LELAKI BERTATO



Cerpen: Agust G Thuru

Aku mengenalnya duapuluh tahun lalu ketika sama-sama bergabung dalam sebuah organisasi masyarakat. Ia bertubuh kekar dengan tinggi hampir seratus delapanpuluh sentimeter. Dengan postur tubuh yang kekar itu ia tampil sebagai pria atletis, berotot dan disegani.

Ditambah lagi dengan wataknya yang keras dan suaranya yang berintonasi tinggi ia menjadi satu-satunya lelaki yang ditakuti oleh anggota ormas yang lain. Apapun persoalan yang dialami oleh anggota ormas kami terutama yang bersinggungan dengan kelompok ormas lain pasti tak akan berbuntut panjang cukup dengan menyebut namanya. Makanya bertahun-tahun kami cukup nyaman berada di kehidupannya.

Kekekaran tubuhnya dan intonasi suaranya yang terkesan tegas disempurnakan dengan hiasan tato di sekujur lengan, dada dan betis. Tato bergambar tengkorak, pedang, belati dan ular kobra menjadikan dirinya benar-benar monster yang ditakuti. Tak seorangpun bisa tahan berhadapan dengannya. Bahkan, bila anggota Ormas lain bertemu dengannya, mereka memilih menghindar. Sebab tatapan mata lelaki bertato dan kekar itu seperti mata tombak yang langsung menembus ulu hati.

Persahabatanku dengannya berawal dari sebuah kegiatan sebuah Ormas yang menentang rencana penggusuran sebuah pemukiman kumuh di kota tempat kami tinggal. Waktu itu aku sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa dengan idealisme membela rakyat kami turun ke jalan melakukan demonstrasi. Dan di saat yang sama sebuah Ormas juga turun ke jalan melakukan demo menentang kebijakan yang sama seperti kami suarakan. Kamipun berkolaborasi. Bergantian menyampaikan pidato hingga waktunya jedah.
Di saat jedah lelaki itu mendekatiku. Sorot matanya tajam seolah menembus ulu hatiku. 

Melihat tubuhnya yang penuh tato nyaliku ciut. Jujur aku sangat tidak nyaman berhadapan dengan lelaki bertato apalagi berbadan kekar. Kisah-kisah berbagai kriminal dilakukan oleh pria bertato membuat aku terbawa pada perasaan generalisasi bahwa lelaki bertato pasti berhati tak bersahabat dan suka melakukan tindakan kriminal. Ia menyodorkan tangan sambil menatapku.
" Kenalkan, nama saya Gegoge", ujarnya.
" Oh...saya Guguge"
" Hampir mirip eee, nama kita ini"
" Iya bang"
" Asli Timor ko"
" Betul"
" Aku aslin Jawa. Dan ia tersenyum.

Lalu aku dan Gegoge menjadi akrab. Kami pun ngobrol soal penggusuran. Gegoge punya pendapat bahwa semua orang harus membela rakyat kecil. Sebab rakytat kecil benar-benar ditindas. Pejabat dan para wakil rakyat hanya getol menjual nama rakyat miskin untuk mendapat bantuan dari pusat setelah itu uangnya dikorupsi. Tahun berikutnya menjual lagi rakyat miskin dan dana bantuan pun digelontorkan. Juga kemudian dikorupsi.
" Jadi tugas kita adalah membersihkan negeri ini dari para koruptor. Meskipun taruhannya adalah penjara. Atau bisa saja menghembuskan nafas terakhir di moncong senjata aparat."
" Benar bang. Ini Orde Baru, orde dengan intimidasi dan ketakutan. Orde dimana kita harus siap-siap dipenjara kalau ingin bersuara lantang".

Sejak itu kami bersahabat. Tapi setelah lima tahun aku meninggalkan Madiun. Kembali ke Flores dan bekerja pada sebuah instansi sebagai pegawai negeri sipil. Menikmati birokrasi Orde Baru dan akhirnya menghirup udara reformasi.Beberapa kali aku ke Madiun dan sempat bertemu dengan Gegoge. Ia masih kekar, masih bertato dan masih lantang. Ia masih tetap kritis dan ditakuti. Tetapi lima tahun terakhir aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Hingga hari ini, ketika aku berdiri di tepi ranjang menatapnya. Ranjang pasien di RSU Madiun.

Kulihat tatapan matanya yang sayu. Tak ada kegarangan. Tak ada lagi tubuh yang kekar. Semuanya sudah berubah. Kulit tubuhnya mengkerut. Tulang-tulangnya menonjol keluar. Ia benar-benar sangat kurus.
" Kanker paru-paru telah membuatnya tak berdaya", ujar istrinya.
" Apakah karena ia merokok?"
" Ia merokok, kopi dan menuman keras. Mengonsumsi arak hampir setiap hari. Tiada hari tanpa mabuk."
" Sudah berapa tahun ia menderita?"
" Tiga tahun. Yah, sekarang tinggal menunggu apa yang akan terjadi esok, lusa atau minggu depan".

Aku berusaha untuk berkomunikasi dengan sahabatku Gegoge. Tapi ia sama sekali sudah tak bisa mengenal siapa saja. Ia pun tak bisa bersuara. Ia benar-benar kehilangan tenaga untuk berbicara. Gegoge hanya menggerakkan jarinya, seolah memberi isyarat bahwa di masa muda ia menyia-nyiakan kehidupan. Di masa muda ia terlalu bangga dengan tubuh yang kekar dan merasa seolah-olah tak ada masa tua atau saat-saat ia bisa sakit seperti sekarang ini. 

Sekarang bang Gegoge sungguh tak menakutkan. Bahkan tatonya pun sama sekali tak membuat nyaliku ciut. Yang kurasakan saat ini adalah kesedihan karena sahabatku mendapat bagian untuk menderita. Kelak suatu hari mungkin aku akan mengalaminya. Tapi aku ingin mati tanpa satu titik tato. Bukan karena aku benci pada tato, tetapi aku ingin pulang utuh seperti saat aku datang dari rahim ibu.***

Gedangsari Baleharjo, Wonosari, Gunung Kidul Jogyakarta, 3 Agustus 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU