MATAHARI PERTAMA 2016




Dari pantai Sanur kutangkap
Matahari pertamaku  di tahun monyet api
Seribu mata menatap anggunmu menyapa dunia
Menyapa Indonesia
Apa kabar anak bangsa  di tahun lalu?
Kulihat  matahariku menggugat
Membentangkan lembar-lembar dengan tulisan hitam
Yang  selalu setia dicatatnya
Pada setiap detik tahun kambing kayu
Dan matahari  bermata sembab
Meratap  bumi yang kehilangan adab
Menangisi kebiadaban atas umat manusia

Matahari  pertama menggugat
Mungkinkah  kau juga  merasa
Ia menggiringmu  menyusur  lintasan
Pada tigaratus enampuluh lima hari
Dan engkau mungkin pelakunya
Atas beribu kekerasan fisik
Beribu kekerasan psikis
Beribu kekerasan seksual
Beratus kekerasan  ekonomi


Matahari pertama
Berbalut wajah penuh cemooh
Pada kemunafikan manusia
Atas deretan cacatan buram
Pelanggaran hak asasi manusia
Peraturan daerah diskriminatif
Eksekusi mati terpidana narkoba
Pembatasan kebebasan beragama

Matahari pertama  menggugat mengapa di negerimu
Berkeliaran  Ormas-Ormas berjubah  putih
Mengejar  sesama dan membunuh
Sambil berteriak: Demi Tuhan!
Mengapa  petinggi  daerah
Membolehkan  rakyatmu membakar Gereja
Membakar mesjid  atau rumah ibadah lain
Mengapa  pejabat menyulitkan pendirian rumah Tuhan
Mengapa pancasila hanya sekedar tema orasi
Mengapa  toleransi agama sekedar kata-kata  pidato

Matahari pertama dari Pantai Sanur
Menggugat Indonesia
Mengapa kau biarkan pantai  suci
Menjadi alas tidur manusia bumi  setengah telanjang
Mengapa  gunung-gunung  sakral kau jadikan  istana
Demi menyenangkan para pelancong
Mengapa sungai-sungai  kau kotori dengan sampah
Dan mengapa teluk-teluk  kau timbun jadi pulau?

Di pantai Sanur aku menyapa matahari pertama
Mari, saksikan jalan lintasan  kami
Mulai  hari ini kutancap tonggak perjanjian
Untuk  membangun hidup penuh keadaban
Kuharap kau  akan selalu menemani
Mencatat  tapak-tapak kaki pesiarah
Agar di ujung  siarah  nanti
Ada yang bisa  kubacakan
Dan kau matahari pertama berikutnya
Berdecak:  Negerimu  telah beradab!.***

Denpasar, 1 Januari 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU