BURUH PELABUHAN




Kau junjung matahari
Di atas kepala
Terik menjilat kulit
Hitam legam
Urat nadi lenganmu potret perjuangan
Garis hidup dan mati

Di dermaga Sadang Bui
Pertarungan hidup seperti abadi
Melintasi waktu
Dari subuh hingga senja
Dari senja hingga subuh
Tanpa keluhan
Kecuali cucuran keringat
Keseharian yang selalu kembali

Deru mesin kapal adalah harapan
Gemuruh roda truk pengangkut adalah impian
Dan wajahmu adalah lukisan harian
Yang selalu ada saat dibutuhkan
Tanpa cucuran air mata penyesalan
Karena hidup memang harus disantuni

Di pundakmu itu
Lelaki-lelaki perkasa
Tahta bagi istri anakmu
Dan di kedalaman hatimu
Ada istana cinta dan pengabdian
Kepada orang-orang tercinta***

Dermaga Maumere, 1 Mei 1977

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU