ANAK LERENG GUNUNG (7)





Ceritera Bersambung

Gambar terkait


 












***Tujuh***

Masa-masa sekolah  di lereng gunung sangat menyenangkan. Kami  sungguh menikmati dunia bermain. Orangtua membebaskan kami dari semua pekerjaan  selama musim sekolah.Kecuali mengambil air di sungai. Tetapi jika masa liburan  kami harus membantu orangtua mengembalakan kuda  atau menjaga kebun.

Dulu  masa liburan  adalah bulan Desember sekaligus  akhir tahun pelajaran. Kenaikan kelas  pada akhir bulan November  dan bulan Desember  liburan. Kami  masuk lagi pada tahun pelajaran baru pada  awal bulan Januari. Dengan demikian  pesta natal yang dilanjutkan dengan pesta adat Reba dan tahun baru dapat kami lalui dalam suasana  liburan.
Natal  merupakan pesta yang sangat ditunggu-tunggu. Biasanya  anggota keluarga yang merantau  pulang untuk merayakan natal di kampung. Sebab  setelah natal  dilanjutkan dengan pesta adat reba. Reba  adalah pesta budaya yang  dimulai dengan  upacara  bui uwi beberapa minggu sebelum reba. Kemudian  dilanjutkan dengan upacara dheke  reba. Semua anggota  suku berkumpul di rumah adat untuk makan bersama  yang disebut ka maki reba. Selama tiga hari  pesta adat reba  dimeriahkan dengan tarian yang disebut  O Uwi. Laki-aki dan perempuan, kaum muda dan remaja  serta anak-anak  bersukaria  dalam tarian O Uwi. Biasanya  O Uwi  dilaksanakan di halaman kampung yang disebut loka. Tarian ini dimainkan  mulai sore hari  dan berakhir pada pagi hari  selama tiga hari berturut-turut. Pada  pesta reba ini  kami bisa makan nasi dan daging  sepuasnya. Orangtua kami biasanya istrahat mengerjakan kebun. Mereka benar-benar menikmati kegembiraan pada pesta reba. Urusan menjaga kebun  diserahkan kepada anak-anak.
Aku dan beberapa teman sekelas mendapat tugas menjaga kebun di Wae Nabe pada saat pesta reba di siang hari. Kami baru dapat mengikuti reba pada malam hari. Aku, Tony De’e, Dami Jawa dan Remi Righo mendapat tugas menjaga kebun  masing-masing  di Wae Nabe. Kebetulan kebun kami berdekatan. Kami  biasanya  berkumpul di sebuah pondok yang disebut keka.
Kebun-kebun itu terletak di pinggir hutan. Karena itu kalau tidak dijaga  tanaman jagung  pasti ludes dimakan monyet-monyet yang jumlahnya bisa ribuan. Selain itu  ribuan burung kakatua dan burung nuri  serta burung gagak juga sering merusak  tongkol jagung. Tugas kami  adalah menghalau saat kera-kera  mencuri jagung dan saat  burung-burung itu merusak  tongkol jagung. Cara mengusir adalah dengan melempar pakai batu  atau berteriak sekuat tenaga. Cara lain adalah  dengan menyanyi.
Sebuah lagu yang sering kami nyanyikan saat  menjaga kebun adalah lagu No Piri (Menjaga Nuri). Lagu ini diajarkan oleh guru Valens Wangu namun tidak diketahui siapa yang menggubahnya. Anak-anak sekolah  masa itu  sangat menghafal lagu ini. Syair lagu itu,kami no piri, piri mena dhiri, kami jodho setoko, kami nore sewole, uta sobho le dongo, ne’e go koro dhobi zo, tobhi zo. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kami jaga burung nuri, burung nuri di pinggir kebun, kami maju  satu batang, kami mundur satu  tongkol, daun kacang  sudah siap  bersama  Lombok (sambal)  makan berulang-ulang merasakan nikmat.
Pada sore hari kami meninggalkan kebun setelah monyet-monyet dan burung-burung pemakan jagung  pulang ke persembunyian. Malam hari  kami  mendapat kesempatan untuk ikut O Uwi. Orang-orang tua yang pandai melafalkan syair-syair  O Uwi  menuntun kami  sebagai proses kaderisasi  atau pewarisan. Kami dilatih untuk bisa membawakan so’u  atau dha’o dan erelele  dalam tarian O Uwi tersebut. Pesta  reba  kemudan ditutup dengan upacara dhoi dan su’i  uwi. Pada upacara su’i uwi  tua adat biasanya mendaraskan kata-kata kearifan lokal yang disebut pata dela. Pata dela  selalu bermakna  agar hidup  harus  baik dengan semua orang, menghargai sesama, menghargai alam, menghargai leluhur dan menghormati Tuhan. Setelah pesta reba warga kampung  bersukacita  pada hari tahun baru. Kegembiraan itu ditandai dengan bermain alat musik  sambil bernyanyi  masuk ke rumah-rumah memberi  salam damai dan bermaaf-maafan. Biasanya  berawal dari kampung Jere, lalu ke Maghilewa, Watu, Bo Ngedo dan berakhir di Leke.
Desember  berlalu dan Januari pun datang. Kami harus kembali ke sekolah  dengan membawa kenangan  masing-masing. Yang menarik di hari pertama sekolah adalah  guru Valens Wangu pasti  akan memberi tugas  kepada setiap murid untuk menceriterakan pengalaman liburnya dalam bahasa Indonesia. Meskipun waktu itu kami sudah kelas empat  namun bahasa Indonesia kami belum lancar. Ada  kata-kata yang kami tahu dalam bahasa daerah  tetapi tidak kami tahu dalam bahasa Indonesia.
Aku ingat  waktu itu guru Valens Wangu menunjuk Geradus Wada  maju ke depan kelas untuk menceriterakan pengalamannya selama libur.
“ Wada ayo kau maju ke depan. Ceriterakan  pengalamanmu yang paling menyenangkan saat liburan.” Geradus Wada pun bangkit  dan maju ke depan kelas. Ia berdiri tegap  seperti sedang mengikuti apel bendera. Dan ia mulai berceritera.
“ Teman-teman, waktu libur aku jaga kebun di Wae Wete. Aku hanya sendiri saja. Pas sore hari langit mulai mendung. Tenggur  meneru-neru, silet  membhera-bhera. Saya takut sekali. Sekian pengalamanku.”
Kelas  menjadi hening. Semua diam dan memandang Geradus Wada. Guru Valens menyuruhnya mengulang kata-kata  khusus tenggur meneru-neru, silet membhera-bhera. Geradus Wada pun mengulanginya lagi.
“ Tenggur meneru-neru, silet membhera-bhera”
“ Maksudnya apa itu Wada?” Tanya guru Valens.
“ Maksudnya  go tegu nenga neru-neru, go sile nenga bhera-bhera”. Dan  gemuruh tertawa pun tak terelahkan. Guru Valens pun tak bisa menahan tawa. Lalu guru Valens menerjemahkan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“ Guntur  bergemuruh, halilintar  berkilatan.”
Kami  memang harus terus belajar untuk bisa fasih berbahasa Indonesia. Meskipun kami hanya  mengandalkan indra pendengaran. Sebab tak ada buku-buku yang bisa kami bawa pulang untuk dibaca di rumah. Aku beruntung kakak  sulungku yang bekerja di Seminari Mataloko  selalu mengirim  majalah-majalah bekas. Majalah itulah yang selalu  aku baca berulang-ulang. Maka tak heran jika di kelas enam  aku sudah bisa menulis ceritera meskipun dengan gaya bahasa yang sederhana.***Bersambung


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN