ORANG GILA INTELEK

Cerpen:
Agust G Thuru

Matahari  hari ini belum nongol dari ufuk timur. Itu aku tahu dari  sepotong kain jendela di ruang kerjaku  yang sederhana. Kain jendela warna hijau itu  entah mengapa sobek. Aku sampai berhari-hari harus mencari tahu kepada semua penghuni rumah apa yang menyebabkan kain jendela itu  sobek. Tapi tak seorangpun tahu.

Kupikir mungkin  si kucing belang satu-satunya peliharaan di rumah yang telah membuat kain jedela itu sobek. Tapi sia-sia untuk meminta kejujurannya  karena ia hanya seekor kucing.Kain jendela hijau itu memang  sangat berperan karena  dapat melindungi harta karun di ruang kerjaku dari pandangan  orang lain. Meskipun harta karunku itu hanya  seperangkat computer, koran-koran bekas dan buku-buku kumal. Ada sebuah kitab suci Injil yang selalu kutimba inpirasi dari lembar-lembar dengan tulisan kecil. Juga ada sobekan-sobekan kertas hasil  wawancara  atau catatan-catatan  saat meliput sebuah peristiwa. Lalu  dua hari lalu si sulung menitip salonnya di ruang kerjaku  dan si bungsu menitip gitar still  warna hitam. Maka penuhlah ruang kerjaku yang hanya  berukuran dua meter kali  dua meter.

Tetapi ruang kerja  yang sempit ini sungguh penuh kenangan. Hampir sepanjang karirku sebagai jurnalis  aku habiskan waktu  membaca dan menulis di ruang  kerja yang sempit ini. Itu aku lakukan  setelah  semua penghuni rumah  mungkin sedang mendayung sampan mimpinya  entah menuju kemana karena hanya mereka yang tahu. Kadang-kadang sampai larut  malam  aku memainkan dua ujung jariku di atas  tust-tust laptop. Sampai  sekarang  aku memang dapat mengetik  dua  jari saja yakni jari telunjuk kanan dan jari tengah kiri. Tetapi kecepatannya melebihi mereka yang dapat mengetik sepuluh jari. Kadang-kadang aku  mengetik masih terbawa dengan  gaya mesin ketik di jaman aku kuliah dulu. Bahkan ketika  sejenak menghuni Seminari Ritapiret  mesin ketikku tetap menghasilkan  tulisan-tulisan. Memang di tempat manapun  aku tak bisa  tak menulis.

Di subuh ini  Cicilia  istriku  ternyata belum juga  memenuhi janjinya  untuk menjahit kembali  kain jendela yang sobek itu. Pada hal dua minggu lalu ia sudah membeli satu gulung benang hijau dan satu dos  jarum. Cicil memang sibuk  sebagai ibu rumah tangga. Ia juga bekerja  sebagai  penyapu  sebuah kantor pada jam empat pagi sampai jam tujuh pagi. Setelah itu  ia pergi ke beberapa sekolah dasar internasional  untuk mengajar agama katolik. Ia guru honorer dengan  gaji kecil. Aku pernah menyuruhnya berhenti tetapi  ia mengatakan akan mengajar terus karena yang diajarkannya  adalah pelajaran agama. Ia ingin mengambil bagian  dalam upaya membentuk karakter  membanggakan  anak-anak bangsa.

Kata-kata Cicil ini  terngiang kembali  di pagi ini. Di pagi  yang mengawali sepanjang hari ini yang mungkin akan sangat hiruk pikuk. Sebab  hari ini  ada pesta demokrasi di hampir setengah  dari jumlah kabupaten dan kota serta provinsi  di Indonesia. Di Bali  ada lima kabupaten dan satu kota yang menyelenggarakan Pilkada  hari ini. Di provinsi asalku NTT  juga ada kabupaten-kabupaten  yang menyelenggarakan pesta demokrasi itu. Bahkan di kabupaten asalku Ngada  gelaran  pesta demokrasi Pilkada  sudah hangat  sejak gong kampanye  ditabuh beberapa bulan lalu.
“ Oh ya Mas, maaf ya, belum sempat menjahit kain jendela yang sobek”, suara Cicil  mengejutkan  aku dari lamunan.
“ Untung belum dijahit”, jawabku.
“ Lha, katanya harus dijahit  supaya  orang dari luar jangan  sampai melihat harta karun di ruang kerja”, jawab Cicil  sambil meletakkan  segelas  kopi di atas meja kerjaku.

Cicil memang rutin membuatkan kopi susu untukku  setiap pagi. Ia nyaris tak pernah mengeluh meskipun  sepanjang 23 tahun  biduk perkawinan kami  diterpa  gelombang bahkan  gelombang yangsangat dasyat.
“ Tapi jangan takut Mas, nanti setelah pulang dari TPS  aku jahit. Pokoknya  beres”, ujar Cicil.
“ Seandainya  kain jendela yang sobek itu  sudah dijahit aku tak akan bisa melihat  hari ini  di luar jendela. Tapi hari ini  aku melihat  bukan saja matahari tetapi wajah-wajah orang yang kuyup, lusuh dan loyo bahkan yang berlarian telanjang  bulat  tanpa sehelai benang di tubuhnya”, aku meneguk kopi.

Cicil memandangku. Aku tahu ia tak mengerti maksudku. Ia  susah untuk membaca jalan pikiranku. Tetapi ia juga gemar bertanya-tanya  sesuatu yang ia tak mengerti. Ia  ingin mendapat penjelasan, sama seperti ia menjelaskan  pelajaran agama  kepada muirid-muridnya.
“ Maksudnya  apa, Mas?”
“ Hari ini  adalah titik pertama  dimulainya  sebuah jalan hidup  bagi mereka yang  turut bertarung di Pilkada. Kalau menang  akan bekuasa lima tahun ke depan”
“ Kalau kalah?”
“ Akan ada  yang  mungkin menjadi orang gila intelektual, penganggur  intelektual. Bagi mereka  yang swasta  tak masalah  karena meskipun kalah Pilkada  tetap masih  ada job pekerjaan. Tapi yang mengundurkan diri dari  legislatif, guru, pegawai negeri, mereka akan  menjadi penganggur intelektual”
“ Segitu parahnya  ya Mas”
  Tentu  tidak semua yang  jadi penganggur  apa lagi orang gila intelektual. Tapi  berbagai kisah pilu calon anggota DPR dan calon kepala desa  yang kalah bertarung  dan  menjadi gila itu banyak. Mereka tidak kuat menanggung beban.”
“ Memangnya  jadi calon  itu  penuh beban?”, tanya Cicil.
“ Oh ya, penuh beban ekonomis dan psikologis. Coba  engkau bayangkan Cil, untuk nyalon  ia harus minjam duit  di koperasi atau di bank. Jumlahnya  tidak kecil, bisa mencapai  satu  atau dua miliar. Poin yang ini saja sudah buat pusing, belum lagi  yang lain”
“ Misalnya  apa lagi, Mas?”
“ Yang mundur dari kursi DPR atau PNS  akan kehilangan pekerjaan, kehilangan gaji bulanan, kehilangan fasilitas negara  yang diberikan kepadanya. Ia kembali  menjadi orang kebanyakan, rakyat biasa. Nah, karena  rasa malu, tidak disanjung-sanjung lagi,  tidak dihormati lagi jiwanya terguncang. Dan ia bisa saja berlarian telanjang bulat  di sepanjang jalan sambil berteriak-teriak histeris.”
“ Ah, itu hanya  tafsiran  seorang penulis sepertimu Mas. Belum tentu terjadi”, ujar Cicil  lalu meninggalkan  ruang kerjaku sambil mengingatkanku untuk segera meneguk kopi sebelum  menjadi dingin.

Cicil mungkin benar, yang kutulis ini hanyalah bahasa seorang penulis. Tetapi aku dapat membayangkan  apa yang akan dilakukan oleh para calon yang kalah  berkompetisi dalam Pilkada  tahun ini. Kalau ia pegawai negeri, syukur kalau masih  diberi toleransi  pensiun dini. Kalau ternyata perlakuan sama  seperti yang diamanatkan undang-undang  bahwa  yang ikut pencalonan harus mundur dari pekerjaannya  berarti  seorang pegawai negeri juga kehilangan  haknya. Seorang anggota  legislatif pun  tak luput dari  amanat undang-undang Pilkada, mereka harus mundur.

Dari kain jendela yang sobek aku  seperti sedang menyaksikan  para calon yang kalah tanding  itu berlarian telanjang  di halaman pondokku dengan  tubuh yang kumal tak terurus. Yang lain  berjalan kaki  terseok-seok  karena  setelah kalah  menjadi stress  dan strok. Yang lain lagi  berjalan kaki  tanpa menggunakan mobil mewah karena  selain telah ditarik oleh pemerintah juga harta bendanya  sudah dijual untuk mengembalikan hutang di koperasi atau di bank. Yang lain lagi  terpaksa  menjadi pengemis dan hidup terlunta-lunta.

Lalu  aku terkejut  ketika Cicil  menepuk  pundakku. Ia  memandangu  sambil tersenyum.
“ Sudahlah Mas, hentikan  imajinasimu itu. Sekarang mandi, siap diri untuk ke tempat pemungutan suara. Sebab  kita  harus memilih satu pasang, bukan  yang terbaik tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa. Itu lho, baca di postingannya Mas Paul Maku Goru yang mengutip  wejangannya Pater Frans Magnis Suseno”
“ Oh ya, hampir lupa dan asyik mendayung sampan imajinasi, meski belum sampai di pelabuhan Waesugi”

Dan  kata-kataku itu menjadi baris penutup imajinasi liar ini. Kupikir  aku harus menegaskan  bahwa  aku hanya  membayangkan, mungkin saja bisa terjadi atau tidak sama sekali. Aku tak ingin menyebut namamu. Dan agar  engkau  juga paham bahwa bukan engkau yang aku maksudkan.***

Denpasar, 9 Desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU