WORO

Cerpen: Agust G Thuru

Malapedho 1980. Daun lontar masih menghijau meski kemarau bulan Juli semakin mendera. Laut masih tetap biru menawarkan  panorama memesona. Dan pucuk Inerie masih berdiri perkasa tanpa selembar awan putih. Dari sebatang pohon lontar sayup kudengar lantunan suara penyadap om Baslius.

Angin kering menyapu Malapedho hingga debu beterbangan di udara. Buah kepok  tua terbelah dan benang-benangnya yang berwarna putih bertebaran di langit. Orang kampung  menyebutnya wonga boa. Dan matahari pagi  sudah menggigit kulitku. Tapi aku menikmatinya sambil menyusuri jalan setapak dari lorong satu ke lorong tiga tempat sekolah berada. Setelah berhenti mengajar di SMP Jaramasi aku memutuskan pulang kampung untuk mengabdi di SMP Pancakarsa. Meski  suara sang Nabi terus mengiang  menghantuiku. Tak ada nabi yang diterima di tanah kelahirannya sendiri. Aku coba menyepelekan nasihat sang Nabi itu. Kali ini aku pulang ke liang rahim ibunda meski tak menakar waktu dan akan bertahan hingga  kapan.

Anak-anak kampung berseragam putih biru berlarian menuju sekolah. Mereka seperti  rusa yang berlari-lari di padang rumput. Dan aku baru sadar hari ini Senin  dan seperti biasa  hari Senin sebelum pelajaran dilaksanakan upacara pengibaran bendera. Mungkin takut terlambat  sehingga anak-anak itu berlarian. Debu beterbanga seirama dengan derap langkah mereka.
“Selamat pagi pak guru”, sebuah suara mengejutkanku. Aku menoleh ke belakang. Melihat Woro yang gugup.
“Cepat Woro, kau terlambat”

Dan Woro semakin mempercepat larinya. Woro adalah salah satu siswa. Ia tinggal bersama orangtuanya di kampung tradisional Maghilewa. Setiap pagi ia harus menempuh jarak lima kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Dan usai sekolah ia akan menempuh jalan yang sama, mendaki  bukit untuk sampai kembali ke kampung tradisional.

Woro sama saja dengan anak-anak  lainnya. Tetapi ia sedikit pendiam dan mudah gugup. Kesan inilah yang masih kuingat sampai saat ini. Setelah itu aku tak tahu  seperti apa kehidupan Woro karena aku memutuskan meninggalkan kampung dan pergi ke Pulau Jawa. Juli 1981 aku seperti seekor rajawali  ingin terbang  tinggi ke langit untuk memetik bintang. Jika ada  berjuta-juta bintang, aku ingin memetik cukup satu saja. Sejak itu  aku tak mendengar lagi kisah  anak bernama Woro itu. Menjadi apa dan dimana dia aku tak pernah tahu lagi.

Beberapa kali aku pulang ke kampung Maghilewa sekedar libur dan bersiarah ke pusara  ayah dan ibuku. Setelah itu kembali lagi seperti burung rajawali terbang ke pulau seberang. Tahun 1993  aku pulang ke kampung tidak sendiri. Aku membawa perempuan Yogyakarta, istriku. Kali ini aku dapat bertahan hingga lima tahun. Dalam kurun waktu tersebut aku tak sekalipun bertemu dengan Woro.
“Dia  ada di Surabaya, pak Guru”, kata Mia kakak perempuannya.
“Sudah berapa tahun  dia di Surabaya?”, tanyaku.
“Sudah lama pak Guru”, jawab Mia.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Woro memutuskan merantau ke Jawa. Salah satu pamannya tinggal di Surabaya. Mungkin  itu yang membuat Woro merantau ke Surabaya.

Tahun 1998  aku memutuskan meninggalkan Flores.Bersama istri yang  sedang hamil satu bulan dan  anak sulung aku meninggalkan Flores, meninggalkan Ngada, meninggalkan Maghilewa. Bukan  karena kata-kata Injil, tak ada nabi yang diterima di tanah kelahirannya tetapi karena merasa jauh lebih nyaman tinggal di tanah rantauan. Setelah beberapa bulan di Yogyakarta  kami lalu menetap di Bali. 

Pada sepenggal waktu di Bali aku pernah bekerja di kandang babi. Suatu hari  seorang pemuda datang ke kandang. Ia tampak sederhana saja. Tak ada yang istimewa pada orang ini.
“Pak Guru, selamat sore”, suaranya khas Maghilewa.
“Engkau siapa  eee”, tanyaku.
“Aku Woro, Tinus Woro”.
Ia merangkulku. Dan kami berangkulan. Lalu selanjutnya bernostalgia tentang Maghilewa, tentang Malapedho dan tentang SMP Pancakarsa. Berceritera tentang Ema Wuli dan Ine Dhone  dan tentang saudara-saudara di Maghilewa. Berceritera tentang guru-guru yang mendidiknya dengan cara mereka masing-masing. Dua minggu setelahnya Woro pamit  dan sejak itu  aku tak pernah tahu lagi dimana dia.

Baru tiga tahun terakhir ini  aku tahu apa  kegiatan Woro. Dia bukan orang besar. Juga bukan pejabat apa lagi disebut orang penting. Dia hanya salah satu rakyat dari 250 juta rakyat di negeri ini. Tiga tahun lalu aku membaca dari media Woro menggegerkan Jakarta dan mungkin Indonesia. Woro nekat memanjat menara sutet di Bekasi yang menurutnya adalah bentuk protes terhadap ketidakadilan. Tahun 2014  ia membawa puluhan warga desa Inerie ke Jakarta  untuk bertemu dengan Presiden guna menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan. Puluhan warga pun nyaris melarat  di ibukota  kalau saja tak ada sanak saudara yang  sudah  mapan di kota metropolitan itu. Dan berita terhangat tentang Woro adalah tepat di HUT Proklamasi 17 Agustus 2015  Woro memanjat  Tower di Pelabuhan IPI Ende. Dari atas Tower Woro mengibarkan bendera merah putih  sambil orasi agar pemerintah memberikan rasa keadilan  kepada semua warga Negara.

Aksi nekat Woro pun ditulis oleh media cetak mapun media sosial. Bahkan Woro sendiri yang mengirim pesan singkat ke wartawan RRI di Jakarta. Media sosial menulis kata-kata menghentak, Agustinus Woro Wuli, warga kampung Maghilewa, Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada nekat memanjat  tower. Ini berita media sosial yang bertebaran di dunia maya. 

Aksi Woro sangat meresahkan aparat yang terus memintanya segera turun dari tower itu. Keluarga pun mengecam aksi yang dilakukan Woro. Semua orang pasti tidak  menyukai aksi yang dilakukan Woro. Tapi salahkah Woro menyuarakan hati nuraninya dengan caranya sendiri? Aku tak perduli Woro  mau memanjat Tower, Sutet atau  Monas sekalipun. Lalu ia terjun bebas dan tewas. Atau ia mati kelaparan. Atau disambar petir. 

Yang aku catat  dari aksi Woro adalah ia orang Maghilewa dan berita media sosial  menulis  kata Maghilewa. Aku berharap  dunia mengenal Maghilewa  dan tergerak untuk tahu lebih dekat  seperti apa Maghilewa itu. Kampung tradisional yang penuh warisan kultur dan budaya harus diperkenalkan kepada dunia. Jika orang-orang normal yang diberi wewenang dengan biaya Negara  tak bisa memperkenalkan Maghilewa kepada dunia, mungkin Woro  menjadi penyalur aspirasi, bukan saja memperkenalkan Maghilewa, tetapi memperkenalkan Ngada dengan cara yang gila. Mungkin kita perlu orang gila seperti Woro untuk menyadarkan banyak orang bahwa ketidakadilan, ketidakmerataan, diskriminasi, masih menjalar di negeri ini. Maka, biarkan Woro mengapresiasi dengan caranya, cara orang gila.***

Denpasar, 17 Agustus 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU