PERJALANAN ABADI
Kemarin sinar matahari
menembus jendela bus
Menari-nari di pucuk candi Prambanan
Ketika petir menyambarku
Terkulai
Berguguran air mata
Ketika suara putri sulungmu
Merintih
Menyebut kata bapa
Yang telah tiada
Menari-nari di pucuk candi Prambanan
Ketika petir menyambarku
Terkulai
Berguguran air mata
Ketika suara putri sulungmu
Merintih
Menyebut kata bapa
Yang telah tiada
Tak ada kata terucap
Desah mendekap
Begini cepatkah perpisahan abadi
Dan ayunan langkahmu yang ringan
Tanpa tanda-tanda
Pergi pada hitungan menit
Kembali kepadaNya
Desah mendekap
Begini cepatkah perpisahan abadi
Dan ayunan langkahmu yang ringan
Tanpa tanda-tanda
Pergi pada hitungan menit
Kembali kepadaNya
Hari ini kulihat awan di
langit Gunung Kidul
Mengusung peti mati jasadmu
Doa-doa dan taburan bunga
Menghias tapak jalan bawah Waewoki
Seribu butir air mata
Tumpah di bawah gemeresik daun bambu
Engkau akan tidur selamanya
Dan kami akan merindumu
Mengusung peti mati jasadmu
Doa-doa dan taburan bunga
Menghias tapak jalan bawah Waewoki
Seribu butir air mata
Tumpah di bawah gemeresik daun bambu
Engkau akan tidur selamanya
Dan kami akan merindumu
Ragamu pulas dalam tidur
panjang
Dan jiwamu memegahkan Tuhan
Kutahu engau ada di sana
Melambaikan tangan
Dan dengan senyum
Kau membisik: Selamat tinggal
Ah....rinduku
Mengantar perjalanan abadimu
Tapi di Gunung Kidul
Kutahu kau sudah sempurna.***
Dan jiwamu memegahkan Tuhan
Kutahu engau ada di sana
Melambaikan tangan
Dan dengan senyum
Kau membisik: Selamat tinggal
Ah....rinduku
Mengantar perjalanan abadimu
Tapi di Gunung Kidul
Kutahu kau sudah sempurna.***
Rumah di Baleharjo,
Wonosari, 9 Pebruari 2016
Komentar
Posting Komentar