RINDU (1)
Selalu ada bait-bait rindu
Bertahta di jiwa kelana
Pulang ke Maghilewa
Tanah sakral tempat semayam
Jiwa-jiwa yang tetap dikenang
Tanpa batas kesudahan
Tiada garis berakhir
Pulang untuk
mencabut rerumput
Yang
menutup mesbah watulanu
Untuk menebas belukar
Yang melilit keka lela
Dan meletakkan sajian
Hati ayam dan nasi merah
Arak lontar dan sirih pinang
Dalam ritual perdamaian
Selalu ada potongan-potongan rindu
Mendesak di lembar hati
Membisik: Pulang ke Maghilewa!
Sebab kekekalan cinta menunggu di sana
Dan air ketuban ibu belum kering
Bau keringat bapa belum punah
Selalu ada waktu yang kurancang
Pulang ke Maghilewa untuk bersujud
Di pusara-pusara yang menanti
untaian doa.***
Denpasar, 21 Juli 2016
Komentar
Posting Komentar