ANAK LERENG GUNUNG (6)


Ceritera Bersambung


 Gambar terkait



***Enam***

Musim kemarau tahun  1965 waktu itu aku duduk di kelas dua. Bencana kekeringan akibat kemarau panjang melanda  wilayah kecamatan Aimere. Kampung-kampung di lereng gunung juga tak luput dari kekeringan. Lahan  yang sudah disiapkan tak bisa ditanami padi dan jagung serta ubi-ubian  karena hujan yang dinanti  tidak datang. Kelaparan terjadi  di mana-mana. Tanaman kelapa di pesisir pantai  tak luput dari ganasnya kemarau. Daun-daunnya mengering. Pohon lontar  yang menjadi  sumber hidup sebagian masyarakat  tak bisa memberikan niranya.

Tetapi  masyarakat lereng gunung tetap menjalani kehidupannya. Kebun mereka di lereng gunung masih memberikan  kehidupan. Pohon pisang  masih memberikan buah meskipun  tidak bernas  seperti di musim hujan. Tanaman kelapa masih memberikan buah  meskipun  kecil-kecil.  Tanaman ubi-ubian  masih  menghasilkan umbinya. Makanan  itulah yang memberi kehidupan. Tanaman liar  di hutan belukar  masih  menghijau. Banyak sekali tanaman liar  yang daunnya bisa dimakan. Orang-orang di kampung  setiap hari mencari sayur-sayuran yang tumbuh liar di hutan seperti sayur paku atau uta roghe, sayur  daun balam  atau uta leke.

Pohon kelapa dan laut menjadi sumber utama bagi masyarakat untuk mempertahankan hidup di musim kemarau. Sebab daun apa saja  bisa dilawar dan dicampur dengan kelapa dan bumbu lombok serta  garam lalu menjadi enak. Di saat air laut surut masyarakat  mencari siput  atau  mengambil lumut batu  yang disebut  irinini dan disimpan berhari-hari di dalam bambu. Daun apa saja yang bisa dimakan dan dicampur dengan  irinini  akan sangat enak. Rumput laut  yang disebut  kebu  juga disimpan dalam bambu  dan  dicampur dengan  daun yang bisa dijadikan sayur  sehingga  terasa sedap di lidah.Daun pepaya  dicampur dengan  ubi-ubian  menjadi makanan pokok. Kami  jarang makan nasi. Panenan padi bukan untuk dimakan setiap hari tetapi untuk disimpan dan baru dipakai pada saat  ada pesta adat  atau waktu pesta reba. Biasanya  ibu-ibu yang akan menumbuk padi di sore  hari jika ada tamu yang disebut Ngo’e.

Kisah tentang tamu atau Ngo’e  adalah kisah  yang langsung diketahui oleh semua  warga kampung. Tanda-tanda  ada tamu yang datang adalah  ibu-ibu pasti akan menumbuk padi  di sore hari. Lalu  bapa-bapa  akan menangkap ayam  dengan cara mengejarnya  keliling kampung  sampai bisa tertangkap. Makan  nasi dan daging  ayam pada saat  ada  tamu disebut  ka sera.Biasanya  anak sekolah dasar  akan menceriterakan  di sekolah dalam bahasa daerah.Kami pu’u nebu belu na, ka go maki ne’e go sui manu, mule ena  na. Artinya  kami tadi malam makan nasi dan daging ayam, enak sekali.

Orang-orang kampung di lereng gunung dapat tetap bertahan  hidup di musim kemarau  karena taat pada kearifan local  toka serua, resi serua. Maksudnya  hasil panen  padi, kacang atau jagung  jangan dihabiskan. Setiap keluarga  pasti akan membangun  pondok kecil di belakang  rumah atau di kebun  yang disebut Bo sebagai tempat menyimpan  padi dan jagung. Panenan ubi-ubian yang melimpah  akan disimpan dalam sebuah  lubang besar yang disebut  dhoka. Panenan  jagung yang masih ada kulitnya  dipajang di atas pohon  atau  disusun di depan pondok  yang disebut Udo Sae.

Kehidupan  masyarakat lereng gunung di tahun 1975  sangat mencekam. Setelah kabar dari mulut ke mulut  beredar tentang  pembunuhan para jenderal  di Jakarta oleh pasukan cakrabirawa suasana kampung  menjadi  sangat menegangkan. Pada hal tahun-tahun sebelumnya  orang kampung bebas bicara tentang Partai Komunis Indonesia. Masyarakat pun  tidak berani  menyebut  kata partai komunis Indonesia.

Kami  para murid pun dilarang guru untuk tidak lagi menyanyikan lagu-lagu yang menyanjung PKI. Pada hal sebelumnya  semua sekolah diwajibkan untuk  menyanyikan  lagu Nasakom Bersatu. Aku masih ingat syairnya. Acungkan tinju kita, satu padu  bersatu, bulat semangat kita. Hayo terus maju, nasakom bersatu, singkirkan kepala batu, nasakom satu cita, sosialisme  jaya. Lagu ini  selalu kami nyanyikan saat  pulang  sekolah. Tetapi setelah peristiwa  G 30 S/PKI  guru-guru melarang kami menyanyikan lagu ini. Kamipun taat  pada perintah guru dan tak menyanyikannya lagi.

Peristiwa lain yang  sungguh mencekam  dan menyedihkan adalah bencana wabah kolera yang menyebar di kampung Watu. Waktu itu sekolah terpaksa ditutup sementara  untuk mengatasi penyebaran  wabah kolera. Anak-anak  yang tinggal di kampung Watu dilarang keluar  dari kampung itu. Anak-anak  dari kampung Leke  dilarang tidak boleh melintasi wilayah  kampung Watu walaupun hanya melewati  Welukaba dan Lekobheto  yang  masih jauh dari kampung Watu. Puluhan anak-anak  meninggal dunia termasuk murid Sekolah Dasar Inerie.

Wabah kolera dapat diatasi setelah  petugas kesehatan dari Aimere dan Bajawa  datang ke kampung Watu. Mereka disebut mantri. Para mantri kesehatan yang waktu itu datang ke Watu  adalah mantri Jan Kedeo dan mantri Jan Jani. Selain mengobati masyarakat  Watu  para mantra itu juga  mengobati  warga  Leke, Maghilewa dan Jere termasuk kami murid-murid SDK Inerie. Bencana wabah kolera pun berlalu. Kami dapat bersekolah lagi seperti biasa. Namun  sekolah kami kehilangan beberapa murid karena mereka  menjadi korban ganasnya  wabah kolera. Di hari pertama  masuk kelas guru Valens mengajak  kami  berdoa untuk perhentian jiwa teman-teman yang telah kembali kepada  Bapa di surga.

Suatu hari  di tahun  1965, aku lupa bulannya. Tetapi ketika itu  semua murid dari kelas  satu sampai kelas enam diperintahkan berbaris di depan kelas masing-masing. Ternyata  hari itu  bapa kepala sekolah Hendrikus Ria pamit. Setelah empatpuluh tahun lebih ia mengabdi di SDK Inerie dan menyatu  dengan  orang Maghilewa, ia harus pulang ke Naru Bajawa, kampung halamannya. Dan hari itu pula  kami diperkenalkan dengan Kepala Sekolah  yang baru  bernama Nikolaus Tuda. Mulai hari itu kami memiliki kepala sekolah baru Nikolaus Tuda. Di lubuk hati paling dalam  kami berterimakasih kepada bapa Hengky Ria  yang telah berhasil memanusiakan ratusan  anak-anak  Maghilewa, Jere, Watu dan Leke. Walaupun ia dikenang sebagai guru yang paling keras cara mendidiknya.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN