SAAT HUJAN




Di kota ini aku merekam resah
Kau telah memanggang nadiku
Membakar sukmaku
Dan aku menjadi pecundang
Pada penguasa  langit
Ketika aku berteriak menombak awan
Beri aku bulir-bulir hujan
Dan engkau menderaku
Dengan  cemetih mentarimu

Di jalan tol megah
Kusapa laut biru
Riak ombak  menepi
Dan matahari menerjang  buih putih
Langit bening memantul  cahaya 
Melumur  bumi  yang gersang

Di  Garuda Wisnu Kencana
Matahari menjilat bukit karang
Tembok tanah kapur perkasa
Menerjang  bola mata
Dan rerumputan merunduk layu
Dilumat  kuasa  langit
Meski bait-bait pesona
Masih  tetap mekar
Menggoda  ragawi

Bukit batu karang di Pandawa
Masih tetap perkasa
Cacat  pada tangan  penguasa
Demi menjamu  tamu
Yang datang silih berganti
Dalam pesta  pergantian musim
Dalam deraan kuasa mentari

Perempuan-perempuan  berjemur
Di pasir putih pantai kuta
Lelaki-lelaki  berbaring di dipan
Dan  ibu-ibu penawar jasa
Meninabobokan tamu
Tanpa keluhan pada matahari
Yang membakar pasir coklat

Pada  lintasan  jalan ke gunung
Matahari pun surut
Langitku bersujud
Bertudung  mega mendung
Di bukit  bedugul
Air danau bratan  memancar cahaya
Bukit  berbusana awan
Dan hujan pun turun
Kutahu Tuhan tak pernah berkhianat.***

Denpasar, 21 Januari 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU