MALAM DI TEGAL ARUM
Di gelap malam tak ada listrik negara
Langit di bumi translok
Tegal Arum memayungku
Rindu kampung di lereng
gunung
Di timur tempat esok hari
matahari kembali
Aku sudah melanglang terlalu
jauh
Meski tetap kutitip rindu
Padamu mata bening
Yang pernah kutangkap di kelas Jaramasi
Sebatang lilin menyapaku
Yang melebur diri jadi keabadian
Pada penyerahan yang
sudah dianggap biasa
Kutangkap aroma nafasmu
Dari potret diri yang kau kirim untukku
Di sunyi malam
Tegal Arum
Kueja namamu: Yuliana!
Adakan engkau merinduku?
Malam-malam di Tegal Arum
Kudengar nyanyi burung
malam di hutan karet
Ketika lilin makin lebur
berserah
Ah…seandainya kau punya
nafas
Mungkin kau akan meradang
Menerjang setiap mahluk
Yang bersandar pada
temaran cahayamu
Malam ini kau kubutuhkan
Di cahaya dian yang syahdu
Kueja setiap gores penamu
Pada lembar surat
bergambar hati
Tak ada kata cinta
Pun tak ada ungkap sayang
Tapi wajahmu dalam dandanan sukmaku
Aku semakin terbalut sunyi
Di kecamuk rindu padamu
Di kamar belakang kapel
Kucoba memotretmu
Yang berlari di pantai
Ena Lewa
Dan menyibak rambut di pantai
Wae Waru
Ah, ini rindu jauh berbatas samudera
Berpagar seribu gunung
menjulang
Berbenteng sejuta
bukit membaja
Mungkinkah malam ini
engkau gelisah
Seperti aku di sini?
Malam-malam di Tegal Arum
Aku menengadah ke langit
Butir-butir bintang semakin
menjauh
Dan engkau seperti bintang yang
terus terbang
Menjauh dari tapal batas
Hingga tak tergapai lagi
Kuharap kau tetap
menunggu
Sampai aku pulang
Dan kita berdua mengidungkan
cinta
Di Tegal Arum
Malam-malam yang
bersahaja
Tapi rinduku adalah luapan
mata air
Yang tak bisa
dibendung kawat baja
Rindu yang terbang liar
Aku mengeja lagi namamu: Yuliana!
Selamat malam dari bumi
Ogan.***
Tegal Arum Oktober 1983
Di Tepi Sungai Ogan
Perempuan berendam di air keruh
Melambaikan tangan
Dan ia berkata: Aku mau ke muara
Untuk sejenak memandang laut lepas
Karena di kota ini aku
merasa pengap
Sebab matahariku semakin redup
Kulihat ada air mata
Menempel di sudut matamu
Ketika kau pandang lebih
tajam
Menikam jiwaku
Dan kau berkata: Aku ingin ke hulu
Menimba air bening dari sumbernya
Untuk kuaduk dengan air
jiwa
Agar menyuburkan cinta
Sudahlah, kau harus tahu
Aku hanya petualang
Sejenak mengasoh di sini
Dan setelah matahari terbenam
Aku akan hilang di hening malam
Pergi lagi entah kemana
Meski aku membawa
kenangan
Pernah berdiri di sini bersamamu.***
Baturaja, Januari 1984
Komentar
Posting Komentar