SURAT DARI KAMPUNG
Kukirim surat ini untukmu
Saudaraku di rantauan
Untuk memberitahumu
Tentang kampung kita
Bahwa matahari masih garang
Alam masih mendera
Tanah-tanah belum basah
Dan hujan belum bertandang
Petak-petak tanah ladang sudah digarap
Siap untuk menebar benih
Tapi alam belum juga ramah
Kemarau belum bertepi
Sia-sia menebar bibit
Jika tanah tak bakal menumbuhkan kecambah
Semua yang hidup satu persatu meranggas
Pisang kapok meregang nyawa
Jambu mente mandul tahun ini
Bunga-bungan cengkeh berguguran
Mayang kelapa tak lagi bernas
Nira lontar sudah mengering
Singkong tak berumbi
Semua dalam bayang-bayang kekeringan
Hanya laut Sawu yang masih membentang
Di pantai selatan gunung
keramat
Ikan dan siput masih berlimpah
Lumut batu masih tersedia
Tapi leluhur kita belum bersahabat
Dengan debur ombak dan kehidupan malam
Di bentang samudera luas
Kukirim surat ini untukmu
Agar kau senantiasa berjaga
Bahwa anak-anak kampungmu
Akan terperangkap musim lapar
Tangis bayi akan terdengar
Di setiap rumah tangga
Kubur-kubur baru akan bertambah
Karena busung lapar akan memakan korban
Surat ini kutulis untukmu
Agar kamu yang tinggal di kota
berjaga-jaga
Jika desamu dalam bencana
kelaparan
Kuharap kau turun ke jalan
Lalu mengemis demi kami di desa
Atau mendatangi rumah-rumah
orang kaya
Minta sumbangan untuk para jelata
Kuharap mereka mau berbagi
Dan mencurahkan ketulusan
Di tahun kerahiman ini.***
Denpasar, 7 Januari 2016
Komentar
Posting Komentar