JEJAK (9)
Di Maghilewa
Kita telah menebus rindu
Dengan sejuta air mata
Menyiram tanah pusara di pusar
leluhur
Kita telah melantunkan sejuta kata
doa
Untuk menghantar
orang-orang terkasih
Menghadap Sang Ilahi
Kita
meniarap memeluk salibnya
Dan merindu ingin mengecup bibir
Sambil menikmati aroma keringat
Karena usai menyusur jalan setapak
Dari ladang di kaki gunung
Kau meluruh air mata jiwa
Aku
menumpah air mata hati
Kita
anak-anak yang hanya sekedar pulang
Menjenguk lalu pergi lagi
Tapi kita menoreh jejak-jejak
Di kampung sakral
yang damai
Tanpa peperangan dan tumpahan darah
Tanah yang kita rindu dari kota
Saat menyaksikan anak manusia
Menjadi srigala yang saling memangsa
Kita
saling menyapa dalam mimpi
Pulanglah jika kotamu sudah tak lagi
ramah
Dan kau benar-benar pulang
Tapi tidak ke tanah Rahim ibumu
Aku menyerah karena
kau punya pemilik
Yang
telah kau wariskan
Tapi
jika aku pulang ke Maghilewa
Akan selalu kubaca jejakmu
Di semua tanah warisan leluhur
Di kampung karya maha agung nenek moyang
Di Maghilewa jejak itu akan terus menyatu erat
Dengan debu dan batu-batu alam yang
disakralkan.***
Denpasar, 15 Juli 2016
Komentar
Posting Komentar