BAJAWA (3)




Aku rindu mayang-mayang enau
Di rimbun hutan dadap
Yang mengalirkan  tetes-tetes nira
Dan penderes bersenandung
Menyatu dengan gesekan merdu batang bambu
Bersila kaki pada desau dedaunan
Sambil melantunkan mantra wejangan
Tentang kehidupan leluhur
Dan kehidupan kekiniannya


Rindu sejuta burung tekukur  terbang bebas
Mematuk ulat pada bunga jagung petani
Tanpa perlu meratap nasibnya
Yang  selalu terancam kepunahan
Di ujung senapan angin para bapa
Ah…aku rindu burung-burung mungil
Yang telah musnah  bangkit  lagi
Lalu menabuh genderang perang
Melawan kelaliman lingkungan
Demi kelestarian bumi


Aku rindu  Bajawa  yang ramah
Dipagar kekar bukit-bukit hijau
Dan pohon ampupu menebar wanginya
Kota berbalut  awan bernas musim hujan
Dan  sinar sang surya di telaga kemarau
Rindu bapa-bapa berselimutkan  kain panas
Saling membagi  tembakau daun lontar
Mama-mama  menginang di pasar Inpres
Sambil menjajakan dagangannya
Tanpa nafas bercumbu cemburu 


Olelele…aku rindu Bajawa
Dengan  hati yang lapang
Dan pikiran sederhana
Dengan cara hidup menurut warisan leluhur
Tanpa  menimbun dedam amarah
Dan  tak saling menoreh jiwa
Rindu Bajawa  menjadi bidadari
Berparas elok  rupawan sejati
Aku rindu Bajawa yang beradab
Meski jaman mengharuskan perubahan.***

Denpasar, 24 Agustus 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN