ANAK LERENG GUNUNG (21)
***Duapuluhsatu ***
Kembali ke kampung Maghilewa dengan membawa selembar ijasah. Pada lembaran ijasah SMP itu tertulis nama Martinus Ghedo. Bapa meneliti nama yang tertera dalam ijasah itu dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku menatap wajah bapa.
“ Namamu bukan Martinus Ghedo”, ujar bapa.
“Terus nama siapa?”
“ Namamu Agustinus Ghedo”, ujar bapa.
Aku tidak tahu siapa yang salah. Ibuku yang bersama mama di Bajawa yang saat pertama kali mengantarku bertemu dengan kepala sekolah guru Nikolaus Ruma atau karena surat keterangan lulusan sekolah dasar yang salah menuliskan nama. Tapi aku tak mempedulikannya. Bagiku asal bisa lulus lalu setahun istirahat di kampung sesudah itu kembali mengejar cita-cita.
Kakakku Damian dari Maumere yang datang berlibur sekaligus untuk menjemput ibu berobat di RS Lela juga terheran-heran mengapa di ijasah tertulis nama Martinus.
“ Yah sudah, nanti kalau tahun depan masuk SMP rubah nama jadi Agustinus. Nama baptismu itu Agustinus bukan Martinus”, ujar kakak.
“ Kak,tahun depan aku sekolah?, tanyaku pada kakak.
“ Yah, harus sekolah. Tahun ini kakak mau mengurus kesehatan ibu dulu”
Sekolah masih menjadi hal yang langka dilakukan oleh keluarga di kampung. Mereka merasa bahwa sekolah akan mengeluarkan biaya yang besar, ongkos yang bisa menguras kekayaan rumah adat seperti rantai mas atau menjual tanah adat. Pada hal biaya sekolah tidak semahal yang dipikirkan. Tak heran jika banyak anak pintar yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Mereka tinggal beberapa tahun di kampung kemudian merantau. Di rantauan itu mereka belajar dari lingkungan hidupnya. Mereka memanfaatkan kesempatan untuk sekolah dengan biaya sendiri.
“ Nanti tahun depan engkau sekolah di SPGK St. Don Bosko, sekolah menjadi guru”, kata kakak.
“ Dimana sekolah itu kakak?”
“ Di Maumere. Kepala sekolahnya kakak Lukas Lusi, orang dari Ruto”. Maka di kepalaku mulai berkecamuk bayangan tentang kota Maumere dan tentang SPGK St. Don Bosco.
Beberapa anak mendapat kesempatan emas untuk bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Kakak-kakak kami yang mendapatkan kesempatan sekolah di Ende maupun Kupang seperti Yohanes Siga, Nikolaus Nay, Nikolaus Wele, Bartolomeus Dosi dan lain-lain yang tak kuingat lagi namanya. Aku tidak tahu kisahnya sampai mereka bisa sekolah karena dimasa mereka sekolah ke jenjang lebih tinggi belum terpikirkan.
Apakah mereka menangis bergulingan di tanah agar orangtua luluh hati dan membolehkan mereka melanjutkan sekolah? Ah, kupikir itu kisah hidup para kakak. Mereka tentu memiliki nostalgia tersendiri.
Desember 1972 pesta reba di kampung Maghilewa, Jere, Watu dan Leke. Pesta reba yang tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Tahun 1972 SDK Inerie dipindahkan oleh Kepala Desa Inerie Rofinus Raga ke Malapedho. Masyarakat Maghilewa dan Jere pun banyak yang pindah menetap di Malapedho sebuah tempat di pinggir pantai Wae Sugi. Langkah berani dari Rofinus Raga untuk memutus mata rantai isolasi mendapat dukungan dari masyarakat. Bermukim di tepi pantai tentu akan membuat komunikasi dengan dunia luar menjadi lebih mudah. Para nelayan pulau Ende dan Bima bisa datang untuk menjual bahan pokok yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak.
Namun pesta reba dalam keluarga Sa’o Ledo terasa sendu. Sebab setelah itu kakak harus membawa ibu ke Maumere. Aku ingat ketika itu tanggal 28 Desember 1972 kakak bersama ibu dengan menumpang kapal motor Siti Nirmala di Wae Sugi meninggalkan kampung. Aku tidak tahu untuk berapa lama ibu dirawat di rumah sakit St. Elisabeth Lela. Mungkin satu bulan, dua bulan atau mungkin setahun. Yang kurasakan adalah melepas kepergian ibu dengan derai air mata.
“ Ibu, aku ikut…”, teriakku ketika ibu dipapah kakak menaiki sampan kecil untuk diantar ke motor Siti Nirmala.
“ Tinggallah di kampung, ibu akan segera kembali”, jawab ibu.
Dan ketika mesin motor Siti Nirmala menderu dan menerpa ombak aku menatap sampai kapal motor itu hilang di kelokan Ngalu Bere.Aku menghabiskan hari-hariku bersama bapa yang menyadap pohon lontar untuk diambil niranya. Aku membantu bapa dan merawat seekor kuda jantan yang kuberi nama “ie doto”. Nama itu berasal dari saat kuda meringkik dan di akhir ringkikannya ia akan mengeluarkan suara ringkik berulang-ulang. Aku tinggal bersama bapa di Malapedho. ***Bersambung
Komentar
Posting Komentar