KEPADA SEORANG HAKIM
Di tanganmu negara menyerahkan
palu kehormatan
Untuk kau gunakan dengan arif
bijaksana
Menentukan salah dan benar
sebuah perkara
Di tanganmu nasib
pelaku hukum ditentukan
Ia kau bebaskan seperti burung di alam luas
Atau kau jebloskan ke dunia
penjara yang pengap
Penuh kawat baja pengikat
kemerdekaan
Membuatnya tak bebas sebagai anak dunia
Di tanganmu kau memegang timbangan keadilan
Untuk mengukur seberapa besar salahnya
Dan menimbang seberapa besar benarnya
Kau dituntut untuk tak berat
sebelah
Kau seperti dewa yang maha tahu
Berapa besar dosa orang yang
kau adili
Nasib manusia ada dalam kepalan
tanganmu
Ketukan palu adalah mata sembilu mengiris jiwa
Menamatkan riwayat
kemerdekaan anak manusia
Untuk kurun waktu yang juga kau tentukan
Kau disumpah untuk mengadili dengan adil
Sumpah di hadapan Tuhan dengan
jemari ketulusan
Dengan tanganmu menempel pada kitab suci
Dan mendaraskan kata-kata: Demi
Allah aku bersumpah!
Kau dituntut adil seperti Tuhan
itu adil
Ia meminjam dirimu untuk mengadili hambaNya
Kau adalah
tangan Tuhan yang kelihatan
Untuk berlaku adil dan jujur pada nurani
Tapi yang kusaksikan
adalah tingkahmu
Yang membuatku muak dan
muntah-muntah
Sebab keadilan yang kau pertontonkan
Adalah keadilan yang menoreh
luka rakyat
Orangtua renta pencuri sepotong
kayu jati
Kau jebloskan ke penjara pengap
Pencuri ubi kayu
kau giring ke balik terali besi
Pencuri ayam kau penjarakan bertahun-tahun
Kau getol mengadili rakyat kecil yang buta hukum
Dan kau biarkan perkara
konglomerat koruptor kelas kakap
Berlalu bersama
waktu hingga ia mati
Membawa status “tersangka” ke liang kuburnya
Aku muak melihat kau memutuskan
perkara
Pemilik rekening gendut kau
bebaskan
Koruptor penjarah uang rakyat kau bebaskan
Pembunuh sadis kau jatuhkan hukuman ringan
Pemerkosa kau hukum ringan bahkan kau bebaskan
Penabrak orang hingga tewas
anak pesohor kau bebaskan
Mantan-mantan pejabat kau biarkan perkaranya berlarut-larut
Pengusaha perkebunan pembakar
hutan
Kau bebaskan dengan alasan:
Bakar hutan tidak melanggar hukum
Aku menyesal
punya hakim berjiwa brengsek
Aku muak menyaksikan tingkah
peradilanmu
Aku jenuh melihat kau
memperdagangkan hukum
Aku jengkel melihat kau tumpul
pada kasus hukum pejabat
Dan tajam pada kasus hukum para jelata
Aku meradang karena kau tidak
menjadi juru putus perkara
Seperti Sang Pencipta sumber
kebenaran inginkan
Kau setengah manusia setengah setan
Kau bekin rakyat makin tak percaya
Bahwa hukum adalah panglima
Di negeri kita Indonesia.***
Denpasar, 4 Januari 2016
Komentar
Posting Komentar