SUPRAPTI




Kau membuatku  gelisah
Ketika  matamu menerjang  kalbu
Dan  jiwaku terbang melayang
Ke tulang rusukmu
Adakah  itu milikku?

Kau membisu
Tak ada senyum
Dua bola mata yang sayu
Tanpa  tanda-tanda  untuk memulai
Sebuah upacara  sakral
Mungkin hatimu sudah mati

Aku harus belajar untuk menenun rasa
Agar gelisah menjadi tasik  yang tenang
Sebab  berharap  pada sebuah keputusan
Rasanya  masih perlu seribu langkah
Meski kita sama-sama  bertandang  di  kota ini
Dalam  pegabdian tanpa  batas.***

Balung, Juli  1984


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU