ANAK LERENG GUNUNG (18)


***Delapanbelas***
Ketika kami masuk sekolah di SMP Sanjaya Bajawa kami tidak memakai pakaian seragam. Kami juga tidak memakai sepatu apa lagi sepatu berharga mahal. Kami juga tidak memakai sandal sekalipun sandal jepit. Kami tidak memakai topi dan dasi. Kami memakai pakaian bebas. Kepala sekolah hanya melarang, jangan pakai celana benglon ke sekolah.

Tetapi kalau jam olahraga kami boleh memakai celana benglon. Suatu hari pada jam olaraga temanku Martinus Laga lupa membawa baju olahraga. Dan aku kebetulan memakai baju alas warna putih. Tinus Laga meminjam baju alasku itu.
“ Tamo, saya pinjam kau punya baju ko”, pintanya.
“ Baik tamo”, jawabku sambil menyodorkan baju alas tersebut.Tamo adalah sapaan untuk dua orang dengan nama yang sama. Ia tidak langsung memakai tetapi mengamati. Lalu ia berteriak.
“ Aleeee, ne’e go tuma”, yang artinya alleee, ada kutu. Aku malu dibuatnya. Lalu aku merebut kembali baju alas itu.
“ Kembalikan bajuku. Kau telah membuatku malu”, aku marah.
“ Ale tamo, saya bercanda ko”. Jujur saja, kota Bajawa adalah kota di pegunungan yang sangat dingin. Karena dingin kami juga jarang mandi. Karena jarang keluar keringat baju yang kami pakai juga tidak kelihatan kotor meskipun tidak dicuci satu sampai dua minggu. 


Aku ingat saat kami pulang libur dan masuk di kelas dua. Sebelum libur kepala sekolah mengumumkan supaya mulai Januari 1971 semua siswa harus ke sekolah dengan memakai sandal. Terserah sandal merek apa saja. Kami pun ramai-ramai membeli sandal. Waktu itu yang paling banyak dijual di toko adalah sandal Colombo dan sandal lili. Sendal kelombo terbuat dari plastik yang alasnya berlubang. Aku membeli sandal itu di toko baba Mela. Aku harus latihan memakai sandal itu di halaman SDK Bajawa III karena rumah kami dekat sekolah itu. 

Karena takut terlambat dan supaya sandal itu awet ke sekolah kami harus menjinjingnya. Sebab kalau dipakai langkah kaki kami tidak selincah tanpa memakai sandal. Lagi pula pada Januari masih musim hujan dan jalanan kota Bajawa berlumpur tanah liat. Tanah akan masuk di lubang alas sandal membuat sandal menjadi berat dan langkah kaki kami pun tak lagi lincah. Tak heran jika semua siswa mulai kelas satu sampai kelas tiga, baik perempuan maupun laki-laki menjinjing sendalnya masing-masing saat ke sekolah. Sendal baru dipakai saat masuk kelas.
Pemandangan menjinjing sendal ke sekolah tak terlihat lagi saat kami masuk hari pertama di kelas tiga. Semua sudah lincah memakai sandal. Semua siswa memakai sandal baru. Teman Niko Gelang memamerkan sandal barunya.
“ Kamu tahu, ini sandal aku beli di kota Ruteng”
“ Kota Ruteng di mana itu?”, tanyaku.
“ Ibukota Kabupaten Manggarai”, jawabnya. Aku jadi malu karena sesungguhnya ilmu geografi juga mengajar tentang nama kabupaten dan ibukota di seluruh Nusa tenggara Timur.
“ Sendalku ini aku beli di Kalabahi”, ujar Samsudin Nur sambil memperlihatkan sendalnya.


Aku menatap sandal Colombo milikku. Masih awet. Memang sendalku itu jarang dipakai. Setiap pagi aku menjinjingnya saat ke sekolah. Ketika pulang sekolah aku kembali menjinjingnya. Di rumah sandal itu kusimban baik-baik pada tempatnya di kolong tempat tidur. Aku tak memakainya saat mencari kayu ke Wae Betu atau Watu Sewua aku tak memakainya. Saat libur ke kampong aku tak membawa serta sendalku. Aku lebih suka berjalan menyusuri jalan berbatu di lereng gunung Inerie dengan kaki telanjang. Mungkin karena telapak kakiku sudah kebal. Dan aku terbiasa dengan bentukan secara alamiah.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN