CERPEN - 12
Ibu
Cerpen: Agust GT
Kutatap wajah ibu yang terbaring di ranjang.
Perempuan itu sudah sangat tua. Seluruh helai rambutnya sudah
memutih. Wajah yang keriput memang tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ibu
sudah dimakan usia. Ibu kini memasuki usia sembilanpuluh tahun. Ia sudah
tak bisa berjalan. Ia hanya terbaring atau duduk di ranjang.
Tetapi yang membuat aku kagum adalah ibu
masih bisa mengenali siapa saja. Ia masih bisa melihat dengan sempurna.
Meskipun terbaring tangannya selalu menggenggam rosario. Kalau ia tidak
tidur aku bisa melihat bahwa bibir ibu komat kamit. Dan jari-jarinya
berpindah dari biji rosario yang satu ke biji rosario yang lain. Aku tahu
ibu berdoa rosario. Sejak muda ibu memang aktif di Legio Maria. Ibu
sangat aktif dalam kegiatan rohani.
Dari perkawinan dengan ayah ibu
melahirkan empat anak. Yang sulung laki-laki meninggal di usia 20
tahun saat aku belum lahir. Anak kedua kak Suster Maria memilih jalan
hidup membiara sebagai suster. Ia ditugaskan biaranya
berkarya di Papua New Guinea. Anak ketiga kak Lusia menikah dengan seorang
laki-laki penganggur. Ia bekerja sebagai guru di Kota Denpasar.
Mengajar matematika di sebuah sekolah menengah pertama negeri.
Sedang aku sendiri bungsu. Dengan perginya kakak sulung dalam usia muda
maka dalam keluarga akulah satu-satunya laki-laki. Ayah meninggal di usia
enampuluh tahun. Ia seorang pensiunan tentara dengan pangkat
terakhir Letnan Dua. Ayah meninggal di saat aku masih duduk di kelas dua
SMP.
Yang kuingat dari ayah adalah ia orang yang
sangat disiplin. Ia juga sangat religius. Ia mengajar kami untuk rajin
berdoa dan menghargai orang lain. Ayah mengatakan bahwa kami akan
mampu menghargai orang lain kalau mulai dengan menghargai keluarga sendiri.
Meskipun ia seorang tentara tetapi ayah mendidik kami dengan penuh
kelembutan. Aku ingat saat ia sakit dan terbaring di RSUP Sanglah. Ia
meninggalkan pesan yang sangat membekas sampai kini.
“ Rony, kau anak laki-laki.Kalau ayah pergi
kau harus mampu menjadi ayah untuk ibu dan kakak-kakakmu. Ingat
itu, jangan lupa.”
“ Iyah ayah.” Aku menjawab sambil
menganggukkan kepala. Kulihat ayah tersenyum. Dan tengah malam ayah pergi
untuk selamanya.
Dengan gaji pensiun ayah serta
pendapatan dari usaha toko ibu bisa membiaya pendidikan kami.
Kakak suster bisa menyelesaikan sarjana sebelum ia memutuskan masuk
suster. Kakak Lusia bisa menyelesaikan sarjana di Fakultas Keguruan
sebuah perguruan tinggi di Kota Singaraja. Dan aku dapat
menyelesaikan studi kedokteran di Fakultas Kedokteran Unud. Ketika kakak
Lusia bertemu suaminya sekarang sesungguhnya ibu tak
merestui.
“ Kalau bisa cari jodoh yang sepadan.
Sama-sama sarjana dan ada pekerjaan.” Nasihat ibu pada kakak Lusia.
“ Nanti juga dia bekerja bu. Meskipun
ijasahnya cuma SMA tapi ia sangat mencintaiku. Apa lagi kami seiman.”
“ Bukan soal seiman tapi pekerjaan. Si Lukas
itu belum bekerja toh?” Kata-kata ibu menggugah.
“ Kalau sudah ada anak pasti dia termotivasi
untuk bekerja.” Kulihat ibu terdiam sejenak lalu menatap kak Lusia.
“ Akhirnya engkaulah yang menentukan.
Karena soal cinta tak seorangpun boleh mengatur. Dirimu yang menentukan.
Ketika engkau salah memilih, semuanya akan salah. Ketika engkau memilih dengan
tepat, hidupmu akan penuh dengan madu manis.”
Setelah aku menyelesaikan program
spesialis aku mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah rumah
sakit di Kota Jakarta. Suatu malam aku mengutarakan niat pada ibu
bahwa aku ingin bekerja di Jakarta.
“ Bu, aku mendapat tawaran bekerja di sebuah
rumah sakit di Jakarta. Boleh aku menerima tawaran itu? Tapi kalau ibu
keberatan aku akan membatalkannya.”
“ Mengapa ibu harus melarangmu nak? Kamu itu
sudah menjadi diri sendiri. Kamu punya pilihan hidup sendiri. Kalau itu
keinginanmu, jalankan. Sebab masa depanmu ada di tanganmu.” Aku memeluk
ibu, menciumnya.
Aku meninggalkan ibu di Denpasar. Aku
tak perlu khawatir karena ibu akan baik-baik saja
bersama kakak Lusia dan suaminya. Aku yakin kakak Lusia dan
suaminya akan memperlakukan ibu seperti seorang anak terhadap ibunya. Maka
dengan tanpa kekhawatiran aku pergi ke Jakarta. Meski begitu aku selalu
menelpon ibu menanyakan keadaannya. Ibu selalu menjawab dengan
semangat dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Lima tahun kemudian aku
pulang ke Denpasar bersama calon istriku. Aku memperkenalkan
Maya kepada ibu. Tampak ibu sangat senang.
“ Segeralah menikah. Umur kamu sudah duapuluh
delapan tahun. Kalau menunda berarti menunda usia.” Kata-kata ibu mendorongku
segera menikah.
“ Ibu, kami pasti segera menikah.” Jawab Maya
sambil menggenggam tangan ibu dan menciumnya. Satu minggu kami berlibur di
rumah. Satu minggu pula aku tak bertemu dengan sosok Mas Lukas. Kak Lusia
mengatakan ia sibuk. Sampai kami pulang ke Jakarta kami tak bertemu dengan Mas
Lukas.
Setahun kemudian aku dan Maya kembali
ke Denpasar. Kali ini sengaja menemui ibu untuk minta restu pernikahan. Ibu tak
berkeberatan. Karena ibu sudah sangat sepuh ia tak bisa ke Jakarta. Kak
Lusia dan suaminya pun tidak menghadiri perkawinan kami. Kak Suster
Maria yang menjadi wali keluarga. Setelah seluruh urusan pernikahan
termasuk resepsi selesai kakak suster Maria kembali ke Papua New Guinea. Aku
kembali dengan rutinitasku sebagai dokter. Sedangkan Maya yang hamil setelah
tiga bulan menikah memutuskan untuk tak bekerja.
Sembilan bulan kemudian Maya melahirkan
seorang putri cantik. Kami memberinya nama Maria Putri Permata. Kakak
Suster Maria sengaja datang dari PNG untuk menengok keponakannya. Ia
minta cuti dua minggu. Satu minggu di Jakarta dan satu minggu lagi
di Denpasar. Suatu malam kakak Suster Maria berbicara dengan kami enam
mata.
“ Dik kalian berdua tak berniat pulang ke
Denpasar?” Tanya kak Suster Maria.
“ Di Jakarta ini kerjanya di rumah
sakit elit. Gajinya besar kak.”
“ Oh… kasihan ibu.”
“ Memangnya kenapa ibu?” Tanyaku.
“ Yah dik, nanti kamu tahu sendiri. Kalau
kamu tak kembali ke Denpasar, aku yang akan mundur dari biara. Kasihan
ibu.” Air mata kakak suster jatuh berderai. Aku menangkap ada yang
tidak beres dengan ibu di Bali.
“ Ada apa kak, apakah ibu sakit?”
“ Ibu sudah semakin tua. Ia hanya menjadi
beban orang lain.”
“ Kakak Lusia itu anaknya.”
“ Tapi suaminya orang lain.” Kata kakak
Suster.
Dua bulan berlalu. Kakak Suster Maria
menelponku. Ia menceriterakan bahwa ibu mendapat perlakuan kasar
dari Mas Lukas. Ibu dipandang mereka hanya menjadi beban. Mas Lukas
maupun kakak Lusia merasa sangat terbeban dengan keadaan ibu. Itulah
sebabnya ibu dititipkan di sebuah Panti Wreda.
“ Benar kakak suster?”
“ Yah, tapi jangan menyalahkan siapa-siapa.
Sekarang saatnya mencari solusi. Ibu harus keluar dari Panti Wreda. Ia
masih punya anak-anak. Mungkin aku yang akan meninggalkan biara demi
merawat dan menemani ibu.”
“ Tidak bisa begitu kak. Kakak Lusia harus
disadarkan bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat memalukan.”
Maya istriku merampas handphone dariku. Ia
lalu berbicara dengan kak Suster.
“ Kak Suster, ini Maya. Kakak tidak
boleh meninggalkan biara kecuali kalau kakak merasa tak ada panggilan lagi.
Kalau hanya alasan untuk ibu, kakak jangan lakukan hal itu.” Suara Maya tegas.
“ Tapi dik, kasihan ibu.”
“ Ada aku dan Mas Roni.”
“ Tapi kalian di Jakarta. Ibu di Denpasar.
Betapa jauhnya.”
“ Kak, semuanya akan beres. Minggu ini kami
ke Denpasar Bali. Selamat malam kak suster. Kakak yang tenang ya.”
Aku menatap wajah Maya. Ia memandangku.
Ia tersenyum. Ia mendekatku. Ia memelukku. Lalu dari bibirnya mengalir
kata-kata yang membuatku tertegun. Mendaraskan kisah hidupnya yang kehilangan
orang-orang tercinta saat masih sangat kecil. Ketika ia berusia sepuluh
tahun ayah dan ibunya mengalami kecelakaan pesawat. Sampai sekarang
jasad keduanya tak ditemukan. Maya lalu masuk di sebuah panti asuhan katolik.
Ia bisa menyelesaikan pendidikan dengan uang asuransi kecelakaan dari kedua
orangtuanya. Bahkan uang asuransi yang sisa ia hibahkan pada panti
asuhan.Bertahun-tahun ia kesepian tanpa seorang ibu.
“ Kita pulang ke Denpasar Mas, demi ibu.”
Kata Maya sambil memandangku.
“ Tapi pekerjaanku di Jakarta. Bagaimana
kalau engkau yang ke Denpasar. Aku tetap bekerja di Jakarta.”
“ Mas, dimana suami berada di situ istri
berada. Perkawinan akan langgeng kalau kita menikmati suka dan
duka di saat dan waktu yang selalu bersamaan.”
Sebuah keputusan besar kami lakukan. Kami
menjual rumah yang baru saja kami beli. Kami memutuskan meninggalkan
Jakarta dan kembali ke kota Denpasar. Bukan karena semata-mata demi ibu,
tetapi demi menemukan cinta seorang perempuan. Di
Denpasar kami membeli sebuah rumah sederhana. Dan suatu pagi
kami ke Panti Wreda. Ibu sangat senang melihat kedatangan kami.
“ Mana cucuku?” Suara ibu sambil berlinang
air mata. Maya menyodorkan Maria Putri Permata. Ibu menyambutnya dengan penuh
haru. Ia mencium berkali-kali cucunya itu. Lalu Maya mulai mengutarakan
niat kami.
“ Bu, kami mau jemput ibu pulang.”
“ Pulang? Pulang ke Jakarta? Tidak usah
nak. Ibu di sini saja. Panti ini sangat nyaman. Ibu ingin tetap di Denpasar.
Dan bila waktunya pergi, aku ingin dekat dengan ayahmu di Taman Mumbul.”
“ Bukan ke Jakarta Bu, tetapi di sini
Denpasar.” Kulihat ibu sejenak terdiam.
“ Sudahlah, nanti ibu merepotkan kalian.”
“ Tidak bu, kami tak merasa ibu merepotkan.
Kami senang kalau ibu selalu bersama kami.” Ujar Maya.
Lalu kulihat ibu meluruhkan air
mata.Tetapi ibu sama sekali tak menceriterakan apa yang ia alami meskipun
kami berusaha mengoreknya. Ibu selalu mengatakan tak ada apa-apa
yang pernah terjadi dan menyakiti dirinya. Ibu mengatakan dirinya masuk
Panti Wreda atas kemauan sendiri. Pada hal semua perlakuan kasar Mas
Lukas pada ibu adalah kenyataan. Mas Lukas yang mencaci maki
mengutuk ibu sebagai manusia yang tak berguna lagi. Bahkan menyumpahi ibu
agar segera mati saja. Tapi kisah pedih itu justru kami dengar dari tetangga.
Bukan dari mulut ibu. Mungkin karena itu ibu tak mau diajak pulang dan mau
tetap tinggal di panti.
“ Percaya bu, kami akan memberikan kasih
sayang. Kami ini anak-anak ibu. Kami juga tidak tinggal di rumah bersama
kak Lusia dan suaminya. Kami telah membeli sebuah rumah di Dalung
Permai. Di situlah bu, kita menjadi keluarga yang utuh, saling
mencintai.” Maya membelai rambut putih ibu. Dan ibu pun menganggukkan
kepala.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Peristiwa ibu kembali dari panti Wreda di usianya tujuh puluh lima tahun.
Kini ibu berusia sembilanpuluh tahun. Limabelas tahun sudah ibu bersama kami.
Sepanjang itu kami memberi perhatian, cinta dan kasih sayang. Ibu merasakan
semuanya itu.Dan hari ini ulang tahun ibu ke sembilanpuluh tahun.Kami
berdoa bersama ibu. Kak suster Maria pun sengaja datang untuk merayakan ulang
tahun ibu.Sengaja kami tak memberitahu kak Lusia dan suaminya.
“ Terimakasih nak Maya. Engkau anakku
yang tak kulahirkan dari rahimku. Tetapi kau telah memberi perhatian sepenuhnya
pada ibu.”
“ Ibu yang sehat ya. Kami semua mencintai
ibu.” Maya mencium ibu. Aku dan kakak Suster pun melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba dari pintu yang terbuka kak Lusia
berlari ke arah ibu sambil menangis. Ia sujud di depan ibu. Ia meraih kaki ibu
dan mencium telapak kakinya.
“ Maafkan aku ibu. Aku anak durhaka, maafkan
aku ibu.” Suara kakak Lusia terbata-bata.
“ Ibu sudah memaafkan. Sudah, lupakan saja.”
“ Terimakasih ibu.” Ia memeluk ibu.
“ Mana suamimu?” Tanya ibu.
“ Dia dipenjarakan karena terlibat
perdagangan narkoba.” Suara kakak Lusia melemah.
“ Ibu sudah menduga.” Suara ibu merendah lalu
meraih kepala kak Lusia dan menciumnya.
Aku berdiri tertegun. Hatiku berbunga-bunga.
Kata-kata doa mengalir dari sanubariku. Tuhan terimakasih Engkau
memberiku seorang Maya yang limabelas tahun merawat ibu dengan setia dan
penuh cinta. Terimakasih untuk kebekuan keluarga yang kini kembali
mencair. Terimakasih untuk kerja besar RohMu. Karena cinta itu dasyat dan
mampu mengalahkan segala kekuatan jahat. Selamat ulang tahun ibu. Kami larut
dalam bahagia.***
Denpasar, 19 April 2016
*)Nama-nama fiktif, kesamaan hanya kebetulan
belaka.
Komentar
Posting Komentar