KEPADA SEORANG WAKIL RAKYAT
Kau duduk di kursi Senayan itu
Berkat kumpulan suara kecil
mereka yang jelata
Kau jadi pejabat berdasi gagah
dan perkasa
Karena nurani jelata dekil yang
memberi suaranya
Kau bisa menikmati fasilitas negara
Karena nurani orang kecil yang memilihmu
Ketika engkau datang
merayu-rayu di panggung kampanye
Menebarkan janji-janji indah semanis
hati
Dan para jelata terpesona dan
terpana
Mereka putuskan: Kaulah
wakilku!
Kau melangkah mulus ke gedung
Senayan
Naik pesawat kelas ekslusif
Tidak lagi naik Awu atau Tilong
Agar sama-sama satu perjalanan dengan para jelata
Kau dapat fasilitas rumah dan
mobil
Sedang jelata yang memilihmu
jalan kaki tanpa sandal jepit
Kau pulang kampung naik mobil mewah
Kacanya tertutup rapat takut debu masuk matamu
Tanpa lambaikan tangan pada
para jelata
Yang terpanggang terik mentari
Itulah kau sekarang sahabatku
Kau benar-benar telah berubah
Kau diam membisu ketika jelata
yang kau wakili
Susah uang untuk operasi sesar
istrinya melahirkan
Kau bisu ketika jelata yang
memilihmu
Terperangkap kemiskinan
tanpa temukan jalan keluar
Kau sembunyi muka ketika
orang-orang kecil pemilik suara
Datang ke gedung pengadilan
minta keadilan hukum
Kau nyaris tak bersuara ketika
para jelata
Terperangkap pada kerasnya
alam pembawa bencana
Kau ada dimana teman?
Kau diam saja ketika para penderes tuak dilarang
mencari nafkah
Dengan menyuling nira lontar jadi arak berkadar alkohol
Kau sembunyi muka ketika pedagang kecil dilarang
jual bir
Kau nyaris tak
berteriak-teriak karena mungkin
sudag gagu
Ketika dagangan miras mama lele
disita polisi
Kau sibuk berdebat di gedung
dewan
Membentuk panitia khusus dan bersidang berhari-hari
Dan merekomendasikan: Ganti
Menteri!
Giliran dagangan miras milikmu dan keluargamu
Dan konco-koncomu disita polisi
Kau baru meradang menerjang
bersuara garang
Kau daraskan bait-bait caci maki
Ciptakan kata-kata cacian
yang menyakitkan
Tebarkan ancaman dan
berlagak jagoan
Sambil tepuk tangan: Lu sonde
tau aku DPR!
Kau berteriak: Kembalikan
Mirasku!
Dan polisi pun menurut
Pada episode ini
aku katakan padamu
Aku sedih dan puyeng mengerti
hukum masa kini
Mau jadi apa sudah negeri kita
ini?***
Denpasar, 5 Januari 2016
Komentar
Posting Komentar