LAMENTASI DI BAWAH POHON BERINGIN



(Kepada Teman-Teman Kader Golkar Ngada)

Aku ingat masa kecil
Di kampungku Maghilewa
Di  lereng gunung ibu sejati Inerie
Beringin  bertubuh kekar di gerbang masuk
Dahan-dahan berlumut  usia tua
Akar-akar  liat menopang hingga ke liang bumi
Di bawah rindang dedaunannya
Anak  perempuan berman jedho watu (lompat batu)
Dan anak laki-laki bermain maka (gasing)
Hingga  matahari  condong ke barat
Kami harus ke Waetena
Untuk mandi dan membawa pulang air
Pada seruas bambu bernama leko

Pohon beringin yang kekar
Tumbuh sebelum aku lahir
Entah tangan siapa yang menanam
Atau mungkin alam yang memberi kehidupan
Atau leluhurku meniupkan ruh nafasnya
Lalu benih beringin itu tumbuh
Menjadi rumah sejuta gagak
Tempat rajawali meletakkan sarang
Rumah menginap burung pergam
Istana bagi burung nuri bercinta
Untuk melahirkan  anak cucunya
Generasi orangtuaku mewariskan kisah
Beringin itu sudah tegak di poros bumi
Saat mereka dilahirkan

Beringin itu menjadi pohon kebanggaan
Kokoh tak tergoyahkan oleh kuasa badai dan taufan
Angin dasyat dari timur dan barat
Tak mampu merobohkannya
Angin gunung dan laut
Tak kuasa membuatnya tercabut
Ia kokoh seperti tubuh ibu sejati Inerie
Keras  seperti batu cadas di Waenabe
Tak tergoyahkan seperti Watu Saja
Meski di rentang jamannya  diterpa gelombang
Birunya Laut Sawu di pantai Waesugi

Ini kisah sebatang beringin di Maghilewa
Yang kejayaannya lenyap
Bukan karena  angin badai dan taufan
Atau gelombang laut pantai selatan
Tetapi di usia yang rapuh
Ditinggal pergi oleh sejuta gagak
Dilupakan seribu pergam
Dikhianati  sejuta burung pipit
Pohon beringin di gerbang kampungku telah roboh
Yang masih tertinggal adalah puing-puing
Menelan semua kisah masa kejayaannya


Beringinku…..oh beringinku!
Usailah sudah kisah masa kejayaanmu
Dirongrong oleh burung penyinggah
Yang penuh kepura-puraan
Terbang dari ranting-ranting lain
Menyinggah  sejenak berwajah malekat
Tapi hatinya busuk  bernanah
Memberaki  daun-daun dan ranting-ranting beringin
Lalu terbang  ke dahan pohon lainnya
Di sana ia menyandungkan kisahmu
Katanya: Beringin itu telah lapuk
Tinggal menunggu kapan roboh
Dan selesailah  masa kejayaanmu
Ah…kusudahi lamentasi ini
Kuharap  sejuta burung  mengerti dirinya sendiri
Penyinggah sejati  atau pengkhianat

Aku masih punya harapan                                     
Beringin di gerbang (bata) Maghilewa masih  bertunas
Mungkin seratus atau duaratus tahun lagi
Kejayaan beringin akan terpancar kembali
Ketika kita semua sudah tiada.***

Denpasar, 2 Januari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU