JALAN SALIB KONTEKSTUAL
Catatan Penulis: Mungkin puisi rohani "Jalan Salib Kontekstual" ini bermanfaat bagi teman-teman yang berkarya sebagai katekis dan sering menangani "Tablo Sengsara Yesus". Disebut jalan salib kontekstual karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial kemasyarakatan masa kini. Selamat membaca dan merenungkan.
Perhentian I
(Di negeri kami para hakim mencabut nyawa
Para predator liar pengedar kimiawi
Pemangsa sejuta anak bangsa
Atas nama hukum
Tidak atas nama penebusan
Dan presiden kami menolak grasi)
Engkau memanggul salib
Berjalan di kerumunan massa
Yang berteriak histeris
“Salibkan Dia!”
SalibMu bukan salibMu
Ia titipan jiwa-jiwa penuh dosa
Yang menanti penebusanMu
(Di negeri kami
Para koruptor memanggul salib
Salibnya adalah salibnya
Tempat menggantung para penjarah
Menebus dosa kerakusan
Meski ia menanti penebusanMu)
Engkau jatuh di bawah salib
Dan serdadu-serdadu mensesahMu
TubuhMu yang kudus berlumur debu
Engkau jatuh demi aku
Yang berlumuran dosa
Perindu penebusanMu
Di akhir jaman
(Di negeri kami
Sejuta jiwa jatuh terkapar
Oleh tangan-tangan biadab
Yang menghunus pedang
Menggorok leher sesama
Hingga mati sia-sia
Di negeri kami sejuta jiwa terjerembab di lembah nista
Karena ketakberdayaan dan kemiskinan
Di negeri kami sejuta jiwa terhempas di balik jeruji
Karena jari-jari kotor
Yang tak bisa diam menjarah Uang rakyat
Mereka menanti penebusanMU)
Engkau berjumpa dengan ibuMu
Perempuan hebat bernama Maria
Perempuan telaga bening
Tempat selaksa jiwa membasuh wajah
Dan membersihkan luka jiwa
Ibu yang lembut
Pemilik tangan belaskasih
Yang merangkul anaknya satu dunia
(Di negeri kami
Sejuta ibu disia-siakan
Dijadikan pemuas dahaga
Ditelantarkan di jalanan
Dipenjarakan oleh anak-anaknya
Diadili tanpa keadilan
Ibu yang memanggul deritanya
Ketika suami disandera godaan
Mereka menanti penebusanMu)
Engkau ditolong Simon dari Kirene
Turut memikul salibMu
Ketika tubuhMu yang kudus
Sudah penuh bilur-bilur
Dan keringat darah bercucuran
Engkau tetap tegar
Tanpa butir air mata penyesalan
Langkah kakiMu masih perkasa
Berjalan menuju Kalvari
(Di negeri kami
Banyak orang berjuang untuk hidup
Bagi diri sendiri
Yang kaya berpesta pora
Yang miskin menjerit
Sudah suram aksi memberi
Pada yang membutuhkan perhatian
Solidaritas yang kian redup
Meski ada sejuta anakMu
Yang setia di kaki salibMu
Menebar manna cinta kasih
Karena semangat cintaMu tak pernah terbang
Dari lubuk iman)
WajahMu berlumur darah
Butir-butir merah luruh
Dan Veronika mengusapMu
Pada selembar sutra
WajahMu tergambar
Kemahakuasaan yang tak tersangkalkan
Engkau Tuhanku
Yang selalu menyapa
Dengan caraMu yang pasti
(Di negeri kami
Orang-orang sibuk
Merancang proyek mercusuar
Jalan tol bernilia miliaran
Dermaga lintas negeri
Rumah susun berundak
Membangun jutaan rumah rakyat
Tapi sedikit yang melihat
Penderitaan anak-anak kolong jembatan
Pengemis sungguhan atau pura-pura
Pelacur panggilan
Pedagang kaki lima
Manusia gerobak
Dan sejuta jiwa
Yang menunggu sentuhan cinta sesama
Karena mereka belum merdeka)
Engkau jatuh lagi
Tertindih salibMu yang berat
Ya Tuhanku
LangkahMu semakin gontai
Tapi Engkau terus berjalan
Karena di Kalvari
Dunia akan melihatMU
Benar-benar Putra Allah
( Di negeri kami
Banyak yang jatuh
Dan jatuh lagi di tempat sama
Yang keluar penjara
Kembali lagi karena tak kuasa melawan rayuan
Yang putus asa lalu turun ke jalan
Dan menjadi orang gila tanpa tuan
Yang kehilangan harapan
Bunuh diri untuk mengakhiri deritanya
Meski ada yang berserah
“Tuhan terserah Engkau maunya apa”)
Engkau menasihati para perempuan
Jangan menangisi Aku
Tapi tangisilah dirimu
Dan anak-anakmu
Ah, Tuhanku
Air mata perempuan
Sejuta kata yang tak terucapkan
Air mata penuh makna
Yang harus dibaca dengan hati
Air mata perempuan
Air mata selaksa ibu
Yang senantiasa larut dalam doa
Untuk anak-anaknya
(Di negeri kami
Sejuta perempuan menangis di keheningan malam
Merindu anaknya di penjara
Karena narkoba
Karena pembunuhan
Karena pencurian
Karena kejahatan lainnya
Sejuta perempuan merenda harapan
Agar anak-anak tumbuh
Menjadi ranting anggur yang subur
Meski mereka terperangah
Karena anak-anak di jalan salah
Tuhan hapuskan air matanya)
Engkau jatuh ketiga kalinya
Lelah, tubuhMu lunglai
Penuh luka
Lukisan cambuk kebengisan
Tertoreh di sekujur tubuhMu
Seharusnya Engkau menyerah
Dan katakan: Cukup sampai di sini
Aku tahu ya Tuhanku
Engkau bukan pejuang merebut tahta raja duniawi
Engkau pejalan salibMu
Setia sampai wafat
Yah…sampai wafat di kayu salib
(Di negeri kami
Orang jatuh berulangkali
Karena hatinya sudah beku
Dan ia lelah untuk bangkit lagi
Orang jatuh berulangkali dan bangkit berulangkali
Jatuh lagi berulangkali
Karena ia bilang: Aku hanya manusia biasa
Di negeri kami ada orang yang dijatuhkan
Karena irihati dan dengki
Karena kesombongan dan kemunafikan
Tapi ia bangkit meski harus tertatih-tatih
Menuju stasi terakhir hidupnya
Ia rindu menyapaMu
Dengan bahasa iman yang sederhana
Tuhan, aku ini hambamu
Terjadilan padaku sesuai kehendakMu)
PakaianMu ditanggalkan
Engkau ditelanjangi
Dan Engkau diam
Tak juga protes
Engkau biarkan serdadu-serdadu
Melucuti jubahMu
Hingga tubuhMu penuh luka
Jadi hamparan pesona bagi mereka
Meski tidak untuk hamba-hambamu
Yang percaya kemahakuasaanMu
Engkau dihina ya Tuhanku
Ingin kuusap bilur-bilur di tubuhMu
Sebagai silih atas dosaku
(Di negeri kami
Orang saling mencaci
Bahkan di gedung terhormat
Disaksikan sejuta pasang mata
Dan mereka tak terusik
Karena rasa malu telah hilang
Di negeri kami orang saling menelanjangi
Mengungkap aib di kamera televisi
Tampil cengar-cengir tak punya beban
Karena rasa malu telah lama mati
Dan mereka bilang: Demi popularitas
Di negeri kami Sejuta jiwa terbantai
Karena tak kuasa menanggung malu
Dan mereka bilang: Lebih baik mati dan semua masalah selesai
Tuhan ajarilah kami bahasa cinta
Agar kami mampu memaafkan
Dan tak melanjangi sesama)
TubuhMu yang kudus
Digantung di kayu salib
Salib yang Engkau panggul
Dari rumah Pilatus menuju Kalvari
Telapak tanganMu ditembus paku
Dan telapak kakiMu tertusuk besi karat
KepalaMu bermahkotakan duri
Seharusnya Engkau minta ampun
Dan mengatakan: Turunkan Aku dari salib ini
Tidak, Engkau harus mengakhiri jalan salibMu
Engkau pejuang tanpa pedang
Bertempur sendiri di medan laga
Tanpa pasukan berkuda
Tanpa penabuh genderang kemenangan
Tanpa desingan peluru mematikan
Tanpa muntahan senjata kimia
Dan raungan sirene palang merah
( Di negeri kami
Orang-orang dipenjarakan
Karena kedurhakaan dan kejahatan
Orang-orang dihukum mati karena kebiadaban
Dan ketaktahanan pada kebenaran
Dan di negeri kami
Orang-orang juga dipenjarakan
Karena hukum yang tidak adil
Karena mereka tak bisa membela diri
Ketika para jaksa dan hakim menerima suap
Tuhan, dari SalibMu
Selamatkan mereka
Yang dipenjarakan karena ketakadilan hukum duniawi)
Dari bibirMu yang kudus
Tersadur puisi maha dasyat
“AllahKu ya AllahKu mengapa Engkau Meninggalkan Aku?”
Matahari pun redup
Bukit Kalvari dalam temaran senja
Dan ketika suaraMu bergema
“Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu”
Engkau menghembuskan nafas
Diiringi guncangan bumi yang gulita
Gempa merobek Kalvari
Yerusalem terbelah
Dan serdadu-serdadu ternganga
Mujizat yang dikenang abadi
KetaatanMu sampai di ujungnya
(Di negeri kami
Banyak orang mati sia-sia
Karena over dosis narkotika
Karena putus asa lalu menenggak racun tikus
Karena malu lalu gantung diri
Karena menenggak arak oplosan
Karena semrawutnya lalu lintas
Karena pesawat terbang jatuh
Karena kapal tenggelam
Karena perang tanding merebutkan tanah
Karena saling merebut warisan
Karena peluru nyasar aparat polisi
Karena penculikan
Ah, aku tak ingin meneruskan litania kematian
Kecuali menunggu kapan giliranku
Aku ingin mati dan dikenang karena cinta)
TubuhMu telah kaku tak bernyawa
Yusuf dari Arimatea menurunkanMu dari salib
Dan IbuMu memangku
Kesetiaan di jalan salibMu
Hingga wafatMu di kayu salib
Ibu sejuta cinta
Yang mengandung dan melahirkan
Menyusu dan membesarkan
Ibu sejuta jiwa yang membuat dunia tak kesepian
Dan bumi memancarkan rona gemulai
Ibu yang menyimpan duka di sanubarinya
Ibu yang tekun berdoa untuk anak-anak di rantauan
Ibu yang tak bisa kulukiskan harga pengabdiannya
(Di negeri kami
Diskriminasi pada ibu
Adalah lagu lamentasi yang belum berakhir
Karena seribu kursi masih milik laki-laki
Karena budaya meminggirkan ibu ke luar paduan suara
Karena aturan yang dibuat
Menempatkan ibu sebagai obyek penderita
Tuhanku dari tempatMu yang kudus
Jadikan selaksa jiwa ibu
Menjadi orang yang kuat di muka bumiku)
Engkau dimakamkan
Dan tiga hari Engkau bangkit
Maut dikalahkan
Engkau telah menebus dosaku
Memerdekakan aku dari belenggu
Tuhan aku ingin menyiapkan tubuh
Yang kumal oleh bilur dosa
Menuju hari kemenanganMu
Aku ingin menyiapkan jiwa
Yang penuh goresan tak sempurna
Menuju hari kebangkitanMu
Paskah, Aleluya!
Perhentian I
Engkau dihukum mati
Memanggul salib
Dari rumah Pilatus menuju Golgota
Untuk penebusan selaksa jiwa
Memanggul salib
Dari rumah Pilatus menuju Golgota
Untuk penebusan selaksa jiwa
(Di negeri kami para hakim mencabut nyawa
Para predator liar pengedar kimiawi
Pemangsa sejuta anak bangsa
Atas nama hukum
Tidak atas nama penebusan
Dan presiden kami menolak grasi)
Perhentian II
Engkau memanggul salib
Berjalan di kerumunan massa
Yang berteriak histeris
“Salibkan Dia!”
SalibMu bukan salibMu
Ia titipan jiwa-jiwa penuh dosa
Yang menanti penebusanMu
(Di negeri kami
Para koruptor memanggul salib
Salibnya adalah salibnya
Tempat menggantung para penjarah
Menebus dosa kerakusan
Meski ia menanti penebusanMu)
Perhentian III
Engkau jatuh di bawah salib
Dan serdadu-serdadu mensesahMu
TubuhMu yang kudus berlumur debu
Engkau jatuh demi aku
Yang berlumuran dosa
Perindu penebusanMu
Di akhir jaman
(Di negeri kami
Sejuta jiwa jatuh terkapar
Oleh tangan-tangan biadab
Yang menghunus pedang
Menggorok leher sesama
Hingga mati sia-sia
Di negeri kami sejuta jiwa terjerembab di lembah nista
Karena ketakberdayaan dan kemiskinan
Di negeri kami sejuta jiwa terhempas di balik jeruji
Karena jari-jari kotor
Yang tak bisa diam menjarah Uang rakyat
Mereka menanti penebusanMU)
Perhentian IV
Engkau berjumpa dengan ibuMu
Perempuan hebat bernama Maria
Perempuan telaga bening
Tempat selaksa jiwa membasuh wajah
Dan membersihkan luka jiwa
Ibu yang lembut
Pemilik tangan belaskasih
Yang merangkul anaknya satu dunia
(Di negeri kami
Sejuta ibu disia-siakan
Dijadikan pemuas dahaga
Ditelantarkan di jalanan
Dipenjarakan oleh anak-anaknya
Diadili tanpa keadilan
Ibu yang memanggul deritanya
Ketika suami disandera godaan
Mereka menanti penebusanMu)
Perhentian V
Engkau ditolong Simon dari Kirene
Turut memikul salibMu
Ketika tubuhMu yang kudus
Sudah penuh bilur-bilur
Dan keringat darah bercucuran
Engkau tetap tegar
Tanpa butir air mata penyesalan
Langkah kakiMu masih perkasa
Berjalan menuju Kalvari
(Di negeri kami
Banyak orang berjuang untuk hidup
Bagi diri sendiri
Yang kaya berpesta pora
Yang miskin menjerit
Sudah suram aksi memberi
Pada yang membutuhkan perhatian
Solidaritas yang kian redup
Meski ada sejuta anakMu
Yang setia di kaki salibMu
Menebar manna cinta kasih
Karena semangat cintaMu tak pernah terbang
Dari lubuk iman)
Perhentian VI
WajahMu berlumur darah
Butir-butir merah luruh
Dan Veronika mengusapMu
Pada selembar sutra
WajahMu tergambar
Kemahakuasaan yang tak tersangkalkan
Engkau Tuhanku
Yang selalu menyapa
Dengan caraMu yang pasti
(Di negeri kami
Orang-orang sibuk
Merancang proyek mercusuar
Jalan tol bernilia miliaran
Dermaga lintas negeri
Rumah susun berundak
Membangun jutaan rumah rakyat
Tapi sedikit yang melihat
Penderitaan anak-anak kolong jembatan
Pengemis sungguhan atau pura-pura
Pelacur panggilan
Pedagang kaki lima
Manusia gerobak
Dan sejuta jiwa
Yang menunggu sentuhan cinta sesama
Karena mereka belum merdeka)
Perhentian VII
Engkau jatuh lagi
Tertindih salibMu yang berat
Ya Tuhanku
LangkahMu semakin gontai
Tapi Engkau terus berjalan
Karena di Kalvari
Dunia akan melihatMU
Benar-benar Putra Allah
( Di negeri kami
Banyak yang jatuh
Dan jatuh lagi di tempat sama
Yang keluar penjara
Kembali lagi karena tak kuasa melawan rayuan
Yang putus asa lalu turun ke jalan
Dan menjadi orang gila tanpa tuan
Yang kehilangan harapan
Bunuh diri untuk mengakhiri deritanya
Meski ada yang berserah
“Tuhan terserah Engkau maunya apa”)
Perhentian VIII
Engkau menasihati para perempuan
Jangan menangisi Aku
Tapi tangisilah dirimu
Dan anak-anakmu
Ah, Tuhanku
Air mata perempuan
Sejuta kata yang tak terucapkan
Air mata penuh makna
Yang harus dibaca dengan hati
Air mata perempuan
Air mata selaksa ibu
Yang senantiasa larut dalam doa
Untuk anak-anaknya
(Di negeri kami
Sejuta perempuan menangis di keheningan malam
Merindu anaknya di penjara
Karena narkoba
Karena pembunuhan
Karena pencurian
Karena kejahatan lainnya
Sejuta perempuan merenda harapan
Agar anak-anak tumbuh
Menjadi ranting anggur yang subur
Meski mereka terperangah
Karena anak-anak di jalan salah
Tuhan hapuskan air matanya)
Perhentian IX
Engkau jatuh ketiga kalinya
Lelah, tubuhMu lunglai
Penuh luka
Lukisan cambuk kebengisan
Tertoreh di sekujur tubuhMu
Seharusnya Engkau menyerah
Dan katakan: Cukup sampai di sini
Aku tahu ya Tuhanku
Engkau bukan pejuang merebut tahta raja duniawi
Engkau pejalan salibMu
Setia sampai wafat
Yah…sampai wafat di kayu salib
(Di negeri kami
Orang jatuh berulangkali
Karena hatinya sudah beku
Dan ia lelah untuk bangkit lagi
Orang jatuh berulangkali dan bangkit berulangkali
Jatuh lagi berulangkali
Karena ia bilang: Aku hanya manusia biasa
Di negeri kami ada orang yang dijatuhkan
Karena irihati dan dengki
Karena kesombongan dan kemunafikan
Tapi ia bangkit meski harus tertatih-tatih
Menuju stasi terakhir hidupnya
Ia rindu menyapaMu
Dengan bahasa iman yang sederhana
Tuhan, aku ini hambamu
Terjadilan padaku sesuai kehendakMu)
Perhentian X
PakaianMu ditanggalkan
Engkau ditelanjangi
Dan Engkau diam
Tak juga protes
Engkau biarkan serdadu-serdadu
Melucuti jubahMu
Hingga tubuhMu penuh luka
Jadi hamparan pesona bagi mereka
Meski tidak untuk hamba-hambamu
Yang percaya kemahakuasaanMu
Engkau dihina ya Tuhanku
Ingin kuusap bilur-bilur di tubuhMu
Sebagai silih atas dosaku
(Di negeri kami
Orang saling mencaci
Bahkan di gedung terhormat
Disaksikan sejuta pasang mata
Dan mereka tak terusik
Karena rasa malu telah hilang
Di negeri kami orang saling menelanjangi
Mengungkap aib di kamera televisi
Tampil cengar-cengir tak punya beban
Karena rasa malu telah lama mati
Dan mereka bilang: Demi popularitas
Di negeri kami Sejuta jiwa terbantai
Karena tak kuasa menanggung malu
Dan mereka bilang: Lebih baik mati dan semua masalah selesai
Tuhan ajarilah kami bahasa cinta
Agar kami mampu memaafkan
Dan tak melanjangi sesama)
Perhentian XI
TubuhMu yang kudus
Digantung di kayu salib
Salib yang Engkau panggul
Dari rumah Pilatus menuju Kalvari
Telapak tanganMu ditembus paku
Dan telapak kakiMu tertusuk besi karat
KepalaMu bermahkotakan duri
Seharusnya Engkau minta ampun
Dan mengatakan: Turunkan Aku dari salib ini
Tidak, Engkau harus mengakhiri jalan salibMu
Engkau pejuang tanpa pedang
Bertempur sendiri di medan laga
Tanpa pasukan berkuda
Tanpa penabuh genderang kemenangan
Tanpa desingan peluru mematikan
Tanpa muntahan senjata kimia
Dan raungan sirene palang merah
( Di negeri kami
Orang-orang dipenjarakan
Karena kedurhakaan dan kejahatan
Orang-orang dihukum mati karena kebiadaban
Dan ketaktahanan pada kebenaran
Dan di negeri kami
Orang-orang juga dipenjarakan
Karena hukum yang tidak adil
Karena mereka tak bisa membela diri
Ketika para jaksa dan hakim menerima suap
Tuhan, dari SalibMu
Selamatkan mereka
Yang dipenjarakan karena ketakadilan hukum duniawi)
Perhentian XII
Dari bibirMu yang kudus
Tersadur puisi maha dasyat
“AllahKu ya AllahKu mengapa Engkau Meninggalkan Aku?”
Matahari pun redup
Bukit Kalvari dalam temaran senja
Dan ketika suaraMu bergema
“Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu”
Engkau menghembuskan nafas
Diiringi guncangan bumi yang gulita
Gempa merobek Kalvari
Yerusalem terbelah
Dan serdadu-serdadu ternganga
Mujizat yang dikenang abadi
KetaatanMu sampai di ujungnya
(Di negeri kami
Banyak orang mati sia-sia
Karena over dosis narkotika
Karena putus asa lalu menenggak racun tikus
Karena malu lalu gantung diri
Karena menenggak arak oplosan
Karena semrawutnya lalu lintas
Karena pesawat terbang jatuh
Karena kapal tenggelam
Karena perang tanding merebutkan tanah
Karena saling merebut warisan
Karena peluru nyasar aparat polisi
Karena penculikan
Ah, aku tak ingin meneruskan litania kematian
Kecuali menunggu kapan giliranku
Aku ingin mati dan dikenang karena cinta)
Perhentian XIII
TubuhMu telah kaku tak bernyawa
Yusuf dari Arimatea menurunkanMu dari salib
Dan IbuMu memangku
Kesetiaan di jalan salibMu
Hingga wafatMu di kayu salib
Ibu sejuta cinta
Yang mengandung dan melahirkan
Menyusu dan membesarkan
Ibu sejuta jiwa yang membuat dunia tak kesepian
Dan bumi memancarkan rona gemulai
Ibu yang menyimpan duka di sanubarinya
Ibu yang tekun berdoa untuk anak-anak di rantauan
Ibu yang tak bisa kulukiskan harga pengabdiannya
(Di negeri kami
Diskriminasi pada ibu
Adalah lagu lamentasi yang belum berakhir
Karena seribu kursi masih milik laki-laki
Karena budaya meminggirkan ibu ke luar paduan suara
Karena aturan yang dibuat
Menempatkan ibu sebagai obyek penderita
Tuhanku dari tempatMu yang kudus
Jadikan selaksa jiwa ibu
Menjadi orang yang kuat di muka bumiku)
Perhentian XIV
Engkau dimakamkan
Dan tiga hari Engkau bangkit
Maut dikalahkan
Engkau telah menebus dosaku
Memerdekakan aku dari belenggu
Tuhan aku ingin menyiapkan tubuh
Yang kumal oleh bilur dosa
Menuju hari kemenanganMu
Aku ingin menyiapkan jiwa
Yang penuh goresan tak sempurna
Menuju hari kebangkitanMu
Paskah, Aleluya!
Agust G
Thuru
Jumat
Agung 2015
Komentar
Posting Komentar