SEKOLAH DI LERENG GUNUNG
Harum bunga cengkeh
menusuk hidungku. Daun-daunnya seolah melambai mengucapkan selamat
datang pada anak pantai selatan yang pulang dari rantau. Pagi yang cerah
membawaku jauh ke masa lalu. Pada angka tahun 1963 sampai 1969. Rentang waktu yang tak pendek.
Dan pada rentang waktu yang panjang itu
masih tersimpan catatan-catatan yang sulit kulupakan.
Aku berdiri termangu di bawah rimbunan pohon cengkeh. Masih kudengar burung pipit
bersiul meski tidak sebanyak dulu.Aku seperti bertemu dengan guru Hengky Ria. Wajahnya tidak garang seperti waktu
dulu ketika empatpuluh tahun ia mengabdi di kampungku. Ia pria tangguh dari kampung Naru.
“ Kau mencari apa di sini?” Aku seperti mendengar
pertanyaannya.
“ Mencari jejak-jejak ribuan orang yang pernah memijakkan telapak
kakinya di sini”, jawabku.
“ Oh ya, semuanya tinggal kenangan. Masa lalu itu telah
terkubur bersama berlalunya waktu”
Dan bayangan guru
Hengky Ria pun hilang. Aku tersadar.
Ternyata aku hanya membayangkan masa lalu yang pasti tak akan
kembali lagi. Tapi sosok guru Hengky Ria
seolah tetap hidup di dalam jiwa generasi bapa ibuku yang masih hidup, generasi anak-anak di atas generasiku dan generasiku. Juga pada jiwa beberapa
generasi di bawahku. Sosok guru yang tegas dan mengabdi di sebuah kampung
terisolir waktu itu. Mengabdi sebagai
kepala sekolah SDK Inerie selama
empatpuluh tahun.
Kini aku berdiri di
atas tanah bekas berdirinya sebuah
sekolah dasar yang telah menjadikan ribuan
anak kampung Jere dan Maghilewa tidak buta huruf. Berdiri pada lahan yang kini
ditumbuhi beribu batang cengkeh dan
mengenang gubuk beratap ilalang tempat
anak kampung Watu dan Bo
Ngedo menimba ilmu dan membuat mereka bisa menghitung.Mengenang gedung sekolah dengan dinding bambo tempat
anak-anak kampung Leke belajar
berbahasa Indonesia.
“ Kau sedang
mengenang masa lalu di tempat ini?” Aku
seperti mendengar suara guru Niko Tuda. Guru yang menggantikan guru Hengky
Ria menjadi kepala sekolah. Sepuluh
tahun ia mengabdi di desa dan
melahirkan anak-anak di tempat ini.
“ Iya bapa, aku
mengenang masa silam. Ketika bapa
mengajar anak-anak negeri agar menjadi pandai walaupun
tidak menjadi pejabat”. Guru Niko
Tuda tersenyum lalu bayangan itu hilang.
Ternyata aku hanya
melamun saja. Mengenang masa silam ketika
anak-anak generasiku menimba
ilmu di sebuah sekolah di lereng gunung jauh dari kebisingan kota.
Mengenang sekolah bertiang batang lontar
dengan atap ilalang yang kusam. Mengenang
sekolah berdinding pelupu yang dibuat dari bambo. Sekolah tanpa
meja dan kursi yang memadai. Sekolah
tanpa perpustakaan, tanpa buku-buku. Tanpa lapangan bola dan WC
yang sehat. Mengenang sebuah sekolah
di desa jauh dari sentuhan uang
Negara.
Kini di atas tanah tempat
bangunan reot itu berdiri telah tumbuh
seribu batang cengkeh dan kemiri.
“ Sudahlah Tinus, kau jangan menyesali perubahan. Sebab
yang abadi adalah perubahan”. Aku seperti mendengar suara
guru Leo Nono yang juga pernah mengabdi
sebagai kepala sekolah.
“ Betul bapa Leo. Aku setuju, pada akhirnya yang abadi
adalah perubahan”. Dan bayangan bapa Leo Nono pun terbang menjauh dariku.
Aku mencatat kembali kemegahan sekolah di lereng gunung. Sekolah yang telah menghasilkan ribuan petani dan penyadap tuak. Menghasilkan
ratusan perantau yang memilih pergi ke pulau Jawa. Pergi ke Surabaya atau
Jakarta. Dan puluhan orang dari para perantau itu tak pernah pulang meskipun mungkin hanya sekedar menengok atau berlibur.
Aku mencatat sejarah, dari rahim SDK Inerie juga lahir para tokoh yang mengambil bagian di
pemerintahan maupun di lembaga swasta.
Lahir sejumlah pejabat negara dan guru-guru yang mengabdi di sekolah negeri.
Lahir pula jurnalis dan politisi. Mereka
kini ada yang masih hidup dan ada yang telah kembali ke pangkuan
Bapa di surga.
Kenangan yang masih
utuh dalam jiwaku adalah ketika generasiku
masuk di sekolah ini Januari 1963. Aku
lupa tanggalnya. Tetapi biasanya tanggal 5 Januari adalah permulaan tahun
ajaran baru. Aku dan anak sebaya dari
Maghilewa, Jere, Watu, Bo Ngedo dan Leke
dihantar oleh orangtua ke sekolah. Tapi aku sendiri tak diantar orangtua tetapi oleh kakak perempuan yang
saat itu duduk di kelas empat.Hari pertama
tak ada pelajaran. Yang dilakukan
guru adalah mengukur tangan yang dilingkarkan di kepala.
Jika ujung jari
menyentuh telinga maka akan
diterima masuk di kelas satu. Tetapi
jika ujung jari tangan kanan belum menyentuh telinga berarti belum cukup umur untuk sekolah
meskipun usianya sudah enam tahun. Tampak aneh tetapi itulah metode menerima murid
baru di masa lalu. Hari kedua diwarnai dengan riuhnya tangisan anak-anak
yang harus ditinggalkan oleh orangtua.
Dan hari-hari selanjutnya adalah belajar
tanpa target, akan menjadi apa nanti di
kemudian hari.
Generasiku adalah generasi
yang mencicipi sekolah dalam keterbatasan. Tidak ada pakaian seragam dan sepatu. Kami ke sekolah tidak membawa
buku tulis dan pensil tetapi batu tulis dan kalam. Kami lebih mengandalkan
kemampuan mendengar apa yang guru
ajarkan. Tak ada pekerjaan rumah. Tak ada pelajaran menulis ceritera. Tetapi guru mendidik kami
untuk pandai berceritera. Setiap anak
disuruh ke depan kelas dan berceritera
dalam bahasa Indonesia.
Kami pun tak mempunyai tas
dengan isi setumpuk buku. Tetapi
setiap hari kami membawa bekal
ubi bakar atau pisang bakar yang disimpan pada wadah
yang disebut lega atau bere dianyam dari daun lontar.
Bekal menjadi sangat penting karena tempat tinggal kami
di kebun yang jauhnya lima sampai sepuluh kilometer dari sekolah. Setiap
hari kami harus membawa air dan seikat kayu bakar untuk guru kelas. Pada jam
istirahat pun kami disuruh guru kelas
untuk mencari kayu bakar atau mengambil
air di Wae Tena yang jaraknya lima
kilometer dari sekolah. Kami melakukan
semua itu tanpa merasa bahwa kami telah
dimanfaatkan guru untuk kepentingannya. Justru
kami bangga bisa melakukan
sesuatu yang bermanfaat bagi para guru kami. Pada musim kerja kebun atau
kebun kacang hijau kami tidak
sekolah tetapi ke ladang untuk membantu guru. Tak ada yang protes, tak
ada orangtua yang merasa bahwa guru telah mempekerjakan anak-anaknya.
Ketika di kelas satu
generasiku mendapat guru kelas Valentinus Wangu. Ia menjadi guru kelas generasiku sejak kelas satu sampai kelas enam. Ia
mengajar dengan caranya sendiri. Dengan metode yang mungkin ia ciptakan sendiri. Tak ada model satuan pelajaran atau persiapan mengajar seperti sekarang ini.
“ Tinus, kau pasti akan selalu mengenangku”, aku seperti
mendengar suara guru Valens Wangu.
“ Oh tentu saja pak guru. Aku selalu mengenangmu bahkan seumur hidupku”,
aku seolah menjawabnya.
“ Yah engkau dan teman-temanmu adalah murid istimewa. Kamu pintar dan
bersahaja. Engkau, Roni Pea, Ose Madha, Dami Jawa, Tinus Rato, Toni De’e adalah murid yang pintar. Kamu sebelas orang
adalah murid pintar dari puluhan orang lainnya. Sayang tidak semuanya melanjutkan sekolah ke SMP”.
Dan bayangan guru Valens Wangu lenyap. Yang kutangkap adalah sosoknya yang
membuatku kagum. Bukan karena aku pernah jatuh cinta dengan anak
sulungnya Marselina tetapi karena dia yang telah membuatku menjadi manusia apa adanya hingga hari ini ketika catatan hidup sebagai
anak sekolah dasar tahun 1963 sampai
1969 terukir dalam sanubariku. Di
rentang waktu ini sejumlah guru datang mengabdi di kampungku. Masih aku ingat guru Yoseph Woi, guru Piet Du’e,
guru Alo Buru dan lain-lain. Mereka telah menanam benih ilmu ke dalam tubuh dan jiwa anak-anak
desa. Dan kami lalu tumbuh dan berkembang menjadi diri sendiri.
Generasiku tak banyak yang melanjutkan ke SMP. Hanya aku, Ose Madha dan Roni Pea yang berhasil melanjutkan pendidikan. Ose Madha menjadi guru sekolah
dasar. Roni Pea berhasil menggapai gelar
sarjana dan menjadi guru
sedangkan aku dengan
tertatih-tatih meraih gelar sarjana di usia 35 tahun dari sebuah perguruan
tinggi di Madiun Jawa Timur. Hingga kini aku tetap merasa bangga pernah menimba
ilmu di sebuah sekolah di lereng gunung yang membuka cakrawala hidupku bahwa
negeriku bukan di Maghilewa saja tetapi
di sebuah negeri bernama Indonesia.
Akupun bangga pada
sekolah di lereng gunung ini karena dari
rahimnya lahir tokoh-tokoh seperti Niko
Wego, Arnoldus Wea, Pit Keo, Niko Sake, Valens Wangu, Yosep Rawi, Martinus Rawi,
Lis Reo, Maria Loda, Niko Ria dan
guru-guru lainnya yang mengabdi di Ngada. Aku bangga pada SDK Inerie yang melahirkan generasi seperti Cornelis Dopo, Pelipus
Wongo,Thomas Rato, Niko Wele, Niko Nay, Yoseph Juji, Yohanes Siga, Herman Raju,
Thomas Pea dan lain-lain yang mengabdi
di pemerintahan. Bangga melahirkan seorang jurnalis Kris Nau yang
menginspirasiku untk memilih profesi
sebagai jurnalis.
Aku bangga karena sekolah
di lereng gunung ini melahirkan generasiku Yoseph Madha dan Roni Pea
yang mengabdi sebagai guru dan
diriku yang setia dengan panggilan hidup
sebagai penulis. Dan aku bangga pada sekolah yang kini tinggal kenangan karena mampu melahirkan anak-anak
kampung yang berhasil melanjutkan
pendidikan hingga sarjana.
Kini bangunan
beratap ilalang dan berlantai tanah tak
ada lagi. Yang masih tersisa adalah
undakan yang tersusun rapi dari
batu. Seribu pohon cengkeh menebarkan wangiannya.
Tetapi anak kampung yang
pernah menimba ilmu di sekolah ini pasti masih menyimpan kenangan. Tentang bangunan kusam, rumah guru yang sederhana dan ketika jam olahraga kami harus menanggalkan kain dan bermain bola di depan gereja tua dalam
keadaan telanjang. Sebab generasi kami
tidak mengenal celana alas, benglon sekalipun. Semua itu adalah kenangan
yang mampu kucatat kembali sebelum menutup mata selamanya.***Juli 2013
Komentar
Posting Komentar