BAJAWA (4)




Aku rindu malam dingin Bajawa
Dan embun  jatuh dari langit
Rindu  pagi bersimpuh di tungku api
Menanak singkong untuk sarapan pagi
Dan merindu suara  bapak
Yang merayu-rayu
Menyeduh  satu mok kopi pahit
Oh, rindu pada masa lalu
Yang tak mungkin kembali


Kini  rinduku padamu Bajawa
Adalah rindu berbaur seutas kenangan
Rindu bersimpuh di pusara bapak di Ngedukelu
Sambil berbisik: Bapak Siku telah kusulut  lilin putih
Karena cinta dan kenangan
Tak pernah bisa  mati digilas waktu
Rindu bercanda  seperti di masa silam
Meski sia-sia menanti karena tak akan kembali


Bajawa aku  rindu padamu
Rindu musik alam  dari ruas-ruas bambu
Yang menjulang di kuburan Waewoki
Tempat  mama  Deta berbaring di puasara abadi
Tanpa sempat kuhantar di akhir perjalanan
Rindu cinta  yang tulus
Dan senyum yang mendamaikan
Ibu yang tak pernah menakar jasanya


Oh Bajawa kota cinta
Aku rindu bertandang di rahimmu
Melawat rumah abadi adik Ose sayang
Di kuburan Waewoki
Tempat ia tidur pulas selamanya
Di antara  bunga-bunga dadap yang mekar
Pada siulan sakral burung gagak
Sambil menyalakan  dian
Di gundukan tanah  yang masih basah


Bajawa, kau kota sejuta pesona
Di rahimmu kusimpan peristiwa suka
Potongan-potongan kenangan manis
Ketika cinta berbuah anak titipan Tuhan
Di rahimmu pula kuselip catatan duka
Kekasih-kekasih yang  pergi
Kini pun aku merindu Ngedukelu
Tempat mama Beth berdoa untuk anak-anaknya
Sebelum entah kapan ia pergi
Karena hidup  tak selamanya abadi.***

Denpasar,  25 Agustus 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN