CERPEN - 10
Ketika Cinta Harus Memaafkan
Cerpen: Agust G Thuru
Aku lupa tanggal tepatnya ketika jantungku
berdegup dan mataku terpana pada wajah seorang gadis blasteran Bali Maghilewa.
Yang masih kuingat adalah ketika itu ia bermain dengan ombak kecil di pantai
Wae Sugi. Sebuah pantai indah di Malapedho Inerie. Rambutnya yang panjang dibiarkan
terurai dan bagaikan layar terkembang dielus angin pantai yang bertiup
sepoi.
Sudah satu minggu gadis itu memberi warna indah di pantai
berjuta batu hitam. Pantai yang menyimpan kenangan masa kecilku hingga aku
remaja. Gadis itu bercanda dengan ombak hingga menjelang senja. Kadang ia
duduk di atas batu besar dan memandang matahari yang tenggelam di ufuk barat.
Memandang sinar matahari senja yang bertengger indah di puncak
Ngalu Roga. Kedua matanya pun sering mengerling ke utara menikmati
tubuh gunung Inerie dengan puncaknya yang seperti mata tombak siap
menusuk langit malam. Sering ia berlama-lama memandang ke laut lepas
menikmati ikan terbang yang tak malu-malu memamerkan kebolehan
akrobatiknya di udara.
Sebetulnya sejak hari pertama berlibur di Malapedho aku
sudah mendengar gadis itu menjadi buah bibir. Ia menjadi percakapan para
orang muda di kampung itu. Tentu saja gadis itu menjadi perhatian
karena ia cantik. Tubuhnya yang tinggi semampi dan kulit kuning serta
dua bola mata yang agak sipit memang membuat gadis itu nyaris sangat
sempurna.
“ Namanya Theresia. Ia anak bapak Ose. Ibunya keturunan
Cina Bali. Jadi wajar kalau dia itu cantik sekali.” Kata Tony sahabatku
semasa di sekolah dasar.
“ Anak dari bapak Ose siapa?” Aku bertanya pada
Tony.
“ Bapa Ose itu orang dari sini tetapi merantau ke
Bali dan sudah lama tak pulang. Orang kampung ini geger
ketika putrinya yang cantik itu datang berlibur. Theresia itu
memang cantik sekali. Kalau aku belum beristri, aku sudah kejar dia
sampai aku dapat.” Tony menghela nafas lalu meneguk arak pada wadah yang
disebut sea tua.
Aku tersenyum melihat tingkah sahabatku Tony. Dia teman
kelasku di Sekolah Dasar Inerie. Begitu menyelesaikan sekolah dasar lima tahun
kemudian ia menikah. Jadi ia kawin muda. Sedang aku
meninggalkan kampung untuk melanjutkan sekolah di kota Bajawa
kemudian menyelesaikan pendidikan menengah atas di kota Maumere.
Lalu bergabung dengan sebuah biara di Jawa Tengah. Dan kini aku kembali
ke kampung halaman untuk menyepi satu atau dua bulan sebelum mengambil
keputusan untuk mengikrarkan kaul pertama.
“ Teman, Theresia itu cocok untukmu. Ayo teman,
kejarlah.” Tony mengoceh. Dan aku pun tersenyum. Dalam hati aku membatin
secantik siapa gadis blasteran Maghilewa Bali bernama Theresia itu?
Keesokan hari aku bangun lebih pagi. Ini hari
Minggu. Menikmati udara pinggir pantai yang segar. Menikmati senandung
para penyadap tuak. Dan menikmati debur ombak laut sawu. Melangkahkan kaki dari
batu yang satu ke batu yang lain. Dan, di pantai Wae Sugi gadis itu
bermain dengan ombak. Ia seperti bidadari laut yang tanpa cacat. Ia
sungguh sempurna. Dan ketika aku mendekat kedua bola matanya seperti mata
tombak yang menusuk jantungku.
“ Theresia yang dari Bali itu?” Tanyaku.
“ Mmmm, yah, kog tahu namaku?” Ia balik bertanya.
“ Oh ya, Theresia sudah menjadi buah bibir di desa
ini.”
“ Ah, orang desa sini terlalu membesar-besarkan
peristiwa.” Ia tersenyum. Dan senyum itu membuatku melayang.
Kami bersalaman, bergenggaman. Kurasakan ada getar
dari dua telapak tangan. Telapak tangan seorang perempuan dan seorang
laki-laki. Kami melangkah menyusuri pantai Wae Sugi ke arah barat. Lalu
kami duduk pada sebuah batu besar. Nyaris tanpa jarak. Begitu dekatnya
hingga ketika angin menyibak rambutnya kurasakan helai-helai rambut
membelai wajahku. Kami saling memperkenalkan diri. Kami ngobrol untuk banyak
hal. Tentang laut, tentang bebatuan, tentang gunung, tentang kampung Maghilewa
dan tentang Bali yang tersohor itu.
“ Aku ingin menenangkan diri di kampung ini. Aku tahu ini
kampung ayahku tempat leluhur bersemayam. Aku telah berusaha
menyelesaikan masalah hidup dengan doa. Dan kini aku ingin leluhur
bekerjasama dengan Tuhan untuk memberiku jalan yang terbaik.” Suara Theresia
melesat dari bibirnya.
“ Memangnya masalah apa yang Theresia hadapi?” Ia
memandangku dan sekelumit senyum terurai dari bibirnya. Di saat sama jantungku
berdegup mungkin sama gemuruhnya dengan ombak pantai.
“ Aku bingung menentukan pilihan. Meneruskan hidup
membiara atau kembali menjadi orang biasa. Kembali menjadi
anak perempuan, menemukan jodoh, kawin lalu melahirkan anak-anak. Sungguh, saat
ini aku bingung.” Theresia merundukkan wajah. Kulihat ujung kakinya
memainkan sejuta butir pasir.
Aku terpana. Kebingungan Theresia sama
seperti kebingunganku. Theresia bingung mengambil keputusan untuk
mengucapkan kaul pertama sebagai pintu masuk ke tahap lanjutan hidup sebagai
biarawati. Sedang aku bingung mengambil keputusan untuk mengucapkan kaul
pertama sebagai tahap awal memasuki belantara hidup sebagai biarawan.
“ Kita satu nasib. Aku pun bingung mengambil keputusan,
meneruskan panggilan atau kembali ke dunia di luar biara.”
“ Oh ya, mungkin pertemuan kita ini adalah solusi.
Mungkin ini jawabannya.” Theresia memandangku dan baru kulihat jelas senyumnya
sangat mempesona.
Itulah pertemuanku pertama kali dengan Theresia.
Pertemuan yang berlanjut dengan menyusuri jalan berdebu ke Gereja
Santo Martinus Ruto. Pertemuan setiap hari di pantai Wae Sugi. Pertemuan
yang membuat kami lupa pada panggilan hidup masing-masing. Pertemuan yang
membuat liburan tak lagi berbatas hari atau bulan. Dan
pertemuan yang membuahkan cinta antara dua manusia. Kami akhirnya larut
dalam belanga cinta.
Sampai pada suatu tanggal keramat 29 Maret kami saling
mengikrar janji sehidup semati di depan altar di Gereja St. Yoseph Kepundung
Denpasar Bali. Kami menyatu dalam sakramen perkawinan menjadi keluarga,
suami dan istri.
“ Inilah jalan yang kita temukan bersama.” Ungkapku pada
Theresia.
“ Yah, semoga kita menjadi tanda yang
menggembirakan berkat pengalaman rohani kita di biara.”
Theresia tertawa sambil memelukku erat.
Usai menikah di Denpasar kami memutuskan kembali ke
Bajawa karena aku telah lulus seleksi calon pegawai negeri sipil. Lima tahun
perkawinan kami adalah masa-masa yang indah. Tetapi setelah putri
kami kedua lahir riak-riak rumah tangga mulai terasa.
Selalu ada pertengkaran. Selalu ada rasa cemburu. Bukan hanya
Theresia yang cemburu tetapi juga aku yang cemburu. Perkawinan kami
diwarnai dengan saling curiga. Tentang perselingkuhan. Tentang wanita idaman
lain. Tentang pria idaman lain. Tentang banyak masalah yang belum
tentu kebenarannya. Rumah tangga kami sudah benar-benar dikuasai oleh kepongahan
yang kami ciptakan sendiri. Sampai pada akhirnya mengalami puncak.
“ Sudahlah, aku sudah tak tahan. Aku muak, aku
bosan, aku jenuh. Aku tak menemukan lagi sesuatu yang berarti dalam
perkawinan kita.” Theresia mencercaku sambil berlinang air mata.
“ Kalau kau tak tahan, silahkan angkat kaki dari rumah
ini. Aku muak melihat mukamu.” Aku pun mengeluarkan kata-kata jauh lebih
pedas.
Pada usia perkawinan kami yang kesepuluh tahun semuanya
runtuh. Theresia kembali ke Denpasar Bali. Dan sejak itu tak ada lagi kabar
berita tentang Theresia. Beberapa kali aku ke Denpasar berusaha
mencarinya namun tak menemukan.Kepergian Theresia mengubah kehidupan. Aku baru
merasakan kesepiah. Aku baru merasakan betapa pentingnya seorang istri di
sampingku. Baru merasakan betapa penting kehadiran seorang ibu dalam
keluarga.
Limabelas tahun berlalu tanpa Theresia.
Anak-anakku telah tumbuh menjadi seorang remaja. Tetapi aku
berusaha memberi mereka pemahaman yang benar tentang sosok ibunya.Meskipun
harus dengan menipu bahwa ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di
Hongkong. Syukurlah anak-anak memahami. Dan mereka merindukan suatu saat
dapat bertemu dengan ibunya.Dan pagi ini 29 Maret telpon genggamku
berdering. Terdengar suara yang sangat kukenal.
“ Hallo, Mas, ini mama”
“ Mama, engkau dimana?”
“ Aku di Bandara Komodo dan siap transit ke Bandara
Turelelo. Mas jemput aku ya?”
“ Iya mama, iya..”
“ Aku kangen Mas”
“ Aku juga Ma”. Tak terasa air mataku berderai. Air
mata cinta. Air mata kerinduan.
Di Bandara Turelelo. Theresia menerobos kerumunan orang
yang datang menjemput kerabatnya. Lalu tanpa malu ia membenamkan
drinya dalam dekapanku. Kepalanya tenggelam dalam dadaku. Kurasakan
hangat air matanya. Kunikmati denyut jantungnya. Kubiarkan ia terbenam
lebih lama dalam dadaku. Lalu ia menengadah memandangku.
“ Maafkan aku Mas”
“ Sudah, kita sudah saling memaafkan”
“ Hari ini 25 tahun perkawinan kita Mas”
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Cuma pelukan yang semakin
erat. Dekapan yang semakin hangat. Dan cinta yang bermekaran kembali.
Lebih dari itu adalah saling memaafkan. Benar apa kata Bapa Suci
Fransiskus. Tak ada keluarga yang sempurna, tak ada suami yang sempurna, tak
ada istri yang sempurna. Perkawinan yang sempurna adalah bila ada saling
memaafkan.***Agus G. Thuru
Denpasar, 29 Maret 2016
Sebuah Renungan di Tahun Kerahiman Ilahi. Nama-nama dan
ceritera dalam cerpen ini fiktif. Kesamaan hanyalah kebetulan belaka.
Komentar
Posting Komentar