ANAK LERENG GUNUNG (13)
Ceritera Bersambung


***Tigabelas***
Kota Bajawa Pebruari 1970. Kabut menyelimuti kota
yang hijau oleh daun-daun advokat dan
daun dadap. Bunga dadap berwarna merah
membuat lereng bukit sekitar kota itu menjadi indah.Bunga kopi mekar mewangi di
bawah rerimbunan pohon dadap. Bajawa yang sunyi tanpa lalu lalang kendaraan.
Jalan-jalan berlumpur tanpa dibalut aspal.
Hari pertama aku masuk sekolah di SMP Sanjaya Bajawa. Dari
rumah tanta dan pamanku di
Ngedukelu harus berjalan kaki melewati
jalan setapak untuk sampai ke sekolah. Jalan
berlumpur tanah liat. Kami ke
sekolah tanpa memakai seragam. Kami
berpakaian bebas namun sopan. Kami tidak
memakai sepatu atau sandal. Kami berjalan dengan kaki telanjang. Tanah liat
melekat di telapak kaki. Biasanya sampai
di sekolah sebelum masuk kelas harus membersihkan telapak kaki dari tanah liat.
Hari pertama masuk sekolah adalah hari Senin.Sebelum masuk
kelas harus apel bendera. Kami berbaris
di halaman sekolah yang cukup luas
ditumbuhi rumput hijau. Para guru berbaris di teras sekolah. Biasanya kepala
sekolah Niko Ruma memberikan wejangan
kepada para siswa. Dan ia selalu tak lupa megingatkan para siswa agar membersihkan tanah liat yang melekat di
telapak kaki masing-masing sebelum masuk
ke dalam kelas.
“ Ingat anak-anak, sebelum masuk
kelas bersihkan itu tanah liat yang
melekat di kaki kalian. Biar kelas tidak penuh dengan tanah liat. Paham?”
“ Paham pak.” Dari semua
suara para siswa kudengar suara Abel Nono paling keras. Ia kebetulan
berbaris berjejer denganku. Ia berasal
dari Langa.
Aku adalah siswa baru yang masuk
terlambat. Sebab teman-temanku sudah bersekolah sebulan. Mereka sudah mendapat pelajaran dari para guru. Di
hari pertama itu aku mendapat pengalaman
yang mendebarkan.Sebab begitu duduk
dalam kelas pada jam pertama langsung ada ulangan ilmu ukur. Guru ilmu ukur bernama
Paulus Go masuk dalam kelas kami.
“ Anak-anak hari ini ulangan ilmu
ukur. Sudah siap?”
“ Siap pak.” Jawab para siswa.
Aku terbengong-bengong. Kata-kata
ilmu ukur saja baru aku dengar saat itu. Kebetulan aku duduk satu deretan bangku dengan Roni
Pea. Aku bertanya padanya.
“ Jou, ilmu ukur kena go apa?”
Aku bertanya dalam bahasa daerah yang artinya teman ilmu ukur itu apa?
“ Ilmu ukur itu ilmu untuk ukur-ukur.”
Jawa Roni Pea sekenanya.
Guru Paulus Go menulis soal di
papan tulis. Aku berbisik pada Roni Pea mengatakan bahwa aku belum tahu bahkan tidak tahu apa-apa. Tapi
Roni Pea mengatakan nanti ikut saja
hasil pekerjaannya. Perbuatan curang itu berjalan lancar dan aman. Ulangan ilmu
ukur berjalan sukses. Bukan karena aku tahu mengerjaan soal tetapi karena
temanku Roni Pea yang adalah teman sekolahku di SDK Inerie Maghilewa sudah
lebih dulu mengerti dan ia bisa mengerjakan soal itu. Nilai ulangan ilmu ukur kali pertama ini sembilan, sama persis dengan nilai yang diperoleh Roni Pea.Tapi
dari pengalaman hari pertama itu aku
terpacu untuk meminjam semua cacatan pelajaran yang diajarkan guru-guru dari
Roni Pea. Di rumah aku menyalinnya dalam buku cacatanku sambil belajar.
Pelajaran kedua Aljabar. Guru pelajaran aljabar adalah
Yakobus Bota. Ia masuk kelas tanpa senyum. Makanya teman-teman
sangat takut dengan sosok guru yang satu ini. Apa lagi aljabar dipandang sebagai pelajaran tersulit.
Pelajaran ketiga bahasa Indonesia. Guru
bahasa Indonesia adalah Lipus Tolo.
Inilah pelajaran yang aku sukai. Entah mengapa sejak sekolah dasar aku sangat suka pelajaran bahasa Indonesia.
Usai tiga pelajaran kami beristiraha. Saat istirahat sangat menyenangkan.
Waktu istirahat itu kami duduk bertiga yakni aku, Roni Pea dan
Darius Riwu. Darius Riwu dari Aimere.
Kami ngobrol tentang Aimere dan Maghilewa. Lalu Abel Nono dari Langa bergabung
dengan kami. Ia bertanya kepadaku.
“Tinus Ghedo, kau dari mana?”
“ Saya dari Maghilewa.”
“ Oh, mengapa namamu Ghedo? Orang
Langa banyak yang bernama Ghedo terutama
dari ebu Poso. Keluargaku juga banyak
yang nama Ghedo.” Abel Nono memandangku.Ebu Poso adalah salah satu klan atau suku yang
mendiami Langa terutama di kampung Sopawara.
“ Nenek saya yang memberi nama
Ghedo saat saya baru dilahirkan. Ghedo
adalah bapa dari nenek saya Du’e Deru. Ia berasal dari kampung Sopawara di Langa.”
“ Oh, pantas namamu Ghedo. Nama
lain dari Ghedo adalah Moti.”
“ Betul teman.” Jawabku.
Hari pertama yang menyenangkan
sekaligus mendebarkan. Kelas satu dibagi dalam dua kelas yakni kelas IA dan
Kelas IB. Kelas A semua siswa laki-laki
sedang kelas B adalah kelas campuran. Sahabatku Leo Sebo Neno dari Kelitei
di kelas B itu. Yang juga sangat menyenangkan adalah setiap hari selalu ada catatan-catatan yang
mendebarkan dan mengharukan. Kami dibungkus
dalam kabut Bajawa dan menciptakan sejarah serta menulis kenangan masing-masing dalam
hati sanubari.***Bersambung
Komentar
Posting Komentar