PENGKHIANAT
Cerpen:
Agust G Thuru
Dan malam pun terus merangkak. Diwa tetap duduk di sebuah bale-bale yang menghadap ke lembah. Ia hanya melihat kunang-kungan yang kelap kelip di kegelapan malam. Ia tak melihat keindahan lembah yang siang tadi ia pandang sangat indah. Lembah yang dipenuhi pohon cengkeh dan kemiri. Bunga cengkeh menebarkan aroma mewangi. Juga di malam ini, aroma cengkeh masih bisa dihirupnya.
Entah mengapa Diwa sulit sekali memejamkan matanya. Pada hal ia sudah meneguk segelas moke bakar menyala sambil mengunyah jagung goreng. Dilengkapi dengan lalapan daun pepaya dan sambal tradisional yang leluhurnya menamakan koro pake. Koro pake adalah sambal tradisional berupa campuran sejenis cabe yang disebut koro jawa, garam, jeruk putut, kelapa, kepala ikan, gurita dan bumbu-bumbu lainnya. Wadahnya adalah seruas bambu yang dimodifikasi sedemikian rupa disebut tuku koro. Koro pake itu bisa disimpan bertahun-tahun dan makin lama usianya akan semakin enak.
Ah...Diwa menarik nafas. Tiba-tiba ia teringat masa kecil ketika masih bersama ayahnya di sebuah tepi pantai selatan sering bertandang malam sambil makan ubi bakar minum dengan moke. Ia bersama ayahnya baru bisa tidur setelah proses memasak nira menjadi tuak usai. Paginya sebelum ke sekolah Diwa membantu ayahnya mengambil bambu berisi nira di bawah pohon lontar. Setelah itu ia ke sekolah menempuh perjalanan pergi pulang sepuluh kilometer.
Begitu setiap hari Diwa jalani kehidupan hingga menyelesaikan sekolah dasar
dan terpaksa pergi ke kota untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah menengah
pertama.
Setelah puluhan tahun merantau ke Jakarta baru kali ini ia bisa pulang ke
kampung bersama istri dan kedua anaknya. Pulang untuk bersiarah di pusara ayah
dan ibunya. Pulang untuk bersenda gurau dengan keluarga besar.
Tetapi Diwa merasakan perubahan yang sangat luar biasa di kampungnya itu.
Terutama sosok Reko yang bertahun-tahun merantau ke Malaysia dan dua tahun lalu
kembali ke desa. Ia selalu membuat resah masyarakat dengan tutur kata dan
tingkah laku yang berseberangan dengan kebiasaan masyarakat kampungnya. Diwa
merasakan langsung perubahan sikap Reko ketika tadi sore mereka terlibat
percakapan bahkan mirip sebuah diskusi yang cukup hangat.
" Selama kita masih menjadi negara kesatuan, kita akan tetap miskin",
ujar Reko.
" Makasudmu?", tanyaku.
" Yah, kita akan tetap miskin. Jakarta akan terus mengeruk kekayaan
daerah. Jakarta yang kaya raya sementara di daerah tetap miskin", katanya
lagi.
" Tigapuluh tahun aku hidup di Jakarta. Dan kau tahu, warga Jakarta juga
masih banyak yang miskin. Tetapi pemerintah tidak diam. Pemerintah bekerja
untuk membawa Indonesia ke gerbang kesejahteraan", kataku.
" Tapi Jakarta banyak orang kaya"
" Orang kaya ada di mana-mana. Orang miskin juga ada di mana-mana di
negeri kita ini. Tugas kita adalah bersama-sama membawa Indonesia untuk damai
dan sejahtera."
" Tidak mungkin teman, tidak mungkin. Ideologi bangsa ini salah. Makanya
kemerdekaan berpikir dan bertindak dibatasi oleh idelogi bangsa yang sempit
itu". Reko menatapku.
Ketika Reko mengucapkan kata-kata itu aku terdiam sejenak. Aku menatapnya.
Lalu aku meneguk moke pada wadah yang disebut se'a tua. Sekarang aku baru
mengerti mengapa Reko disebut masyarakat di kampung sering membuat keresahan.
" Jadi menurutmu ideologi yang bagaimana yang cocok untuk negeri
kita?"
" Aku punya sejumlah teori. Pertama bentuk negara ini harus diubah menjadi
Negara Indonesia Serikat. Dengan demikian wilayah-wilayah di seluruh Indonhesia
membentuk negara bagian. Kedua, negara-negara bagian itu membangun negaranya
sesuai dengan ideologi agama mayoritas. Ketiga, pemerintah pusat hanya mengurus
sumber daya alam dengan pembagian keuntungan duapuluh lima persen untuk pusat
dan tujuhpuluh lima persen untuk negara bagian"
" Kau yakin negara bagian itu bisa membiayai diri sendiri?"
" Mengapa tidak bisa teman? Lihat potensi alam kita ini. Tanaman
perdagangan, potensi pariwisata alam dan budaya, potensi laut yang kaya raya
semuanya berlimpah. Saya memimpikan pulau kita ini menjadi negara bagian. Dan
saya yakin kita akan makmur dan sejahtera"
Aku nyaris tak bisa berbicara. Ingin meletupkan tawa tetapi aku harus
menjaga suasana agar Reko tidak tersinggung. Aku tahu tabiat Reko yang cepat
naik darah. Ia sangat emosional dan tak tanggung-tanggung bermain parang.
" Jadi kau yakin kalau pulau kita ini jadi negara bagian dengan ideologi
agama mayoritas, rakyatnya hidup sejahtera?"
" Aku sangat yakin. Pulau kita ini punya segalanya. Tak ada yang
kurang."
" Asal tahu saja, anggaran pendapatan dan belanja daerah sumber utamanya
masih dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Artinya hampir seluruh
daerah kabupaten di pulau ini disusui oleh anggaran dari pusat. Kalau mau
menjadi negara bagian, dari mana sumber pendapatan?"
" Kita bangun industri, kita bagun pabrik-pabrik. Kita bangun hotel-hotel,
jalan layang, lapangan udara."
" Terus uangnya dari mana?"
" Ah, anda ini merantau di Jakarta tetap cara berpikirmu masih tertinggal.
Ini era berpikir cerdas. Saatnya buat terobosan dengan konsep-konsep brilian.
Salah satunya memecahkan Indonesia menjadi negara-negara bagian. Semua negara
bagian mengelola negaranya berdasarkan agama dan budayanya sendiri."
" Memang kau merasa gampang?"
" Ah, sudahlah. Percuma berdiskusi denganmu. Asal kau tahu, aku akan berjuang
untuk mendirikan negara bagian Flores dan ideologi negara bukan pancasila
tetapi Cinta Kasih."
" Berarti kau akan menjadi pengkhianat bangsa"
" Terserah mau bilang apa padaku. Tekadku sudah bulat, berjuang untuk
menjadikan Flores negara bagian. Bila perlu merdeka dan menjadi negara
berdaulat. Negara Kesatuan Flores dengan ideologi Cinta Kasih."
" Kau akan menjadi pngkhianat"
" Terserah siapa mau mengatakannya. Termasuk kau"
Ia mencocok jari telunjuk pada hidungku. Sementara aku meledak tertawa. Menertawai Reko yang seperti lebai malang. Reko yang merasa gampang membangun sebuah negara cukup dengan berkhianat. Lalu Reko meneguk moke di se'a tua dan melangkah pergi. Membawa cita-citanya untuk mendirikan negara bagian Flores dan negara yang ia bangun itu berideologi Cinta Kasih. Aku menatapnya sampai ia hilang di kelokan jalan.
Diskusi dengan Reko tadi sore yang membuatku gelisah sehingga sulit memejamkan mata. Aku bukan takut Reko akan benar-benar berhasil membangun negara bagian Flores tetapi aku merasa fanatisme manusia Flores terhadap NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika dikotori oleh kehadiran seorang bernama Reko. Sebab aku tahu masyarakat kampungku dan semua orang di Flores yang mayoritas katolik menjalani hidup berbangsa dan beragama merujuk pada filosofi pahlawan nasional Albertus Soegiyoparanata, seratus persen katolik seratus persen Indonesia, pro ecclesia et patria, untuk gereja dan negara.***
Denpasar, 1 Juni 2018
Hari Lahir Pancasila
Komentar
Posting Komentar