SATU DETIK DI WATU ULO



Laut itu masih bening
Ketika kulafalkan kisah ratu laut selatan
Di laut tanpa batu paras
Angin mengepak sayap-sayapnya
Membawaku ke sejuta bongkah batu hitam
Di pantai selatan tanah rahim
Di pohon matahari terbit

Ah pantai Watu Ulo
Kucari perempuan-perempuan baya
Menghitung bebatuan
Menggenggam  pisau dan batok kelapa
Mencari  curahan  kasih surgawi
Yang tak pernah  kering
Karena tanpa musim kemarau

Ini pantai negeriku
Tapi bukan tasik rahim ibuku
Ini laut tanah airku
Tapi bukan kolam leluhurku
Jika aku  rindu pantai selatan
Rinduku buih ombak di pantai Malapedho
Dan perempuan-perempuan pencari siput
Yang selalu setia bermain  ombak

Satu detik di Watu Ulo
Rinduku  terbang  ke Wae Sugi
Mungkin di sana bidadariku  membasuh jiwa
Agar penantiannya  sampai ke  tepian
Mungkin  dapat kutangkap  senyumnya
Lalu kujadikan  tali pengikat
Jiwaku dan jiwanya
Ah, satu detik di Watu Ulo aku mimpi
Terjaga  di kesendirian.***

Watu Ulo Jember, Mei 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU