SURAT KEPADA MIA




Mia, reba tahun ini
Aku  mengulang  waktu tahun lalu
Tak bisa  pulang ke rumah adat
Merayakan  pesta adat reba*)
Meski seharusnya  aku kembali
Karena  aku anak lelaki

Aku  masih mengejar angan
Di kota para penenun masa depan
Aku tahu malam ini  dheke reba*)
Semua keluarga bertandang ke Sa’o Pu’u*)
Untuk  menyatukan  jiwa raga
Meneruskan  warisan  budaya para leluhur

Seutas  rindu  ada padaku
Rindu  mencicipi  maki reba*)
Pada wadah  anyaman lontar bernama wati*)
Rindu meneguk moke
Pada wadah bernama se’a tua*)
Bersenda gurau di bawah sinar lampu petromaks
Sampai datang  matahari  pagi

Aku  rindu mengenakan sapu lu’e*)
Melilit kepala dengan boku*)
Menari  di loka uwi*)
Melantunkan  mantra-mantra kehidupan
Melagukan wejangan sakral  warisan leluhur
Dalam lingkaran  jiwa-jiwa
Yang  setia  pada  budaya

Ah….Mia
Kampung lereng gunung sudah terlalu jauh
Aku tak bisa pulang ke teda sa’o*)
Bila suatu saat  anganku tergapai
Aku  akan pulang  sebagai  anak adat
Yang masih tetap setia pada warisan leluhur
Meski  aku lama merantau  di kota besar.***

Asrama Manggar 2 Malang, 27 Desember 1982
Reba = Pesta  adat etnis Bajawa diselenggarakan mulai 27  Desember dan berakhir pada Pebruari  tahun berikutnya.
Dheke reba=Upacara  malam pertama memulai rangkaian pesta adat reba.
Sa’o pu’u = Rumah  adat  utama atau  rumah pokok
Maki reba = Nasi upacara reba
Wati=Wadah/piring tradisional dianyam dari daun lontar
Se’a tua =Wadah menuang arak dibuat dari tempurung kelapa.
Sapu lu’e = Pakaian  adat laki-laki
Boku= Ikat  kepala
Loka uwi = Tempat menari adat reba
Teda sa’o = Ruang  rumah adat

         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU