PENTEKOSTA
Aku terkenang pentekosta
Di lereng gunung Inerie
Pada lekak-lekuk bukit
Dan lambaian nyiur
Ketika ibu menuntunku
Ke gereja tua
Untuk bermadah pada Sang Mulia
Mai Ngaru Santo Dhorosi*)
Tanpa iringan musik
Melantun suara memuji Tuhan
Dalam aroma weti nata*)
Dan bau wangi pe’a bako*)
Rindu kepulan dupa di altar sahaja
Tanpa tumpukan bunga berharga mahal
Kecuali dua lilin menyala syahdu
Menyapa orang-orang kampung
Mai mebho Ngaru Santo*)
Dan ibu-ibu desa mengatup tangan
Merunduk tobat
Meluruh air mata
Dan berdoa: Mai Ngaru Santo*)
Dongo dia ate ja’o*)
Untuk selamanya
Ibu yang berlinang air mata
Ketika getar-getar roh menyapa
Menebar kekuatan dasyat
Lalu tangannya membelai rambutku
Berbisik: Jadilah anak ladang
Yang setia memanggul salibNya
Ke manapun pergi
Ma’e rebho, su’u go kogo Yesus*)
Aku rindu petuah ibu
Dalam bahasa ibu
Bahasa bumi di lereng bukit
Ah, ini pentekosta di gereja kota
Dengan iringan musik menghentak
Wangian bunga dari altar menusuk jiwa
Ketika gereja kami tak lagi tampil sederhana
Meski masih kutangkap aroma asap dupa
Seperti dulu di gereja tua
Aku rindu suara ibu
Yang bermadah: Mai Ngaru Santo Dhorosi*)
Suara yang telah lama hilang.***
Denpasar, 15 Mei 2016
Pada Hari Pentekosta
1. Mai
Ngaru Santo Dhorosi = Datanglah ya Roh Kudus
2. Weti
nata = pinang sirih
3. Pe’a
bako = tembakau
4. Mai
mebho Ngaru Santo = Mari puji Roh Kudus
5. Dongo
dia ate ja’o = Tinggal dala hatiku
6. Ma’e
rebho, su’u go kogo Yesus = Jangan lupa memikul salib Yesus
Komentar
Posting Komentar