RATAPAN DI MUSIM HUJAN


Alam kau dengar ini lagu ratap
Ketika kau bakar bumiku
Dengan sinar keagungan matahari
Kami mengeluh
Kami melenguh
Kami meratap
Kami berteriak
Hujan turunlah
Kami perlu air
Untuk membasah tanah kering
Dan mengurai dahaga hewan ternak
Meredam dahaga manusia ciptaan

 

Kami menunggu tetes hujan
Sambil bersujud pasrah
Dan di pulau anak-anak liar
Menjulur tangan penuh nanah kerakusan
Menyulut hutan belukar dengan lidah api
Mencipta bencana asap
Hingga negeri meranggas
Membumikan malapetaka

 

Kemarau panjang menerjang
Anak-anak negeri gerah
Sambil menimbun sungai-sungai
Dengan berjuta ton sampah
Menumpuk kotoran di selokan
Membabat hutan di lereng bukit
Mencungkil bumi mencari butir emas
Menambang pasir laut demi perut
Pemerkosa-pemerkosa alam
Berkeliaran di tanah para leluhur
Tanpa rasa dosa

 

Alam kau turunkan limpahan air
Mengalir di gunung dan bukit
Membenamkan sungai-sungai
Menimbun sawah ladang
Menerjang rumah rakyat
Lalu kami berteriak: Bencana!
Kami memakimu
Menuduhmu tak bersahabat
Mengataimu:Kejam!

 

Gunung-gunung runtuh
Bukit-bukit retak
Gundukan tanah lumpur meradang
Ruimah rakyat tak berdoa terkubur sekejab
Tubuh-tubuh tertanam di kedalaman
Pergi menghadap Sang Khalik
Tanpa sarapan doa
Tanpa pesan kepada anak cucu

 

Alam kau dengar ini lagu ratap
Biarlah kami berdamai denganmu
Kami bertobat
Bersahabat denganmu
Beri kami akal sehat
Dan beri kami jiwa putih
Agar kami mampu menjadi anak bumi
Yang teguh berdiri
Di atas wadah Tri Hita Karana.***

Denpasar, 23 Juni 2016
Didesikan untuk Korban Longsor di Purworejo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU