ANAK LERENG GUNUNG (23/SELESAI)
***Duapuluh tiga***
Kemana aku pergi kata-kata kandidat bruder terngiang terus. Pada hal aku tak memahami apa artinya. Suatu malam di pondok kebun Kopo Rongo aku menyampaikan niatku untuk masuk kandidat bruder kepada bapak dan ibu. Di tengah temaran lampu pelita dan asap api dari ringa api, sebuah tempat untuk memasak, aku sampaikan niatku. Kulihat bapa dan ibu memandangku.
Bapa melinting rokok dari daun lontar. Lalu ia menyulut dan menyedotnya dalam-dalam. Kulihat ibu dalam kondisi tak sehat. Setelah pulang dari RS Lela kondisi kesehatan ibu hanya sehat sesaat. Kemudian kembali sakit.
“ Tinus, kalau kau benar-benar mau masuk bruder, bapa dan ibu sangat mendukung. Nanti kau akan bersama-sama dengan kakakmu Bruder Seve”, ujar bapa. Bruder Seve adalah kakak sepupuku yang ayahnya Canisius Tena adalah adik kandung bapak. Mereka tinggal di Mataloko dan bapak Canis bekerja di Susteran SSpS Mataloko.
“ Ibu berdoa untukmu nak. Pergilah demi cita-citamu. Sebab kami nanti akan meninggal, tetapi engkau masih harus hidup”, suara ibu gemetaran.
Ketulusan bapa dan ibu mendukung niatku membuat aku kuat. Ketulusan bapa dan ibu juga mendorongku untuk bertemu dengan Pater Coen Classens,SVD ketika ia berkunjung ke Stasi Maghilewa. Aku mengutarakan niat untuk masuk kandidat bruder.
"Bapa pater, saya mau masuk kandidat bruder"
"Engkau benar-benar tertarik anakku?"
"Iya bapa pater.Aku ingin jadi bruder"
"Baiklah anak, nanti bapa pater yang akan mengirim lamaranmu ke Ende"
Tiga bulan berlalu, di suatu hari minggu pada misa kudus. Pater Coen Classens mengumumkan dua nama anak yang diterima di Kandidat Bruder. Namaku dan nama Leo Sebo. Warga paroki St. Martinus Ruto pun heboh. Nama kami menjadi buah bibir. Mungkin waktu itu paroki kami sangat kering, tak ada panggilan untuk masuk biara atau masuk seminari. Sehingga ketika ada remaja yang mau masuk biara hal itu dipandang sebagai hal yang baru dan mengharukan.
Aku dan Leo Sebo harus sudah masuk di Biara St. Yoseph Ende pada Januari 1974. Menunggu Januari 1974 itu terasa sangat lama. Karena itu aku sibukkan diri dengan kegiatan berkebun bersama bapa dan ibu. Aku sering ke hutan untuk menjerat ayam hutan.
Setiap hari Sabtu aku ke pasar Waesugi yang semakin ramai dikunjungi oleh masyarakat dan para pedagang.
Akhirnya Natal 1974 dan pesta Reba 1974 pun datang lagi. Saat upacara dheke reba di Sa’o Ledo semua anggota suku Turu hadir untuk makan bersama maki reba, suguhan adat yang menjadi berkah bagi anggota suku. Kewajiban makan bersama maki reba di Sa’o Ledo karena status Sa’o Ledo sebagai Sa’o Pu’u atau rumah pokok. Setelah dheke reba di Sa’o Pu’u baru dilanjutkan dengan makan bersama di Sa’o Lobo atau rumah akhir (ujung) dan rumah adat lainnya yang disebut pibe atau sipopali. Pada malam dheke reba itulah bapa memberitahukan kepada keluarga bahwa aku akan ke Ende untuk masuk kandidat bruder.
Namun ujian pun datang lagi.Sakit ibu semakin parah.Penyakit ibu bertambah parah setelah bencana angin yang meluluhlantakkan Maghilewa, Jere, Watu dan Leke serta kampung-kampung tradisional di pantai selatan Ngada. Januari 1974, sakit ibu semakin parah. Dan aku harus segera ke Ende untuk memulai hidup sebagai kandidat bruder. Malam sebelum esok, ibu memelukku lalu dari bibirnya yang kaku mengalir kata-kata yang terpatah-patah.
"Kau harus pergi esok, jangan hiraukan ibu"
"Tapi ibu sakit"
"Yah, masa depan ibu adalah kematian, masa depanmu adalah kehidupan" kata ibu dalam bahasa daerah.Bapa juga menginginkan aku ke Ende. Kata bapa, hidup mereka menuju kematian sedangkan hidupku menuju kehidupan. Aku dikuatkan, aku diteguhkan. Jika aku mampu mengambil keputusan meninggalkan Maghilewa bersama ibu yang sakit, itu bukan karena tak mencintai, tetapi karena kedua orangtuaku menghendaki hidupku bermakna.
Dan keesokan hari. Aku lupa hari tetapi aku ingat tanggal 4 Januari. Pagi-pagi bapa dan keluarga mengantarku ke pantai Waesugi. Di pantai itu Kapal motor Nirmala telah berlabuh. Aku naik ke kapal motor itu. Lalu dari atas kapal motor itu aku menatap Malapedho, menatap puncak gunung Inerie, menatap pucuk-pucuk lontar. Mungkin untuk selamanya aku akan membiarkan bapa naik turun pohon lontar itu sendirian, menyadap nira untuk disuling menjadi arak. Dan malam hari bapa pun sendirian memainkan okulele yang aku tinggalkan. Bapa akan sendirian menyandungkan lagu-lagu teke dan seu azi. Teke adalah senandung budaya yang mendaraskan filosofi penuh makna dan seu azi adalah senandung di saat senggang atau sedang bersenang-senang.
Kulihat di bawah rindang pohon beringin, bapa berdiri. Kedua bola matanya menatap lurus ke kapal motor Nirmala. Bapa tak melambaikan tangan. Tapi ketika mesin kapal motor dihidupkan dan nahkoda mengangkat sauhnya, bapa melambaikan tangan. Ada titik air mata berderai dari dua bola mata. Sedih meninggalkan orang-orang tercinta. Tapi yang terngiang di telingaku adalah kata-kata ibu, masa depan kami adalah kematian, masa depanmu adalah kehidupan. Yah, aku harus pergi, harus. Aku harus berani meninggalkan apa yang dicintai untuk sebuah kehidupan yang lebih bermakna. Untuk pertama kalinya aku merantau ke luar daerah sendiri, ke Ende, kota bersejarah yang kupelajari dalam pelajaran sejarah nasional.Selamat tinggal Maghilewa.***Selesai.
Komentar
Posting Komentar