada yang
mengetahui hal terburuk yang aku alami. Dan hal terburuk itu pun terjadi. Aku
positif hamil. Aku benar-benar bagai ditampar oleh tangan raksasa.
Kepalaku seperti ditimpa dengan martil berkilo-kilo beratnya.
Pulang ke rumah aku mengurung diri dalam kamar. Ibu yang menangkap
perubahan pada diriku masuk ke dalam kamar. Ia duduk di ranjang memandang
aku yang terbaring dengan tatapan mata kosong ke arah langit-langit kamar.
“
Nin sayang, ada apa? Kamu sakit?” Tanya mama. Oh, suara mama yang lembut
membuatku makin terperosok dalam kesedihan. Apa yang harus aku katakan
pada mama? Akankah aku mampu melukai hati perempuan yang telah
melahirkanku?
“
Ayo nak, katakan, apa yang membuatmu murung? Biasanya kamu tuh
ceria banget. Mengapa hari ini berubah?”, tanya mama lagi. Oh, mama,
engkau wanita yang mulia. Aku akan melukai hatiku jika aku
mengatakan yang sebenarnya.
“
Mama, aku sudah jatuh…” Aku membenamkan kepala di dada mama.
“
Maksudmu sayang?”
“
Aku hamil”
“
Nina?”, mama berteriak. Derai air mataku tak terbendung lagi. Kurasakan
butir air mata mama membasahi pundakku.
“
Restu ma, Restu ayah janin dalam perutku”
Ibu
tak berkata-kata lagi. Perempuan itu diam. Matanya menatapku. Air matanya
berderai.Lalu ia memelukku, menciumku. Aku tahu ibu terluka. Tetapi semuanya sudah
terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.
“
Sebaiknya kita sampaikan pada bapa”
“Aku
takut, ma”
“
Kau harus berani nak, harus. Kuatkan hatimu”, bujuk mama.
Dan
malam itu menjadi malam yang sangat mencekam. Malam yang menguju
ketahanan iman. Malam yang menggiringku untuk tetap menjadi ibu dari bayi yang
kukandung atau berubah menjadi predator yang membunuhnya
dengan cara keji, digugurkan.Dengan gemetar aku bersimpuh di hadapan bapak. Aku
berkata sejujurnya.
“
Aku hamil, pak”
“
Apa, hamil? Siapa laki-laki yang melakukannya?”, Hardik bapa.
“
Restu, pak.”
“
Dimana dia, dimana rumahnya?”
“
Ia pergi entah kemana”
Kulihat
bapak diam sejenak. Aku tahu bapak sangat kecewa dengan perbuatanku yang
telah mencoreng nama baik keluarga. Lalu tiba-tiba bapa dengan tegas mengatakan
sesuatu.
“
Besok ke dukun, gugurkan. Aku tak mau punya cucu yang asal usul keturunannya
tidak jelas”
“
Bapa, maafkan Nina, maafkan. Biarkan Nina menanggung semua ini. Nina sudah
berdosa. Nina tak mau menambah dosa dengan membunuh janin yang tak
berdosa”
“
Kau tidak tahu bahwa perbuatanmu ini akan membuat bapa malu. Bapa ini tokoh
panutan warga, tokoh panutan umat, prodiakon. Apa kata orang nanti terhadap
bapamu ini?”
“
Biarkan Nina menanggung semuanya pa. Biarlah Nina pergi dari rumah ini,
demi nama baik keluarga”
“
bagus, besok pergi dari rumah ini.”, suara bapa tegas.
Esok
hari aku bersama mama meninggalkan rumah. Aku dan mama
akhirnya tinggal di kota ini. Mama harus menemani aku selama sembilan bulan
sampai aku melahirkan. Dan ketika Martin telah berusia enam bulan
dan dibaptis, mama pulang ke Jogyakarta. Lalu dari Jogya mama menelpon
bahwa esoknya nanti ada dek Surti yang akan ke Denpasar untuk
menemaniku. Aku berterimakasih dek Surti benar-benar datang. Ia
adalah keponakanku, anak dari bulekku.
“
Mbak Nina, kamu cari kerja. Biar aku yang merawat Martin.”
“
Serius dek?”
“
Mbak, aku ini adikmu, massa tak percaya?”
“
Aku percaya dek.” Aku membatin, Tuhan terimakasih untuk semua kebaikan,
mengirim Surti untuk menjadi pahlawanku.
Kebetulan
di sebuah koperasi kredit membutuhkan tenaga. Aku mencoba melamar
dan aku diterima sebagai tenaga kasir. Aku bekerja dengan tekun dan
jujur. Bagiku kejujuran adalah modal utama. Selain dengan kerja aku
menerima gaji, bapa dan mama masih tetap mengirim biaya bulanan.
Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakakku laki-laki sudah
bekerja. Mereka juga sering mengirimku uang.Suatu malam aku mendapat telpon
dari kakaku yang sulung di Australia. Ia kuliah di sana dan setelah selesai ia
bekerja di sebuah perusahaan besar.
“
Nin, kamu tak berniat kuliah lagi?”
“
memang aku bisa kak?”
“
Mengapa tidak? Ayo kuliah, biayanya kakak yang talangi. Kalau kamu
punya kemauan pasti ada jalan”
“
Tapi aku sudah bekerja kak?”
“
Kerjanya dari pagi sampai malam sampai pagi?”
“
Ya tidaklah.”
“
Jadi masih ada waktu untuk kuliah kan? Ingat kamu itu adik kesayanganku. Kamu
harus kuliah, titik. Besok aku transfer uangnya.”
Mas
Anton dan Mas Sonny memang sangat menyayangiku. Mereka mendorongku untuk
kuliah. Ketika kukabarkan hal itu kepada bapa dan mama di Jogya mereka sangat
mendukung. Sebab Martin yang sudah mau masuk sekolah dasar ada yang
mengurus. Dek Surti benar-benar sangat telaten. Jadi aku bisa dengan lega
memutuskan untuk kuliah lagi di Warmadewa mengambil program studi akuntansi.
Empat tahun aku menyelesaikan sarjana. Lalu dengan dorongan Mas Anton dan
Mas Sonny, kedua kakakku, aku mengambil program magister manajemen.
Tak
terasa Martin sudah ujian akhir di sekolah dasar. Ia lulus dengan nilai
sangat memuaskan. Ketika aku bertanya mau melanjutkan ke SMP mana, Martin
sejenak diam.Lalu ia berkata.
“
Ma, kalau Martin masuk seminari, mama setuju?”
“
Masuk seminari? Serius nak?”
“
Serius ma”. Kulihat aura kesungguhan di wajah anakku. Kupikir, ibu yang
bijak jangan membunuh keinginan dan menghalangi pilihan. Maka aku
mengatakan sangat mendukung.
“
Mama mendukung, nak.”
Sejak
Martin memilih masuk seminari, sejak itu aku berpisah dengannya.
Ia hidup di sebuah seminari dengan aturannya. Kupikir setelah
menyelesaikan seminari SMP Martin akan berubah pikiran. Ternyata
dugaanku meleset. Setelah lulus SMP Martin melanjutkan ke Seminari
SMA. Ia harus meninggalkan Bali dan pergi ke Jawa Tengah. Lagi-lagi
aku berpikir, mungkin Martin akan berubah pikiran setelah ia menyelesaikan SMA.
Ternyata aku meleset lagi. Martin diterima di sebuah serikat yang
mendidik para imam untuk menjadi misionaris. Frater Martin
menjalani panggilannya seperti air yang mengalir ke muara, tanpa halangan
menapaki jalan.Ia menyelesaikan studi filsafat tepat waktu. Lalu ia menjalani
tahun orientasi pastoral dua tahun. Ia kembali ke seminari tinggi di Malang
belajar teologi. Setelah itu kaul kekal disusul tahbisan diakon dan puncaknya
tahbisan imam. Dengan menyandang nama Pater Martinus, ia diutus ke
Afrika, menjadi misionaris di negeri itu.
Aku
tersentak ketika pintu kamarku diketuk. Aku membukanya dan tampak dek Surti
tersenyum.
“
Mbak umat lingkungan sudah pada datang. Kan ini malam ada doa syukuran sepuluh
tahun tahbisan Pater Martin.”
“
Oh ya, aku hampir lupa.” Sejenak aku kembali memandang potret Pater
Martin dan membatin. Nak, malamini mama bersama bulekmu Surti dan
umat lingkungan berkumpul di rumah berdoa untuk syukur atas tahbisan
imamatmu. Engkau baru sepuluh tahun menapaki jalan imamatmu. Jalanmu masih
panjang nak. Belajarlah untuk setia di jalan Tuhan yang telah Tuhan
sendiri rancang untukmu sejak engkau dalam rahim mama. Kutahu
engkau cuma dititipkan Tuhan dalam rahimku dan ketika tiba
saatnya Ia merebutmu dari genggamanku karena Ia membutuhkanmu untuk pergi
dan mewartakan wajah Kristus di negeri yang jauh. Engkau telah melangkah
lebih jauh. Selamat malam Pater Martin, aku mencium potretnya, penuh cinta.***
Denpasar,
4 Mei 2016
*)Cerpen
ini fiksi nama-nama hanya rekayasa, kesamaan adalah kebetulan
belaka.

Komentar
Posting Komentar