KETIKA TEROR BOM KEMBALI LAGI




Aku muak melihatmu
Berkoar-koar di layar televisi
Kau kibarkan  pamor dirimu sebagai pengamat
Setiap bom meledak di negeri  ini
Kau bicara  apa yang kau tahu tentang teroris
Tanpa  bisa kau berikan  solusi
Bagaimana menghentikan kebrutalannya
Orang-orang yang memangsa anak bangsa sendiri

Kau terlalu banyak bicara
Mengungkap fakta di balik  kejahatan teror
Kau bilang terror bom di gereja tempo hari
Bom balas dendam
Katamu karena Gereja di Jakarta
Memasok senjata  ke konflik Ambon
Hei pengamat  kau tak usah mengipas-ngipas
Jangan-jangan kau juga teroris itu

Aku muak melihat  kamu berlagak pintar
Tahu segala rahasia di balik kebiadaban
Sedang   terror bom  terus menjalar
Bali  diluluhlantakkan  dua kali bom dasyat
Ratusan orang  tak berdosa
Gugur meregang nyawa
Jakarta  dikepung  terror bom puluhan kali
Nyawa orang tak berdosa  jadi taruhan
Poso  dihajar bom  membawa malapetaka
Teror bom merajalela di seantero negeriku

Dan hari ini  kebiadaban itu kembali
Menghajar  wajah ibu kota negara
Polisi  gugur bersimbah darah
Warga sipil anak negeri kehilangan nafas
Aku  lelah  menyaksikan  sejarah darah
Yang selalu  berulang  kembali datang
Masih adakah  para penjaga keamanan
Masih adakah  lembaga intelijen
Masih bisakah  aku menaruh harapan
Untuk  berdiam  di negeri tanpa  ancaman

Bapak Presiden yang terhormat
Beri kami kepastian
Bahwa negeri kami  adalah firdaus
Tempat kami merajut cinta persaudaraan
Tanpa dendam dan amarah
Tanpa letusan senjata dan dentuman granat
Tanpa  ledakan bom bunuh diri dan ancaman senjata kimia
Beri kami  jaminan  hidup  aman
Di negeri  yang leluhur dapatkan dengan tebusan nyawa
Kami sudah muak dengan  kesesatan
Yang  merobohkan  harkat dan martabat kemanusiaan
Beri kami  hari-hari  yang indah
Tanpa  bayang-bayang wajah para setan
Yang  berkeliaran  bertopeng malekat.***

Denpasar, 14 Januari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU