DOA DI PUSARA AYAH
Di pusaramu ayah
Kuhitung jejak kaki
Pengusung peti jenasah
Membaringkanmu di sini
Di rumah sunyi
Abadi selamanya
Kuhitung jejak kaki
Pengusung peti jenasah
Membaringkanmu di sini
Di rumah sunyi
Abadi selamanya
Tanah ini masih basah
Remah-remah kembang belum layu
Puntung lilin diam membisu
Dan salib imanmu
Menahtakan namamu
Kau diam membisu
Remah-remah kembang belum layu
Puntung lilin diam membisu
Dan salib imanmu
Menahtakan namamu
Kau diam membisu
Di sini aku terpekur
Memanggilmu dalam rindu
Meski kutahu engkau tak bergeming
Dan dari duniamu yang baru
Kutahu engkau memandangku dengan kasih
Tersenyum lewat desiran angina
Memanggilmu dalam rindu
Meski kutahu engkau tak bergeming
Dan dari duniamu yang baru
Kutahu engkau memandangku dengan kasih
Tersenyum lewat desiran angina
Kusiram pusaramu ayah
Dengan sejuta bulir air mata raga
Dan kutabur rumah abadimu
Dengan potongan-potongan doaku
Dari bibir anakmu yang belum kelu
Dengan sejuta bulir air mata raga
Dan kutabur rumah abadimu
Dengan potongan-potongan doaku
Dari bibir anakmu yang belum kelu
Mataku sembab meratapmu
Meski aku harus pasrah
Hatiku gundah merindumu
Meski aku harus melepasmu pergi
Jiwaku gelisah kehilanganmu
Meski di sini aku kesepian tanpamu
Meski aku harus pasrah
Hatiku gundah merindumu
Meski aku harus melepasmu pergi
Jiwaku gelisah kehilanganmu
Meski di sini aku kesepian tanpamu
Selamat jalan ayah
Dari tempatmu di sana
Senandungkan cintamu yang kekal
Agar aku terus terbang
Dan sayapku tak terpatahkan.***
Dari tempatmu di sana
Senandungkan cintamu yang kekal
Agar aku terus terbang
Dan sayapku tak terpatahkan.***
Maghilewa, 8 November 1975
Tiga hari setelah ayah pergi untuk selamanya
Tiga hari setelah ayah pergi untuk selamanya
Komentar
Posting Komentar