PEREMPUAN KARTINI



Perempuan…
Mari kita duduk di puncak menara
Lalu dengan mata perempuanmu
Menjelajahi negeri
Temukan di mana tempat terindah
Tahta kehormatanmu dipajang
Dan engkau sedang duduk di sana
Sebagai mahluk yang dihormati
Adakah kau menemukan?


Ada  tangisan  meluapkan gundah
Kehormatan yang dirampas
Perempuan-perempuan  berjiwa kuat
Menerjang badai melawan kemungkaran
Berteriak lantang untuk pembebasan
Tetapi sejuta lain rebah di kaki kekuasaan
Menadah tangan meminta keadilan
Meregang nyawa karena kalah bertarung
Di tengah ganasnya  jiwa yang liar
Tak ada lagi rasa kemanusiaan

Perempuan…
Mari kita duduk di puncak jaman
Lalu dengan akal sehat kita menghitungnya lagi
Ketika Kartini menghembuskan nafas emansipasi
Sudah lama  waktu berlalu
Tetapi mengapa engkau masih jadi barang dagangan
Dan dipajang di rumah-rumah pelacuran
Dijual ke negeri orang sebagai budak
Dan kembali ke rumahmu sendiri
Tanpa hati dan jantung
Tanpa lidah dan ginjal
Tanpa detak nafas
Mengapa?

Perempuan…
Mari kita duduk berdampingan
Saling mengisahkan apa arti hidup
Lalu kita bangkit menjadi pejuang
Kau harus bersuara lantang dan melawan ketakutan
Berani  menerjang setiap jengkal jaman
Tanpa rasa takut pada  tirani
Sebab  kejahatan hanya bisa dihentikan
Ketika  suaramu tak mampu dibekap
Oleh tangan-tangan raksasa
Bahkan oleh mulut senjata yang menganga
Siap meluluhlantakkan  jiwa ragamu
Majulah perempuan ke medan perang
Karena penjajahan masih menggempurmu
Dan engkaulah pahlawan
Yang selalu siap memerdekakan dirimu.***

Denpasar, di Hari Kartini 21 April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU