ANAK LERENG GUNUNG (3)

Ceritera Bersambung



 Gambar terkait



***Tiga***

Masa generasi kami mengenyam pendidikan dalam serba keterbatasan. Bukan saja keterbatasan  secara ekonomis tetapi juga secara sosial. Kampung-kampung di lereng gunung benar-benar  menjadi pemukiman yang terisolasi. Tak ada jalan raya dari kota Kecamatan Aimere  menuju desa-desa. Hanya ada jalan setapak  yang pada musim hujan rusak dikikis banjir. Tetapi  masyarakat hidup damai dengan  sikap gotong royong  yang sangat tinggi.

Sekolah Dasar Katolik Inerie juga menjadi  sekolah yang terisolir. Tetapi menurut catatan sejarah  sekolah yang didirikan tahun 1919 ini merupakan satu-satunya  sekolah di Ngada Selatan Bagian Barat. Dari sekolah ini dua tokoh pendidikan  dilahirkan. Mereka adalah guru Kristianus Nau Deru  dan bapa guru Woda. Keduanya telah menyumbangkan tenaga  untuk membangun anak bangsa  di Kabupaten Ngada. 

Meski  SDK Inerie terisolir tetapi guru-guru yang mengabdi di sekolah itu datang dari luar Kecamatan Aimere. Guru Hengky Ria  yang diberikan kepercayaan  sebagai Kepala Sekolah  tercatat dalam sejarah  SDK Inerie sebagai guru terlama mengabdi di sekolah tersebut.Konon sampai 40 tahun. Guru Aloysius Ade dari Maumere  juga pernah mengabdi di SDK Inerie bahkan menikah dengan wanita dari kampung Jere. 

Di masa generasi kami  saat masuk kelas satu kepala sekolah  bapa guru Hendrikus Ria atau yang popular dengan nama Guru Ria berasal dari Kampung Naru. Saat  naik ke kelas tiga bapa Guru Ria pindah ke Bajawa. Penggantinya bapa guru Nikolaus Tuda yang mengabdi  sampai  angkatan kami menyelesaikan pendidikan di sekolah itu. Aku ingat nama guru-guru yang pernah mengabdi di sekolah itu seperti guru Valens Wangu, Petrus Du’e, Yoseph Rawi, Yoseph Woi, Alo Buru. Guru Valens Wangu  adalah  guru  yang mengajar kelasku dari kelas satu sampai kelas enam.
Dari penuturan ayahku  para guru  datang dan pergi silih berganti. Tercatat nama-nama  guru Yoseph Dhei, Thadeus Sola, Martinus Rawi, Bernabas Abas dan lain-lain. Juga  pernah mengabdi guru Arnoldus Wea  dan guru Leonardus Nono. Setelah itu  sekolah ini exodus ke Malapedho. SDK Inerie di lereng gunung itupun ditutup.

Tetapi yang selalu kukenang adalah kami bersekolah dengan fasilitas yang tak memadai. Tak ada lapangan bola dan tak ada bola. Tetapi mata pelajaran olahraga  menjadi sangat menyenangkan. Olahraga paling favorit adalah bola kaki dan bola kasti. Biasanya pada pelajaran olahraga  anak laki-laki  bermain bola dan anak perempuan bermain kasti. Jika esok hari ada pelajaran olahraga guru Valens  akan memberi tugas  siapa yang harus menganyam  bola dari daun pisang kering. Bola daun pisang sebesar  buah kelapa itulah yang kami jadikan sebagai bola.

Tempat bermain  bola di depan Gereja St. Familia. Sedangkan anak perempuan bermain kasti di samping selatan gereja. Tidak ada tiang gawang. Tetapi anak laki-laki  mencopot sarungnya lalu ditumpukkan  menjadi gawang. Dengan demikian di masa kami  bermain bola dalam keadaan telanjang  sebab  kami belum mengenal celana.Kami tidak malu karena  semua  anak laki-laki bermain bola pisang dalam keadaan telanjang. Kalau ada murid yang memakai celana malah diolok-olok.

Pernah  suatu ketika  sekolah kami menerima  murid pindahan dari Jakarta. Namanya  Anus Lede. Ia lahir di Jakarta  tetapi setelah ayahnya  pensiun dari tentara  pulang ke kampung Watu. Hari pertama ke sekolah ia memakai  baju dan celana. Tetapi  karena semua  siswa memakai  sarung dan bertelanjang dada Anus Lede  mogok tidak mau masuk kelas. Keesokan harinya  ia memakai sarung tanpa memakai baju  sama seperti kami.

Meskipun  sekolah  jauh dari tempat tinggal tetapi kami jarang  bolos sekolah. Kami sangat takut pada opas  sekolah  yang pasti akan menjemput  di rumah atau mencari sampai ditemukan meskipun bersembunyi di hutan. Opas sekolah  waktu itu bapa Pius Mongu. Suatu ketika ada murid bernama Frans Juji tiga hari berturut-turut  tidak sekolah. Opas Pius Mongu pun pergi mencari di Tarasabi. Ketika Frans Juji melihat opas Pius Mongu ia lari ke hutan. Tetapi opas Pius Mongu dapat menangkapnya. Karena Frans Juji terus  memberontak opas Pius Mongu mengaitkan mata kail di telinganya. Lalu Frans Juji disuruh berjalan dan opas Pius Mongu  memegang tali pancing dari belakang. Dengan demikian Frans Juji tidak bisa melarikan diri. Jika ia nekat melarikan diri maka  akan menderita sakit.

Ini secuil wajah pendidikan masa dulu. Pendidikan yang keras bahkan merotani murid  menjadi salah satu cara pendidikan. Tetapi para guru  sangat tahu bahwa mereka tak akan memukul  kepala. Orangtua pun tak akan mengamuk kalau yang dipukul adalah pantat dan betis. Para guru  sangat tahu bahwa memukul kepala sangat beresiko dan bisa membuat  anak tambah bodoh. Selain itu mereka  sungguh paham  secara adat kepala anak laki-laki suku Ngada  sangat mahal harganya. Sebab anak laki-laki adalah calon pemimpin atau mosa laki dan mosa laki harus dihormai.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN