KEMATIAN MISTERIUS




Semalam kita duduk di alun-alun kota
Menikmati  sejuta  cahaya  bola pijar
Kau teguk satu botol bir
Untuk memulai  menutur kisah
Tentang engkau dan catatan hidupmu
Kau bilang: Aku ini anak Gali
Ketika aku  tak paham
Kau jelaskan lagi: Anak gabungan liar

Aku teringat  berita koran
Kisah tentang anak gabungan liar
Yang direkrut  oleh  tangan-tangan kekar
Yang  dibiaya untuk datang dari pintu ke pintu
Untuk sukses pesta demokrasi  bernama Pemilu 4 Mei 1982
Kamu mengacung  belati: Pilih Golongan!
Lalu  barisan kalian dikenal jadi anak-anak preman
Yang  ditakutidan disegani para jelata

Malam ini  kau tentu tidak sedang bersabda
Atau bertitah tentang ajaran norma para Gali
Yang pernah  dijamu  ribuan botol minuman keras
Dan dijejal segepok  uang haram
Tapi  di alun-alun kota engkau bernostalgia
Tentang  masa kejayaan preman suruhan
Menjelajahi lorong-lorong kota
Menerobos  sunyi malam di pedesaan
Untuk  memainhkan jurus-jurus  intimidasi
Dan kau akui: Karena  preman dibayar mahal

Tetapi  ini sebuah kenangan
Mengulang kenangan  berarti bernostalgia
Ketika  pesta  sudah usai
Para raja  menempati singgasana
Berpesta pora menghamburkan uang  rakyat
Membangun  nepotisme untuk korupsi berjemaah
Berkolusi untuk  mengais harta di atas keringat rakyat
Kau mengeluh: Anak gabungan liar ditinggalkan
Tak ada  lagi seribu botol miras
Tak ada lagi berjuta batang rokok
Tak ada lagi segepok  dana  anak preman
Sedang kamu terlanjur hidup enak
Kamu  menjadi kesepian

Di aluin-alun kota  engkau bernostalgia
Tentang engkau yang dekat dengan aparat
Dekat dengan pejabat  daerah
Tetapi  kehangatan telah berlalu
Kau ditinggalkan karena tak dibutuhkan lagi
Lalu  katamu:  Aku turun ke jalan  mengibar bendera preman
Merampok  atau mencuri  demi status
Agar  kekuasaan Preman tetap disegani
Engkau mendesah: Tak ada kejahatan dalam kamus hidup
Karena yang ada hanya kenikmatan dengan membunuh sesama
Akibat terlalu lama dipelihara  penguasa tanah

Kita pun berpisah di alun-alun kota
Ini menjadi malam terakhir kita bersulam
Kau katakan: Aku akan kembali ke desa
Menanam  tembakau dan cabe rawit
Sebab  rahim ibu masih harus  dibela
Dan kehidupan harus beranjak  berubah
Sekali waktu harus bangun
Dari  ranjang  mewah yang menyilaukan
Bertobat  dan bermetanoia
Kita berjabat tanganbersalaman: Selamat  malam sahabat!

Esok  pagi kubaca di koran
Sosok  mayat penuh tato terbujur kaku
Di hutan jati Rambipuji
Tubuh  kaku  penuh luka tembak
Darah membasah tanah kering
Tanganmu terkatup  seperti sedang berdoa
Menggenggam secarik  kertas
Bertuliskan kata-kata: Korban penembak misterius
Itu akhir  sejarah hidupmu sahabatku 
Dan gelar namamu  Bajing Lincah
Pasti akan terkubur oleh waktu
Karena dalam ketakutan  orang menjadi enggan
Bahkan untuk menguburkan  jasadmu
Kau  menjadi paling tak berharga di negeri ini.***

Jember, Juni 1984


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU