NYEPI DELAPANBELAS
Ini nyepi kedelapanbelas
Sejak jiwa ragaku menyatu
Dalam pesonamu Bali
Sejak malam pertama pengrupukan
Aku terpana sorot mata tajam para ogoh-ogoh
Menembus jiwa manusiawi
Mungkinkah adharma svarupa
Bercokol dalam tubuhku
Mengikat kaki dan tanganku
Membalut lembar hatiku
Menjadikan jiwaku liar
Hingga mati rasa belaskasih
Pada sesama
Pada alam
Pada Tuhan Sang Hyang Widhi
Mengabaikan Trihita karana?
Ini nyepi kedelapanbelas
Sejak aku tak bisa membohongi diri
Jatuh cinta padamu Bali
Ketika tonggak pilihan kudirikan
Di tanah Dewata penuh pesona
Dengan warisan budaya leluhur
Yang memanusiakanku
Dan mengajarku untuk arif bijaksana
Meski aku sering mengkhianatinya
Ini nyepi kedelapanbelas
Untuk aku susun kembali
Benih-benih kasih sayang
Yang layu dibakar asap egois
Yang terpanggang nyala kedengkian
Yang tercabik-cabik kuku kerakusan
Yang terlantarkan nafsu kekuasaan
Aku mau kembali ke lubuk jiwa leluhur
Yang mewariskan kekuatan
Agar manusia dan alam raya
Tunduk pada kemahakuasaan
Sang Hyang Widhi
Ini nyepi kedelapanbelas
Waktunya pulang ke rumah sunyi
Untuk belajar kembali mendengar dengan hati
Suara rakyat yang meminta kepastian
Agar tanah leluhurnya jangan lagi digusur
Dan laut warisan nenek moyangnya
Jangan lagi ditimbun tanah kapur
Agar pantai tempat mengasoh leluhurnya
Jangan lagi dipagar dengan vila megah
Agar tanah setra jangan lagi digadai
Dengan lembaran dolar dari tanah seberang
Ini nyepi untuk kita semua
Kembali ke lubuk jiwa
Untuk menemukan luka-luka
Agar disembuhkan dengan pertobatan
Karena kita banyak salah
Pada bumi yang kita diami
Pada sesama yang kita abdi
Dan pada Tuhan yang kita sembah
Ini nyepi yang indah
Untuk bermetanoia.***
Denpasar, Malam Nyepi 9 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar