SUATU HARI DI JAKARTA



Suatu hari di belantara ibukota
Tak ada padang hijau
Tempat  kambing mengembik
Dan kerbau mengoak
Tak ada sungai bening
Tempat  mengaca wajah
Tak ada pematang sawah
Dan petani  menyentak tali orang-orangan
Ini ibukota negaraku
Tanpa selimut awan mendung
Dibakar  terpaan matahari siang

Ini kota tanpa pelangi
Tak ada hutan belukar
Tanpa daun-daun perdu
Dan  ranting-ranting semak berduri
Tak ada celah kesunyian
Semua bergerak tanpa senyum
Jalanan kotasemakin sempit
Orang-orang sedang bertarung
Dengan dirinya sendiri

Pohon-pohon beton pencakar langit
Dengan polesan  bedak wangian  mentari
Kokoh  menusuk  wajah langit biru
Orang-orang kaya sesak mendesak di jalan raya
Memamerkan mobil-mobil mewah
Memenuhi kursi-kursi di gedung megah
Menikmati hidup bertabur kemewahan
Tanpa jendela  terbuka untuk melihat dunia
Karena  kamar adalah surganya
Yang tak boleh dirampas atas namaperaturan

Di  titik-titik bawah pencakar langit
Gubuk-gubung reot  bertaburan
Tempat si miskin  menumpang tidur
Kawin dan melahirkan anak-anak
Dan mereka yang selalu  berjaga-jaga
Karena  laskar penguasa
Bisa datang tanpa diundang
Menggusur  tiang-tiang kehidupan
Meluluhlantakkan jiwa dan raga
Dengan dalil demi  menegakkan aturan

Di kolong jembatan tengah kota
Perempuan-perempuan  menjajakan cinta
Dan para banci  menjual paha
Anak-anak menadah tangan
Dan perempuan menyusu bayinya
Pengamen  memainkan  gitar kalengan
Dan  pemabuk menenggak arak oplosan
Kehidupan yang  selalu diusik petugas ketertiban
Tetapi mereka  sudah terbiasa
Dengan  penertiban yang keras

Ibukota negeriku di malam hari
Dibalut kemewahan sejuta mega  lampu
Bercahaya  menerpa lorong-lorong kumuh
Menerobos  sungai-sungai penuh sampah
Dan para jelata  tidur di rumah karton
Tampa  cahaya kehidupan
Karena mereka sudah terbiasa dalam kegelapan
Seolah tanpa hak atas kehidupan
Yang lebih sempurna

Di gedung dewan mereka berteriak-teriak
Hai, lihatlah rakyat yang makin susah
Tetapi mereka merancang proyek-proyek
Untuk menyejahterakan  anak-anak bangsa
Para koruptor pun tersenyum
Merancang cara menyunat anggaran
Rakyat  adalah komoditi yang dijual
Dan mereka dibiarkan untuk tetap melarat
Agar dsi saat lain masih bisa dijual lagi

Kotaku Jakarta
Aku semakin asing di rahimmu
Sendirian di tengah berjuta sesama
Aku tak bisa  mengikuti iramamu
Sudahlah, aku ingin pulang ke desa
Karena di sana  aku masih menemukan
Orang-orang yang berbagi senyum
Dan membuatku damai
Selamat tinggal Jakarta.***

Jakarta, Maret 1984

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU